
Di sebuah kamar besar yang rata-rata mempunyai warna hitam, terlihat dua anak manusia yang masih bergelung dengan nyaman. Seorang laki-laki memeluk gadisnya dengan begitu posesif seolah ingin memberikan rasa nyaman untuk gadis itu.
Dia terbangun lebih dahulu, melihat wajah gadisnya yang masih terlihat pucat, ia usap sebentar wajah itu dengan lembut. Mengecup kening gadis itu dengan penuh kasih sayang.
Dia tak ingin membangunkan gadisnya dari tidur nyenyak nya, dia tak ingin gadisnya merasa kesakitan lagi, untung saja tadi gadis itu sudah makan dan minum obat, sehingga kini tidurnya tak lagi terganggu dengan adanya perut lapar.
Karel kembali mengusap rambut halus Mora dengan tangan yang teratur, gadis itu merekatkan pelukan dan menyandarkan kepala nya dengan nyaman di dada bidang Karel. Karel hanya tersenyum, ia bahkan rela tidak bekerja seharian ini untuk merawat dan menemani gadisnya.
"Eum" Mora mengeluarkan suara dengan lirih, sepertinya gadis itu sudah terbangun dari tidurnya Karena dapat Karel rasakan ada sepasang tangan yang mempermainkan dada nya.
"Sudah bangun baby" Karel menunduk sambil sedikit menjauhkan jarak mereka. Mora mengangguk sambil terus memeluk tubuh Karel. Seolah tubuh mereka tidak boleh berjauhan meski se inci saja.
"Perut nya bagaimana" Karel kembali bersuara sambil mengusap perut Mora dari luar baju nya.
"Sudah lebih baik" ucap nya, gadis itu bergerak kembali lalu meletakkan wajahnya di leher Karel. Dapat Karel rasakan bibir lembut Mora yang bergesekan dengan leher nya, serta hembusan nafas hangat gadis itu.
"Nakal hem" Karel menarik kecil hidung Mora.
"Aku bermimpi mengendus lehermu tadi, jadi aku melakukan saja langsung biar tidak hanya menjadi mimpi" ujar gadis itu sambil terkekeh. Karel yang gemas mengecupi pipi nya berulang kali.
"Di hisap juga tidak apa" seru Karel yang membuat mata Mora mengerjap dengan lucu.
"Di hisap ?"
"Seperti ini" Karel menundukkan kepala nya lalu menghirup wangi tubuh gadisnya yang menguar dari ceruk leher gadis itu lalu ia mulai mengecup leher gadis itu dan menyesapnya.
"Eh" Mora nampak terkejut saat merasakan benda lembut dan basah menyesap leher nya, sudah seperti vampir saja. Gadis itu merangkum wajah Karel yang terus melakukan itu berulang kali.
__ADS_1
"Biar aku penuhi lehermu dengan tanda kepemilikan" ujar nya sambil kembali bersiap melabuhkan mulutnya di leher halus itu.
"Sudah cukup sayang" ujar Mora sambil membawa wajah itu untuk menunduk, tanpa menunggu waktu Mora pun mengecup kening Karel dengan mata terpejam.
"Terimakasih telah merawat ku" Mora mengusap punggung Karel dengan tangan halus nya. Sedangkan Karel ?
Jantung laki-laki itu sudah seperti akan meledak karena terus saja berdetak dengan kencang, ia nampak terkejut dengan apa yang Mora lakukan, apalagi gadis itu tadi memanggilnya dengan sebutan sayang untuk pertama kali nya. Ah sweet banget.
Karel memeluk gadisnya dengan erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher gadisnya.
"Baby" ujar nya lirih nyaris seperti bergumam.
"Hem?" Mora menyahut sambil membawa salah satu tangan nya untuk mengusap rambut Karel. Seperti nya hal itu menjadi hal yang membuatnya candu. Ia mengusap rambut bayi besar yang saat ini memeluk tubuh nya dengan posesif.
"Jangan pernah meninggalkan aku" ujar nya dengan suara yang sama.
