
Mora berjalan ke arah ruang tamu terlihat mama dan papa nya duduk sambil menonton tv, sedangkan di sana juga ada nenek nya yang ikut duduk. Sepertinya kehadiran nya itu di sadari oleh nenek nya sehingga wanita renta itu langsung melambaikan tangan nya menyuruhnya mendekat.
"Sini sayang" Mora tersenyum lalu duduk di samping nenek nya setelah memberikan kecupan singkat di pipi tirus sang nenek.
"Akh Mora kangen sama nenek, selama ini nenek susah sekali di temui karena jadwal padat Mora di kantor." Mora memeluk nenek nya dari samping, sambil melihat kedua orang tuanya yang tersenyum geli melihat nya yang manja pada sang nenek.
"Sayang kamu pulang lebih cepat ?" mama Mora bertanya sambil melihat ke arah pintu utama, seperti sedang menanti kehadiran seseorang.
"Nak Karel kemana ? kok kamu sendiri ?" tuh kan, tetap saja Karel yang di cari.
"Karel itu kekasihmu itu ya sayang, nenek mau ketemu dengan nya boleh ?" Mora menelan ludah nya, masalah nya dia sudah menyuruh Karel pulang tadi. Karena tak ingin laki-laki itu bertamu.
"Pasti dia meminta kekasih nya pulang" papa Abi berucap sambil menyuapkan keripik singkong ke dalam mulutnya, mata nya masih fokus memperhatikan layar tv yang menampilkan berita.
"Hem, dia kan juga sibuk pa, apalagi besok ada meeting." sahut Mora membela dirinya.
"Ya sudah jika dia kesini, lain kali bawa bertemu dengan nenek ya." Mora pun menganggukkan kepala nya.
Asisten nenek tampak menghampiri ruang tamu lalu memberitahu kepada nyonya besar jika sudah waktunya untuk istirahat.
"Sudah waktunya istirahat nyonya" sahut sang asisten dengan sopan.
"Padahal aku baru saja turun beberapa menit tadi" sepertinya nenek nampak engan untuk pergi ke kamar.
"Tetapi nyonya tidak boleh tidur terlalu larut" jawab sang asisten kembali.
__ADS_1
"Ya sudah aku akan naik, sayang nenek naik dulu ya" ucap nenek Mora sambil mengusap telapak tangan cucu pertama nya dengan lembut.
"Hati-hati nek, selamat malam mimpi yang indah ya" ujar Mora sedikit keras, ia memperhatikan nenek nya yang berjalan bersama di bantu asisten khusus nya.
"Mora mau ke kamar duluan ya pa ma, capek mau tidur" kedua orang tuanya mengangguk, lalu Mora pun berjalan menuju kamar nya.
Mora pun menutup pintu kamar mandi, gadis itu baru saja menganti pakaian menggunakan piyama lengan pendek, ia membersihkan ranjang nya sebentar sebelum mengistirahatkan tubuh nya yang lelah.
Setelah memastikan ranjang bersih, Mora kembali melangkahkan kaki menuju meja rias, ia menuang cleanser ke dalam tisu lalu mulai membersihkan wajahnya dari make up.
"Huh capek nya" ujar gadis itu sambil menyandarkan kepala nya di sandaran meja rias, secara perlahan mata nya pun mulai tertutup, tanpa sadar ia terlelap dalam keadaan duduk.
"Huh capek banget" di sebuah kamar nampak terlihat seorang gadis yang terlihat merenggangkan otot tubuh nya yang terasa pegal, ia baru saja mengerjakan tugas kampus yang menumpuk sehingga membuat nya harus merelakan waktu rebahan nya untuk mengerjakan tugas itu.
Dia adalah Alettha, gadis itu memang mempunyai cita-cita besar menjadi seorang dokter, tapi melihat study nya yang makin hari makin rumit membuat jadwal tidurnya tak pernah teratur.
***
Pagi harinya Mora sudah kembali di sibukkan dengan pekerjaan nya, berada di satu ruangan yang sama dengan Vino dan Karel yang juga nampak fokus membahas entah apa.
Sedangkan Mora sendiri, hanya diam mendengar sambil sesekali mengerjakan pekerjaan nya. Dia sama sekali tak berani memotong pembicaraan dua lelaki yang nampak serius itu.
Meski beberapa jam nanti Karel akan melakukan pertemuan dengan klien baru yang mengajukan kerjasama dengan perusahaan Ivander Group.
"Mora"
__ADS_1
"Iya" Mora segera saja menyahut saat tuan nya memanggil nama nya, merasa punya kesempatan untuk berbicara, gadis itu pun mengucapkan jadwal tuan nya.
"3 jam lagi ada jadwal bertemu dengan klien tuan"
"Iya, sebentar ya kamu siapkan saja semuanya, saya masih ada urusan dengan Vino." ucap lelaki itu, lalu mereka pun berdiri dan pergi meninggalkan ruangan. Membuat Mora melongo.
"Mau kemana sih" ujar Mora, gadis itu pun kembali merapikan ruangan Karel lalu setelah rapi ia pun keluar dari ruangan itu menuju ruangan nya.
Mora melirik jam di pergelangan tangan nya, setengah jam lagi klien datang, tapi Karel belum juga mendatangi ruangan nya, entah lelaki itu sudah kembali ke kantor atau belum.
Mora pun berdiri, lalu mulai kembali merapikan penampilan nya, mengoleskan lipstik sedikit ke bibir nya, gadis itu pun keluar dari ruangan nya sambil membawa dua berkas.
Ia berjalan ke ruangan Karel, mengetuk pintu berkali-kali namun tak ada suara yang mengintruksikan nya untuk masuk. Dapat di simpulkan bahwa Karel pasti belum kembali ke kantor.
Mora pun mengambil handphone nya dan mulai menghubungi nomor tuan nya, namun panggilan itu berada di luar jangkauan. Tak menyerah gadis itu menghubungi asisten Vino. Pada panggilan ke lima barulah asisten tuan nya itu mengangkat panggilannya.
"Kami dalam perjalanan menuju kantor" sahut laki-laki itu singkat, lalu mematikan telfon tanpa mendengar suara Mora.
"Hiss main di matiin aja, dasar kutub Utara" Mora menggerutu kesal, gadis itu pun kembali menaruh handphone nya di saku celana.
Drtt
Handphone Mora kembali berdering, itu adalah telfon dari meja resepsionis, untung saja ia sudah menghubungkan telefon di ruangan nya dengan telfon di hp nya, sehingga ketika ia tidak berada di ruangan ia tetap bisa menjawab telfon dari kantor.
"Iya ?"
__ADS_1
"Nona di depan ada tuan dari perusahaan **** apakah benar sudah membuat janji dengan tuan Karel." sahut sang resepsionis.
"Ah benar, saya akan segera turun ke bawah untuk menjemput mereka." sahut Mora lalu mematikan telfon nya dengan cepat.