IVAMORA

IVAMORA
Mengejar Waktu


__ADS_3

Kembali ke mansion besar Ivander


Di meja makan tampak makanan sudah siap, Nathan sudah duduk manis menunggu Karel turun, lelaki itu sedang apa sih, kenapa lama sekali coba.


"Aku makan duluan saja lah" Nathan mengambil piring.


"Ngapain kamu kesini" Belum juga menyuapkan nasi, suara dingin Karel sudah terdengar, tidak dekat sih tapi tetap saja terdengar sampai telinga Nathan.


"Kenapa emang, ngga boleh ?" seru Nathan dengan ketus, dia langsung saja menyuapkan nasi dengan kasar.


"Numpang makan heh" seru Karel dengan nada sinis.


"Iya nih" Nathan memutar bola matanya malas


Karel menarik kursi dan ikut duduk, laki-laki itu ikut mengambil piring, dan mengisi nasi.


Mereka pun makan dalam diam, Nathan tampak fokus dengan makanan nya sendiri, memang niat nya datang untuk meminta makanan.


"Kak, ngga ke kantor" tanya Nathan sambil menatap laki-laki di samping nya.


"Ngga"


"Kenapa ?"


"Ngga usah kepo" seru Karel dengan nada datar


"Apasih, orang tanya malah di bilang kepo"


"Lebih baik kamu fokus aja sama pekerjaan kamu"


"Pekerjaan apa, orang aku pengangguran"


"Jangan suka menganggu orang lain" seru Karel menepis tangan Nathan yang ingin mengambil buah di depannya.


"Aku menganggu apa sih" seru Nathan sewot, dia tak suka di tuduh menganggu, orang selama ini dia tidak pernah menganggu atau merecoki kehidupan laki-laki itu.


"Keberadaan mu saja sudah sangat menganggu bodoh"


"Dih" Nathan memutar bola mata nya jengah

__ADS_1


"Lihat saja kalau aku sudah menjadi dokter nanti"


"Kamu jadi dokter juga ngga akan menang dari aku" seru Karel dengan sinis.


"Sombong amat lu"


Karel berdiri dari duduk nya, laki-laki itu pergi dan kembali melangkah menuju ruang kerja, tak memperdulikan Nathan yang masih menatap nya dari bawah.


"Ck" Nathan berdecak, ia berdiri dan berjalan menuju dapur


"Hai" laki-laki itu menghampiri gadis muda yang sedang mengupas buah mangga.


"Tuan" gadis itu tampak terkejut, ia berdiri membuat pisau di tangannya terjatuh.


Siang hari Shofia datang ke tempat Mora, gadis itu tampak ragu mengetuk gerbang, besar sekali mansion di hadapannya itu membuat nya tampak ragu dan menelan ludah kasar.


"Cari siapa mba ?" tanya pak satpam, ia tampak memperhatikan gadis cantik di depannya yang datang sambil menenteng sesuatu.


"Cari Mora pak"


"Oh non Mora ada di dalam mba, udah buat janji mau datang ?" tanya pak satpam, wajahnya tampak ramah.


"Oh yaudah, langsung masuk aja mba" pak satpam membuka gerbang lebih lebar, mempersilahkan Shofia untuk segera masuk.


Tidak hanya itu, pak satpam juga mengantar Shofia sampai pintu utama, pria itu meminta bibi untuk memanggil Mora dan mengatakan bahwa temannya mencari nya.


"Tunggu bentar ya non, non Mora masih di kamar, mau minum apa biar bibi buatin." ucap bibi dengan ramah.


"Air putih aja bi" ucap Shofia dengan sopan, ia memperhatikan interior rumah Mora yang terlihat sangat mewah, dari luar saja sudah luar biasa mewah ternyata dalamnya tak kalah mewah dari luarnya.


Bibi pun mengangguk, lalu pergi ke dapur, Shofia menyandarkan punggungnya, ia merasa sedikit lelah.


"Hey" Mora datang lalu duduk di samping Shofia, gadis itu memeluk temannya dengan hangat.


"Kamu udah sembuh" seru Shofia, tangannya terangkat untuk mengecek suhu tubuh gadis itu.


"Udah, makasih ya udah mau jenguk, padahal aku udah ngga papa."


"Yaelah santai aja kali, ini juga kebetulan karena pekerjaan kantor ngga lagi padat, makanya bisa aku tinggal." sungguh mendengar hal itu membuat Mora terharu, temannya menyempatkan untuk menjenguknya saat sedang bekerja.

__ADS_1


"Astaga aku benar-benar merasa terharu" seru Mora dramatis, Shofia hanya terkekeh geli.


"Cepat sembuh ya, biar bisa bekerja lagi. Aku kangen ngajak kamu beli bakso di kantin." seru Shofia, sudah lama sekali mereka tak makan berdua di kantin, karena pekerjaan mereka yang padat membuat mereka jarang ada waktu berdua.


"Iya, aku juga pengin makan bakso kantin" seru Mora sambil tersenyum.


"Besok mungkin aku udah masuk lagi sof" ujar Mora memberitahu.


"Oh bagus deh, asal udah bener-bener sembuh aja"


"Aku udah sembuh kok, kebanyakan tidur ini mah" seru Mora yang membuat Shofia tertawa.


"Ya udah, aku mau kembali ke kantor, waktu istirahat tinggal 15 menit jadinya aku ngga bisa ngobrol lama." ucap Shofia merasa bersalah.


"Iya ngga papa, makasih ya sof udah nyempetin waktu buat datang, astaga aku jadi benar-benar merasa terharu." ujar Mora yang hanya di tanggapi senyuman oleh Shofia.


"Kamu naik apa sof ?"


"Naik taksi"


"Ya udah, hati-hati ya di jalan, semangat kerja nya"


"Iya neng, makanya kamu cepetan masuk"


"Sof, kamu di anter supir aku aja ya biar ngga telat" ujar Mora, ia tahu di daerah perumahan nya akan sulit mencari taksi, karena ini area pribadi keluarga Abiyasa.


"Ngga usah ngga papa Mor, aku hanya perlu jalan sebentar ke depan. Maka aku pasti akan dapet taksi."


"Tapi ini tinggal 15 menit lagi sof, belum kamu cari taksi juga."


"Ya udah tunggu, biar aku pesen taksi langganan aku aja" Mora meraih hp di saku piyama nya dan mulai mencari taksi.


"Kelamaan Mor, udah ya aku langsung pamit aja by" Shofia langsung ngacir, gadis itu menyapa pak satpam di depan, dan lari menuju jalan raya.


Mora menghela nafas, semoga saja temannya itu segera mendapat taksi, tak enak juga jika Shofia telat karena menjenguknya, Mora jadi merasa bersalah.


"Aduh ini kenapa taksi nya ngga ada yang berhenti" ujar Shofia cemberut, sudah 3 kali ia melambaikan tangan ke arah taksi, tapi tak ada yang mau berhenti.


"Kalau kaya gini aku bisa telat, aduh jadi nyesel nolak bantuan Mora" gadis itu tampak panik, melihat jam di handphone nya yang terus berjalan membuatnya cemas. Tiba-tiba gadis itu melihat mobil asisten Vano yang ingin lewat, Shofia pun dengan cepat melambaikan tangan, dan berusaha menghalangi jalan mobil itu.

__ADS_1


Ckittt, Shofia menutup telinga dan mata nya.


__ADS_2