
Sementara itu di sebuah kamar, tepatnya di ranjang besar di mana kini Karel berada, lelaki itu sepertinya telah sadar dari pingsannya.
"Uhh" Karel memijat pelipisnya yang terasa pusing, mata nya terbuka perlahan-lahan. perut nya terasa mual seperti di aduk, dengan kepala yang terasa berputar-putar, Karel berlari ke arah kamar mandi di dalam kamar nya.
"Huek" Karel menyangga tubuh nya menggunakan kedua tangannya, berpegangan pada wastafel cuci muka. kepala nya masih terasa amat berat dan pusing, mungkin efek alkohol kadar tinggi yang dia minum kemarin.
"Sial" laki-laki itu mengumpat, lalu keluar dengan langkah sempoyongan, kembali menghempaskan tubuh nya ke ranjang besar milik nya.
Sedangkan di lantai bawah, Andra sedang berbincang dengan asisten di rumah Karel, tangannya menenteng bungkusan besar.
"Bagaimana bi, apa dia sudah sadar ?" tanya Andra memastikan.
"Tuan Karel belum turun tuan, mungkin saja masih belum sadar, sup yang tadi bibi buat juga sudah dingin, apa bibi buatkan lagi saja tuan ?" tanya bibi sambil menunduk.
"Tidak usah bi, ini saya bawa sup, masih hangat. Di siapkan ya bi, nanti di antar ke kamar Karel" jawab Andra sambil menyodorkan bungkusan di tangan nya.
"Baik tuan" wanita paru baya itu meninggalkan Andra menuju ke dapur. Sedangkan Andra berjalan ke arah kamar Karel di lantai atas.
"Awas aja kalau lu belum sadar, aku paksa pokoknya" gumam Andra kesal, dia tidak akan membiarkan Karel terus terlelap dalam mimpinya. Bagaimanapun temannya itu belum sarapan sejak pagi tadi.
BRAKK
Andra mendobrak pintu dengan kasar, mata nya tertuju pada tubuh kekar yang terbaring di ranjang dengan asal itu, sepertinya Karel telah sadar, karena posisi nya sudah tak lagi sama seperti tadi pagi.
__ADS_1
"Woy" Andra mendorong kepala Karel pelan, membuat Karel terbangun, laki-laki itu duduk sambil memijat kepala nya, jujur Andra merasa kasihan melihat kondisi temannya itu, namun dia marah karena Karel menyakiti dirinya sendiri.
"Lu datang ndra ?" ucap Karel lirih, Andra menghela nafas sambil mengambil duduk di samping Karel.
"Huh, lu kenapa lagi sih Bray" Andra menatap Karel dengan malas, tangannya membantu Karel untuk duduk dengan benar.
Karel tak menjawab, laki-laki itu kembali memijat kepala nya yang masih sedikit pusing. Ntah lah, tenaga nya seperti sedang terkuras habis.
"Permisi tuan" bibi datang sambil membawa dua mangkuk berisi sup ayam dan dua gelas air putih, meletakkan nya di atas nakas.
"Makasih bi" Bibi mengangguk, lalu kembali berlalu dari kamar tuan muda nya. Andra kembali menatap Karel.
"Mandi dulu sana, udah kuat kan lu, kuat lah masak gitu aja lemah" ujar Andra sinis, rasa kasihan nya tadi lenyap tergantikan rasa kesal di dalam dada.
Karel menghela nafas kasar, lalu berjalan ke arah kamar mandi sambil mengambil pakaian dengan asal di lemari.
"Woy, lu lagi berdoa apa gimana sih, lama amat" Andra mengetok pintu dengan keras, tak lama pintu pun terbuka menampilkan Karel dengan penampilan nya yang berantakan sehabis mandi.
"BERISIK BERISIK BERISIK" teriak Karel, laki-laki itu duduk di sofa sambil menyandarkan punggung nya. menatap malas ke arah Andra.
"Ini sup udah dingin bodoh, nunggu lu lama amat bisa karatan nih" Andra mengambil sup hangat di nakas, lalu menyodorkan di hadapan Karel. Karel menatap itu dengan mata menyipit.
"Makan bodoh, masa gitu aja minta di suapi"
__ADS_1
Karel menghela nafas, lalu mengambil sendok dan mencoba makanan di hadapannya. Semoga saja Andra tak memberikan racun pada nya.
Andra terdiam sambil menunggu Karel menyelesaikan makannya. Karel nampak lahap menyantap sup dari Mora, sepertinya laki-laki itu sedang lapar.
"Masih kurang ? masih ada satu mangkuk kalau mau" Karel menggeleng, laki-laki itu menaruh mangkuk yang kosong ke meja.
"Sekarang lu cerita deh ada masalah apa" tanya Andra langsung, Karel kembali menyipitkan mata. sungguh rasanya Andra ingin memukul wajah menyebalkan laki-laki itu.
"Ngga" ucap Karel singkat
"Ngga usah bohong, aku temen lu bukan" Andra memaksa Karel untuk jujur, namun laki-laki itu tetap tak mau berbicara jujur, hal itu membuat Andra kesal, tapi Andra mengenal sikap Karel, laki-laki itu tak akan bercerita jika bukan keinginan nya sendiri.
"Mulai sekarang jangan bertingkah bodoh lagi, Lu bukan anak kecil, umur lu udah 25 tahun." Karel hanya berdehem malas, tampak tak minat menanggapi ucapan Andra.
"Lu tau ngga sih, sepupu gue sampai susah menghadapi lu yang mabuk" Karel terdiam saat mendengar hal itu, entah sadar atau tidak laki-laki itu dengan ucapan nya, Andra sudah tak lagi peduli. laki-laki itu memilih untuk pulang saja, karena Karel sudah terlihat lebih baik.
"Udahlah mending aku balik, percuma juga di sini" ucap Andra sambil keluar dari kamar Karel, Karel sama sekali tak menanggapi ucapan Andra, laki-laki itu masih terlihat termenung entah memikirkan apa.
Setelah kepergian Andra, Karel memilih untuk beranjak dari ranjang, laki-laki itu keluar dari kamarnya dengan menggunakan lift, kepala nya masih terasa sedikit pusing.
"Tuan" bibi yang melihat tuan nya turun langsung saja menyapa tuan nya, Karel hanya mengangguk sekilas sebagai tanggapan. Laki-laki itu melangkah ke arah pintu luar, tujuan nya adalah taman di samping rumah. Dia membutuhkan udara segar untuk kesehatan otak nya.
Laki-laki itu menghela nafas, ingatan nya kembali ke kemarin malam sebelum dia mabuk, sekali lagi dia merasa di kecewakan oleh orang yang dia percaya. Rasanya dia sudah muak dengan tingkah laku manusia, selalu saja berbuat ulah.
__ADS_1
"SIAL SIAL" Karel memukul kursi kayu yang dia duduki, emosi nya kembali naik karena mengingat hal-hal menyedihkan seperti itu. Di tambah kepala nya yang terus berdenyut sakit akibat alkohol.
Seharusnya kemarin dia lampiaskan saja emosi nya dengan membunuh salah satu tawanan nya di markas, bukannya malah berpesta alkohol kadar tinggi yang sampai sekarang masih berefek pada kepala nya.