IVAMORA

IVAMORA
Apakah Perasaan Suka ?


__ADS_3

Di dalam sebuah kamar yang terlihat gelap, hanya terlihat cahaya rembulan yang menembus kaca di samping kamar itu. Karel nampak duduk di dekat kaca sambil menatap ke arah cahaya rembulan di atas sana yang bercahaya terang di tengah gelap nya langit malam.


Entah kenapa setiap dia kalut Karel selalu melampiaskan dengan menatap bulatan bundar di atas sana. seolah dapat memberikan ketenangan untuk hatinya yang gundah.


Di mulai sejak pagi tadi di mana Antony NA mendatangi kantor nya dan mengucapkan kata-kata yang seolah tidak bisa dia terima. Bahkan mengingatnya saja sudah membuat ia kesal setengah mati.


Flashback on


"Aku menginginkan wanita yang menjadi sekertaris mu, berikan ia padaku. Aku ingin ia jadi milikku." Karel cukup kaget saat mendengar itu, bagaimana bisa lelaki itu berucap semudah itu.


"Aku akan berikan apapun yang kamu mau, asal gadis itu bisa jadi milikku" laki-laki itu berucap dengan nada yang arogan, tatapannya tajam menghunus kepada Karel.


"Dia tidak akan menjadi milik mu, karena dia adalah MILIK KU" sahut Karel sambil menekan kata milik nya, ya jelas saja Mora adalah milik nya, mana bisa laki-laki itu meminta nya padahal Mora masih mempunyai orang tua. Jika memang suka bisa meminta kepada orang tuanya kan ?


"Lihat saja, apapun yang aku mau pasti akan aku miliki. Mesti harus bersinggungan dengan mu Mr Ivander" Karel tersulut emosi saat mendengar hal itu, ia ingin sekali memukul mulut lancang laki-laki di depannya. Namun ia mencoba menahan diri dan membiarkan laki-laki itu angkat kaki dari kantornya.


Dan jika kalian penasaran kenapa mereka berdua bisa lama berada dalam ruangan, hal itu terjadi karena Antony NA tidak menjelaskan langsung apa yang dia mau, laki-laki itu mengajak Karel basa basi sehingga membuat waktu Karel terbuang.


Flashback of


Karel menghembuskan nafas kesal, entah kenapa ada bagian lain dalam hatinya yang merasa tidak suka saat ada laki-laki yang menyukai sekertaris nya. Ia merasa tidak suka dan tidak rela, seolah Mora adalah milik nya dan tidak boleh ada yang mengambilnya.

__ADS_1


"Apa aku menyukai gadis ingusan itu" sahut Karel mendesau kasar, ia seolah bimbang dengan perasaannya, dia sudah tak ingin mempunyai hubungan dengan wanita manapun. Tapi ia tak rela jika Mora jatuh ke tangan Antony NA.


"Dia tidak boleh menjadi milik siapapun apalagi jatuh ke tangan Presdir jadi-jadian itu. Mora hanya boleh menjadi milik ku, atau tidak sama sekali ada yang boleh memilikinya" sahut Karel dengan tangan yang terkepal erat. sikap tempramen nya kembali muncul, laki-laki itu membanting botol yang berada di genggamannya dengan keras sehingga membuat tangannya terluka karena goresan kaca.


Tok Tok Tok


Mora mengetuk pintu kamar Karel dengan kencang, dia tadi mendengar suara keras dari kamar tuan nya sehingga merasa penasaran akan suara itu.


Berkali-kali ia mengetuk, pintu tak kunjung di buka, Mora pun memanggil tuannya.


"Tuan, tolong buka pintunya"


"Tuan...em" saat pintu terbuka, tangan Mora di tarik dengan kasar, gadis itu mendesis saat merasakan punggungnya menabrak dinding kamar dengan keras sehingga menimbulkan rasa sakit. Mora menatap wajah Karel yang terlihat bercahaya dalam gelapnya kamar. Jendela tampak terbuka dengan cahaya dari sinar rembulan.


Wajah Karel terlihat samar karena lampu kamar mati, hanya menyisakan lampu kecil di atas nakas samping tempat tidur.


Gadis itu berteriak kecil saat Karel menggendongnya dan menidurkan nya di atas ranjang, laki-laki itu menindih Mora dengan tatapan yang melekat pada mata hitam Mora.


Mora takut saat melihat tatapan Karel, ia sedang memikirkan cara agar bisa menyingkirkan tubuh Karel dari atas tubuhnya. Namun gadis itu tidak sadar saat bibir Karel menyambar bibir nya dan mencium nya dengan rakus.


Karel menahan tangan Mora di atas kepala, laki-laki itu memejamkan mata nya dengan mengabsen semua yang ada di bibir manis Mora tanpa terkecuali.

__ADS_1


Mora semakin panik saat Karel ingin membuka kancing baju nya, gadis itu melepaskan tangan Karel perlahan, lalu melingkarkan tangan nya pada leher Karel.


Bruk


"Huh aman" Mora menyingkirkan tubuh karel yang berat lalu menyelimuti tubuh Karel dengan selimut. Dia tadi memukul leher belakang Karel agar laki-laki itu tidak kebablasan. Entah kenapa tuan nya itu tapi sepertinya mood nya sedang buruk.


Mora menatap laki-laki yang menutup mata itu dengan intens, menyingkirkan rambut Karel yang berantakan ke samping. ia melihat darah keluar dari tangan Karel bahkan ada yang mengenai pergelangan tangan nya.


Tadi Mora tidak menyadari jika kamar Karel berantakan dengan tangan yang terluka. Mora pun mencari kotak obat lalu mulai mengobati luka di telapak tangan tuan nya.


Mora juga turun untuk mengambil sapu, lalu kembali naik untuk membersihkan pecahan botol di lantai hingga bersih, gadis itu berjalan ke arah kamar mandi, lalu mulai mengambil air dan handuk kecil untuk mengusap wajah Karel yang mengeluarkan keringat serta terdapat goresan panjang di samping dahi nya.


Ntah bagaimana bisa ada luka di wajah lelaki itu, Mora mengusap wajah karel sambil menggelengkan kepala nya, Mora menguncir rambut nya yang panjang. Hingga ia bisa membersihkan wajah Karel dengan leluasa.


Setelah semua nya beres Mora kembali menyimpan kotak obat, serta kembali membuang air yang ia gunakan untuk membersihkan dahi Karel. Gadis itu duduk di samping ranjang sambil mengusap dahi Karel yang terluka dengan lembut.


Karel tampak tak terganggu, laki-laki itu tak sadar cukup lama, Mora pun menguap sejenak lalu menatap Karel dengan sayu.


"Terlalu banyak masalah mu Rel" Mora menumpukan kepala nya pada ranjang, tangannya menggenggam tangan Karel yang terluka dengan perlahan lalu mulai menutup mata. Ia membiarkan jendela kamar terbuka dan tak menutup gorden agar cahaya bulan sana bisa masuk ke dalam kamar gelap ini.


Ntah bagaimana bisa gadis itu ikut terlelap di kamar tuan nya, padahal ia harus segera pergi dan kembali ke bawah namun yang ia rasakan ia ingin menemani Karel untuk saat ini.

__ADS_1


__ADS_2