IVAMORA

IVAMORA
Ucapan Selamat


__ADS_3

"Cie yang udah mau jadi bapak" Gilang menimpuk mulut Rafka yang tidak di filter itu, bisa-bisa nanti Karel di tuduh menghamili mora duluan.


"Mulut lo njg"


Karel mendesau kasar, ia menatap kedua temannya itu dengan datar.


"Ngga papa lah, gw mau kasih selamat ini"


"Tapi di filter itu mulutnya" seru Galang dengan gemas.


"Mana bisa mulut di filter, ngelawak lu"


"Udah" Karel angkat bicara, lelah juga mendengar suara berisik Rafka.


"Sorry ya rel, tau sendiri temen lu titisan setan" ucap Galang enteng yang mendapat tatapan datar dari Rafka.


"Ngerti kok"


"Apaan sih" Rafka langsung mencak-mencak saat mendapat bullyan dari dua orang itu. Bisa-bisanya mereka main keroyokan.


"Diem, bisa anteng dikit ngga" Galang memegang i kedua tangan Rafka yang terus mereog sedari tadi.


"Anjg"


"Diem" nafas Rafka sudah ngos-ngosan, ia langsung menepis wajah Galang yang terlihat menyebalkan baginya.


"Lu yang diam anak itik" seru Rafka menunjuk wajah Galang.


"Ck ngga usah ribut, kita mau kasih selamat"


"Udah-udah aku terima ucapan selamat nya, kalian boleh turun" mendengar itu semakin mencak-mencak lah rafka, sudah benar dia diam karena ingin memberikan ucapan terbaik malah di tolak dan di suruh turun.


"Oke-oke" Galang langsung menarik lengan Rafka sedikit keras, Rafka teriak kesetanan, membuat beberapa orang yang ada di sekitar tempat itu menatapnya aneh.


sementara Mora, gadis itu berjalan menghampiri sahabat lamanya, arsen dan yang lainnya. Gadis itu tampak senang karena ternyata, semua temannya datang. Dia jadi bertanya-tanya siapa yang menyiapkan ini semua, padahal kemarin hari terasa sangat buruk.

__ADS_1


Dan apa tadi ? Karel bahkan terlihat tidak membenci nya, tatapan mata penuh kecewa yang kemarin Mora lihat hilang tak lagi dia temukan di mata laki-laki itu.


"Hai guys" Mora tersenyum lebar, ia menatap teman-temannya dengan antusias.


"Cie, udah nikah aja lu" Naura menyenggol lengan Mora dan meledek gadis itu.


"Ngga nyangka temen kita yang katanya ngga mau mikirin cowo dulu, eh tau-tau malah nikah" ucap arsen, laki-laki itu ikut membantu Naura meledek Mora. Sedangkan Mora ? wajah gadis itu sudah memerah, karena merasa malu.


"Berarti Mora kalah ya, dia udah laku duluan" Alex ikut berujar. Membuat Mora benar-benar tersudutkan.


"Yaudah kalian nyusul sana" Mora akhirnya angkat bicara, berbicara dengan nada datar untuk mengalihkan arah bicara temannya yang terus meledeknya.


"Cewe gw kabur-kaburan mulu, boro-boro di ajak nikah, di ajak ketemuan aja susah." seru Alex, wajah laki-laki itu terlihat murung.


"Lu cuma pelarian nya kali" jawab Mora sambil terkekeh. Mendengar itu membuat ekspresi Alex menjadi datar.


"Udah-udah gw mau nemuin suami ni anak dulu, mau kasih wejangan" arsen berlalu menuju tempat di mana Karel duduk sambil berbincang dengan seseorang.


Alex dan yang lain pun mengikuti langkah arsen di susul oleh Mora.


Mora menghampiri Karel dan langsung memeluk lengan laki-laki itu, bibirnya tersenyum lebar sambil mengedipkan mata pada laki-laki itu, Arsen yang melihat itu berdecak kesal melihat tingkah genit teman nya itu.


"Mereka ingin mengucapkan selamat" ucap Mora berbisik kecil, sambil melirik ke arah teman-temannya.