"Tidak akan" sahut Mora sambil menerbitkan senyum tipis. Sungguh sikap Karel hari ini benar-benar membuatnya terharu. Biasa nya ketika dia kesakitan, ia hanya bisa minum obat dan tertidur setelah itu. Tapi Karel sejak tadi memilih untuk memeluk nya dan terus mengusap perut nya yang sakit. Itu benar-benar membuat nya terharu dan merasa di istimewakan.
"Iya sayang" Karel tersenyum di balik ceruk leher gadisnya, hati nya benar-benar berbunga mendengar ucapan gadisnya. Sepertinya ia kembali merasakan jatuh cinta.
"Kita harus segera menikah" Mora melotot saat mendengar ucapan itu, ia menelan ludah nya.
"Haha kenapa terburu-buru" Mora tertawa dengan terpaksa.
"Aku ingin kamu menjadi milik ku" ucap Karel
"Biar bisa aku peluk seperti ini terus" lanjut Karel, suara Mora tercekat menyangkut di tenggorokan.
__ADS_1
"Mau ya by" astaga Mora ingin menangis saja rasanya, hey umur nya masih sangat muda, bagaimana bisa ia menikah. Apa kata teman-teman nya nanti.
"Sayang, kita masih sangat muda utuk menikah, jangan terlalu buru-buru." Mora memekik saat merasakan pelukan yang semakin erat seolah ingin menghancurkan tubuh kecilnya.
Sedangkan Karel, ia sama sekali tak sadar jika apa yang ia lakukan membuat gadisnya kesakitan, entah kenapa ia merasa marah dengan ucapan itu.
"Kamu menolak ku heh" Karel melepaskan pelukan nya, ia duduk di atas ranjang sambil menatap ke arah luar jendela. Mora ikutan duduk.
"Shtt" Mora mendesis lirih, Karel melirik dengan khawatir. Namun tak mendekat, dia sedang marah saat ini. Mora yang tau laki-laki itu marah pun berinisiatif memeluk nya.
"Marah hem" ucap Mora dengan suara lembut. Gadis itu mengusap lengan kekar Karel yang di tumbuhi bulu-bulu tipis.
"Kamu tidak ingin menikah dengan ku" sahut Karel dengan ketus, Mora ingin sekali meledakkan tawa nya saat melihat laki-laki itu merajuk. Benar-benar tak pernah ia sangka jika pria nya itu bisa merajuk.
"Kata siapa, aku menginginkannya sayang" Mora mencangkup wajah Karel lalu mengecup hidung mancung laki-laki itu.
"Tapi kita masih sangat muda" lanjut gadis itu.
"Memang nya kenapa ? banyak juga yang menikah muda, hidup mereka bahagia-bahagia saja" sahut Karel tak mau kalah.
"Tidak semudah yang terlihat, kamu hanya melihat luar nya saja kan, tidak tau kan dalam nya seperti apa. Pernikahan itu ujian nya lebih besar, dan membutuhkan tanggung jawab yang besar juga tentunya." ucap Mora berusaha memberikan pengertian.
"Apa kamu merasa aku tak mampu melakukan nya huh" ujar Karel kembali kesal.
"Bukan begitu, aku hanya mau kita belajar semuanya sebelum memutuskan pernikahan. Belajar merendahkan ego, belajar kuat, belajar sabar, dan belajar memegang tanggung jawab yang benar."
"Apa kamu meremehkan ku, selama ini aku mampu menjalankan tanggung jawab ku sebagai pemimpin untuk ribuan orang" seolah tak mau kalah Karel terus menjawab.
__ADS_1
"Aku tau, tapi ego kita masih sama-sama besar, kamu saja seperti ini sudah merajuk, emosi nya juga kadang gampang banget meledak, aku sendiri jujur memang belum siap untuk menikah karena masih ingin berkarir. Tentu aku belum mampu membuang ego ku untuk itu."
Karel hanya mendengus lalu laki-laki itu beranjak pergi, baginya Mora tetap saja menolak nya.