
Di salah satu kamar, mansion mewah terlihat seorang gadis yang sedang menatap langit malam di balkon kamar, gadis itu menggunakan pakaian santai dengan rambut yang di ikat kuda. Menghembuskan nafas berulang kali untuk meredakan rasa gugup yang luar biasa membuat tubuh nya bergetar.
Malam ini langit tampak terang di bantu dengan sinar rembulan, angin yang menerpa wajahnya yang masih cantik dan segar karena baru saja membersihkannya dari make up.
Semuanya terasa seperti mimpi, kejutan demi kejutan yang terima hari ini seolah masih nyangkut di kepala nya, semua terasa tidak nyata, meski kini semuanya sudah terjadi.
Perasaan bahagia, terharu, sedih, rasa bersalah bercampur aduk menjadi satu, helaan nafas berulang kali terdengar dari hidungnya, gadis itu menatap terangnya rembulan yang ada di atas langit dengan segala perasaan berbeda yang memenuhi relung hati paling dalam.
Dalam lamunan gadis itu, tiba-tiba ia merasakan pelukan hangat di pinggang nya, dapat di rasakan sepasang tangan kekar yang kini sudah membelitnya dengan posesif.
Gadis itu tersenyum tipis, dengan jantung yang tak berhenti berpacu melebihi batas normal, perlakuan kecil seperti ini sudah mampu meluluhlantakkan hati nya.
Mata nya terpejam menikmati waktu untuk sejenak, kedua tangan nya ikut memeluk tubuhnya sendiri, berusaha menghangatkan tubuhnya dari angin malam.
Nyaman, satu kata yang tidak bisa ia elakkan, senyum gadis itu semakin berkembang sempurna, seiring dengan air mata yang jatuh tiba-tiba dari kedua mata nya yang terpejam.
Tentu hal itu dapat di rasakan oleh seseorang yang berada di belakang nya, terbukti dari tubuh nya yang di balik oleh seseorang itu.
"Kenapa hem" dengan cepat telapak tangan besar itu menghapus air mata nya dengan lembut, mengecup kedua mata nya dengan penuh perasaan, mata itu juga menatap nya cemas dengan kedua tangan yang menggenggam erat telapak tangan nya yang dingin.
"Sayang, aku buat kesalahan hm" tangan itu mengusap wajah nya dengan lembut, lalu merengkuh nya dalam pelukan, memberikan usapan lembut di kepala nya yang membuat perasaan gadis itu menghangat.
"Maaf, jika kejutan ini membuat mu terluka" suara itu terdengar lirih, Mora yang mendengar menggeleng dengan cepat, semakin mengeratkan pelukan.
"Aku bahagia, sangat bahagia" Karel tersenyum samar, memberikan usapan lembut di punggung gadis itu.
"Apa harus aku prank dulu baru mau menikah hm" Karel terkekeh kecil, semakin mengeratkan pelukan karena gadisnya yang terisak cengeng.
"Sudah jangan menangis lagi, aku tak benar-benar marah"
"Aku hanya sedikit memberikan permainan untukmu"
"Maaf" kepala gadis itu tertunduk, dengan tangan yang meremas kedua tangan kekar sang pria.
"Untuk ?"
__ADS_1
Mata gadis itu menatap lekat tangan pria yang ia genggam, masih berbalutkan perban putih yang sudah pasti menutupi luka tangan laki-laki itu, seketika perasaan bersalah dalam hati nya semakin besar, tak terbayangkan pasti rasanya sangat sakit.
"Aku yang membuat tangan ini terluka, maafkan aku" mata Mora berkaca-kaca.
"Hust" Karel menangkup wajah itu, memberikan kecupan di semua bagian wajah gadisnya.
"Kemarin memang aku sempat kecewa, hati aku terluka membayangkan kamu pergi meninggalkan ku sendiri, tapi kamu tau bukan siapa aku ? tentu aku tak akan melepaskan mu, meski nanti perasaan yang aku punya tak terbalaskan olehmu" seru Karel panjang kali lebar, Mora hanya mampu menatap sendu ke arah mata laki-laki itu.
"Aku mencintaimu, dan aku menyesal karena telat menyadarinya, bahkan sangat menyesal karena meragukan perasaan mu." ucap Mora terisak.
"Sudah jangan di pikirkan lagi, ini adalah hari bahagia kita bukan ?"
"Aku benar-benar merasa bersalah by" ucap gadis itu lirih, nyaris tak terdengar.
"Hem ?"
"Hubby" Karel tersenyum geli mendengar nya.
"Sudah ya kita masuk, angin malam tidak baik untuk mu." Karel mengendong tubuh gadis itu dan membawa masuk ke dalam kamar.
"Sini tidur" Karel sudah berbaring di tengah ranjang, menatap dalam ke arah wanitanya, hal itu tentu membuat Mora salah tingkah brutal.
"Udah halal ini" seru Karel menggoda, sikap nya yang biasanya datar kini hilang di telan benua, di gantikan dengan sikap jahil pada istrinya itu.
"Trus ?"
"Ya sini, kamu ngga ngantuk hm" rasanya Mora benar-benar nyaris ingin pingsan, kenapa Karel jadi genit.
"Udah aku mau tidur di sini aja" Mora merebahkan diri nya di tepi ranjang, sedikit saja dia bisa jatuh. Namun gadis itu tetap nekat, daripada berdekatan dengan Karel, bisa bahaya nanti jantung nya.
BRUK
"akh"
Cup
__ADS_1
Karel mengecupi seluruh wajah istri nya, merasa gemas dengan tingkah laku gadis itu yang malu-malu seperti anak kucing.
"By"
"Apa sayang"
Blush
Gadis itu menahan nafas, jarak mereka kini benar-benar sangat tipis, bahkan laki-laki itu merengkuh tubuhnya dengan posesif.
"Kamu ngga mau ngelepasin aku ?"
"Ngga" sahut Karel judes, ia masuk ke dalam pelukan sang istri, menikmati hangatnya tubuh gadis itu.
Kini Mora menahan nafas nya, pasti Karel mendengar kan jantungnya yang sudah berdetak melebihi batas normal itu, apalagi kepala laki-laki itu yang sudah bertengger nyaman di atas dada nya.
"Aku mau"
"MAU APA ?" sela Mora cepat, sungguh ia di buat ketar-ketir dengan sikap laki-laki ini.
"Mau kamu, selamanya ada buat aku" seru Karel lirih, tangannya sudah nakal mengusap lembut perut gadisnya yang hanya berbalutkan piyama, baju itu di sikap oleh tangan Karel.
"Tangannya by"
"Ngga ada yang larang kan ?" mata Karel mendongak dengan tatapan memelas, sedih karena Mora terus melarang nya.
"Huh" Mora memutar bola matanya, kenapa pria nya itu jadi seperti anak kucing.
Kini kepala Karel sudah berada di perut Mora, mengecupi perut itu dengan lembut. Membuat tubuh gadis itu menegang, sungguh ini pengalaman pertamanya, ia merasa seolah ada aliran listrik yang menyetrum tubuhnya.
"Pokok nya mau di peluk sampek pagi" ucap Karel tanpa penolakan.
"Iya, udah naik tidur nya yang normal dikit dong"
"Kamu lupa ya sayang ?" Mora melihat wajah Karel yang tampak serius, gadis itu mengernyit heran.
__ADS_1
"Lupa apa ?"
"Ini malam pertama kita tau, tentu aku tidak akan melepaskan mu dengan mudah." Mora tercengang, wajah laki-laki yang baru saja resmi menjadi suaminya itu kini terlihat mengerikan dengan tatapan sedikit mesum.