"Ngga papa kan ?" tanya Mora, Karel tak menjawab, mata nya tampak fokus menatap wajah gadis itu tanpa memperdulikan hal lain.


"Ekhem" Arsen sengaja berdehem keras, sehingga memutuskan kontak mata sepasang pengantin itu, ia menatap Karel sambil mengulurkan tangan.


"Selamat atas pernikahannya, tolong jaga sahabat kita" Mora tersenyum lebar mendengar ucapan laki-laki itu, hati nya tampak merasa terharu karena ucapan Arsen yang terdengar sangat tulus.


"Pasti" jawab Karel singkat, menjabat tangan arsen.


"Dia sedikit bar-bar, kenapa kamu bisa menaklukkan nya ?" tanya arsen dengan nada lirih.


"Aku mendengarnya Ar" seru Mora menatap wajah temannya itu tajam, enak saja membongkar aib nya.

__ADS_1


"Fakta" seru arsen tersenyum smirk.


"Hish" Mora mengangkat tangan ingin mengeplak lengan laki-laki itu, tapi tangan nya di tahan oleh tangan Karel, laki-laki itu menatapnya datar.


Setelah Arsen selesai memberikan selamat untuk pasangan itu, kini pun di susul oleh beberapa teman Mora, Alex, Lea, dan Naura. Mereka pun pergi setelah selesai memberikan selamat.


"Eh bentar" Alex berhenti di tempat, ia seperti melihat sang kekasih sedang jalan bersama seorang laki-laki tadi, ia sangat yakin jika itu adalah kekasihnya, Alex pun pamit kepada temannya terlebih dahulu.


Laki-laki itu berjalan menyusuri tempat itu, melihat beberapa orang dengan rinci, sialnya tamu di sini sangat banyak sehingga gadis yang Alex lihat tadi hilang dari pandangannya.


***


"Sudahlah ma, Mora pasti kesini lagi nanti" ucap papa Abi kepada istrinya, wanita paru baya itu tampak terus melamun sedari tadi.


Arka dan Alettha terdiam mendengar interaksi kedua orang tuanya itu.


"Iya ma, mama ngga perlu terlalu memikirkan kakak, dia pasti sedang sangat bahagia dengan pernikahan nya." seru Alettha, berusaha menenangkan mama nya yang memang mempunyai kecemasan tingkat akut.


"Apa arka perlu memanggil Kakak untuk pulang ?" celetuk laki-laki muda itu, melihat mama nya yang cemas membuatnya tak tega.


"Tidak perlu nak, mama hanya sedikit memikirkan tentang kakak mu, tapi mama ikut bahagia karena dia bisa bersama dengan orang yang dia cintai." ucap mama Abi lirih, menatap layar hp yang menampilkan foto pernikahan putri sulung nya dan sang menantu.


"Mama tenang aja, kan masih ada Alettha, Alettha akan buat kisah baru yang tidak akan pernah terlupakan." seru Alettha dengan percaya diri, seketika itu membuat nyonya dan tuan Abi terkekeh, namun tidak dengan arka yang malah menatap saudara nya itu dengan pandangan yang sulit di artikan.


"Bukannya kamu mau kuliah ke luar heum ?" papa Abi bersuara sambil menatap putri nya itu.


"Apa jadi sayang ?" tanya mama Abi dengan tatapan sedih.


Alettha menatap papa Abi kesal, lalu menatap mama Abi yang sudah memberikan ekspresi sedih itu.


"Apa kamu beneran akan pergi ? lalu bagaimana dengan mama hem ?"


papa Abi ingin sekali tertawa melihat wajah putri nya yang tampak pias itu, pasti kini gadis itu sedang panik dan binggung harus menjawab apa.


"Sulit ma, apalagi keinginan nya sudah sangat tinggi" ucap papa Abi kembali.

__ADS_1


"Apasih pa" Alettha menggerutu, ia menatap arka sambil merangkul lengan laki-laki itu. Meminta pertolongan.


"Mama ngga usah dengerin papa, Alettha masih pikir-pikir dulu kok soal itu hehe." ucap Alettha dengan cengiran.


__ADS_2