
Mora dan Karel berangkat dari Jerman tepat pukul 10 pagi, perjalanan dari Jerman ke Indonesia membutuhkan waktu kurang lebih 16 jam, mereka akan tiba di Jakarta sekitar pukul 4 sore, karena perbedaan waktu Jerman dan Jakarta.
Sebelum menaiki pesawat, Mora memberikan pesan terlebih dahulu kepada orang tua nya jika ia akan sampai di Indonesia besok, tentu dengan antusias orang tua nya itu akan menjemput nya besok.
Mora tersenyum setelah membaca pesan yang mama nya kirimkan, gadis itu kembali menyimpan handphone nya di tas selempang nya lalu menarik koper sambil berjalan mengikuti Karel yang sudah lebih dulu memasuki pesawat.
"Kamu terlihat sangat bahagia" ujar Karel saat Mora duduk di samping nya, wajah gadis itu berseri-seri dengan senyuman yang tak padam dari bibir nya.
"Tentu saja, ini perjalanan menuju Indonesia, lagipula saya sudah sangat merindukan kedua orang tua saya tuan." sahut Mora dengan senyum manis khas milik nya, sepertinya senyuman gadis itu akan menjadi hal favorit untuk nya mulai sekarang.
"Setelah ini kamu bisa menikmati masa cuti kamu selama dua hari, selama dua hari itu saya bebaskan kamu dari tugas pekerjaan." Mora terdiam, sebelum ia ikut dengan Karel ke Jerman, ia sudah mengambil cuti sangat lama, masa sekarang ia di berikan cuti lagi.
"Huh saya lupa" tiba-tiba saja Mora menepuk kepala nya, wajah gadis itu di penuhi dengan guratan kecewa.
"Ada apa ?" tanya Karel dengan lirih.
"Seharusnya kita jalan-jalan dulu selama di Jerman tuan, huh padahal ada satu tempat yang ingin saya kunjungi." ucap Mora dengan wajah kecewa.
"Kamu tidak mengatakannya sedari awal" Mora nampak mendesau kasar, lalu terdiam.
"Kita bisa kembali lagi kapan-kapan, dan saya akan menemani mu nanti"
"Iya tuan" sahut Mora lirih, gadis itu menyandarkan punggung nya, sambil menatap ke arah luar.
Setelah 15 jam lebih hanya duduk di dalam pesawat, kini pesawat pribadi Ivander telah mendarat dengan baik di bandara soekarno hatta. Tak lama kemudian, Karel dan Mora keluar bersama dengan menyeret koper, Mora menatap sekelilingnya, lalu menghampiri papa nya yang terlihat duduk sambil melihat handphone.
"Papa" Mora segera menghambur ke pelukan papa nya, demi apapun dia begitu merindukan cinta pertama nya itu.
__ADS_1
"Sayang, kamu sudah sampai" papa Abi membalas pelukan putri nya tak kalah erat, bahkan laki-laki itu kini mengecup kepala putri sulung nya dengan sayang.
"Papa kesini sendiri ?" tanya Mora sambil melihat sekeliling nya, banyak sekali orang berlalu lalang di bandara ini.
"Iya sayang, mama tadi kata nya nunggu di rumah aja bareng Alettha, sedangkan Arka papa minta buat handle pertemuan penting di perusahaan." Mora pun mengangguk pasti lalu kembali memeluk papa nya.
"Ehm" Karel berdiri di antara ayah dan anak itu, wajah nya tampak datar. Mora mendongak sambil mengernyitkan dahi.
"Ada apa ya tuan" tanya Mora sambil berdiri dari duduk nya.
"Tidak, saya hanya mengembalikan ini, tadi tertinggal di pesawat." sahut Karel sambil memberikan sebuah handphone dengan casing putih kepada Mora.
"Astaga aku melupakannya" Mora segera mengambil benda itu dari tangan Karel, pantas saja tadi ia merasa ada yang kurang.
"Ra ra kebiasaan kamu ini" Mora meringis sambil menatap papa nya.
"Nak Karel terimakasih ya sudah menjaga putri saya selama di sana."
"Nanti malam datang lah ke rumah, mama Mora tadi sedang masak banyak" ucapan papa Abi membuat Mora melotot, gadis itu menyenggol lengan papa nya.
"Pa" ujar Mora tak terima, bukannya tak ingin Karel datang ke rumah, tapi ia sudah lelah dan ingin beristirahat saja nanti.
"Sebuah kehormatan untuk saya mendapat undangan dari om, tapi maaf nanti saya harus ke kantor karena ada rapat penting."
"Lalu apa tidak apa saya pulang tuan ? apa saya ikut ke kantor saja ?" ujar Mora saat mendengar akan ada rapat penting, ia harus selalu menemani Karel bukan ?
"Tidak perlu kamu pulang saja, kamu pasti juga lelah kan ?" Mora mengangguk, sambil menerbitkan senyum tipis.
__ADS_1
"Baiklah Tuan Abiyasa, saya permisi dulu" Papa Abi mengangguk, Karel pun pergi meninggalkan dua orang itu ke sebuah mobil yang terparkir rapi dan menunggunya sejak tadi.
Mora menatap Karel tanpa berkedip, bahkan sampai Karel masuk ke dalam mobil dan di bawa pergi oleh mobil itu.
"Kalau masih kangen tu bilang, ngga usah gengsi" Mora menatap papa nya yang saat ini menatap geli ke arah nya. Gadis itu mendengus, lalu mengajak papa nya untuk memasuki mobil.
"Kamu tidak melakukan hal di luar batas kan selama di Jerman ?" tanya papa Abi sambil menatap putri nya dengan intens.
"Apaan si pa, mana ada Mora kaya gitu."
"Ya baguslah, papa ngga mau putri papa di sentuh seenaknya" Mora hanya tersenyum masam, sampai saat ini pun seperti nya papa nya itu masih salah paham pada hubungannya dan Karel. Padahal Mora sudah menjelaskan puluhan kali, tapi tetap saja papa nya itu tidak percaya.
"Mau mampir ngga ?" tawar papa Abi
"Ngga deh pa, udah cape banget pengen langsung pulang aja. Lagian Mora juga kangen sama mama dan yang lain." papa Abi mengangguk, dan melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju mansion.
Setelah mobil berhenti, Mora segera keluar, gadis itu mengambil koper di bagasi.
"Sini biar papa yang bawa" Mora menggeleng
"Papa ke kantor aja sana, biar Mora bawa sendiri kopernya" sahut Mora.
"Papa tidak ke kantor, sudah sini, lagian pasti koper nya ringan kan" akhirnya Mora mengalah, gadis itu menyerahkan koper yang ia pegang ke tangan papa nya.
Lalu segera memasuki mansion untuk mencari keberadaan mama dan adik nya.
"Mama" Mora menghampiri mama nya dan duduk di samping mama nya.
__ADS_1
"Sayang udah pulang" wajah mama nya tampak berbinar saat melihatnya, wanita itu mendekat dan mendekap tubuh Mora dengan erat.
Mora tersenyum, tangannya bergerak meminta adik nya untuk mendekat, gadis itu ikut mendekat dan Mora pun ikut memeluk nya.