IVAMORA

IVAMORA
Hari Jadi


__ADS_3

Satu Minggu berlalu dengan cepat, ini adalah hari di mana Mora selesai dengan pendidikan nya. Sedari pagi gadis itu sudah menyiapkan semua kebutuhannya, dan kini Mora sedang merias dirinya sendiri di depan cermin.


Mora merasa begitu senang karena ini adalah hari jadi nya, setelah ini dia akan mencari pekerjaan yang dia suka. Gadis itu kembali mematut dirinya di depan cermin, Mora sudah rapi dengan pakaian nya serta make up nya. Wajahnya tampak lebih segar sekarang.


"Em ini bagus aku harus segera turun" Mora mengambil tas selempang milik nya, lalu berjalan keluar dari kamar dengan langkah perlahan. Mora menggunakan sepatu yang mempunyai pijakan cukup tinggi, sehingga dia harus berhati-hati jika berjalan.


Setelah sampai di lantai bawah, bibi mendatangi Mora sambil memberikan kotak bekal yang berisi sarapan, Mora tersenyum lebar saat menerima kotak bekal itu.


"Terimakasih bibi"


"Sama-sama non Mora, semoga acaranya lancar ya sampai selesai" ucap bibi dengan senyum nya yang teduh, semua asisten di rumah ini sudah Mora kenal, sehingga mereka tidak lagi canggung dengan Mora, karena nona mudanya itu memiliki sikap yang ramah dan baik.


"Ouh, makasi bi doa nya" tanpa ragu Mora segera memeluk tubuh bibi, Mora sudah menganggap bahwa pembantu yang ada di rumah ini seperti keluarga, karena mereka sudah bekerja lama bahkan semenjak Mora masih kecil dan belum tau apa-apa.


"Iya non" Mora mengangguk, gadis itu kembali berjalan, Mora akan langsung berangkat ke kampus, orang tua nya akan menyusul nya nanti, karena kini kedua orang tuanya itu berada di luar kota, dan sedang dalam perjalanan pulang.


Jarak rumah dan kampus hanya memakan waktu 1 jam, karena rumah Mora sendiri ada di pusat kota, tak jauh dari kampus elit yang menjadi incaran anak para pengusaha sepertinya.


Setelah tiba di pekarangan kampus, Mora dengan hati-hati segera turun dari mobil, gadis itu celingukan mencari ke empat temannya yang tak terlihat.


Mora memilih untuk mencari tempat duduk dulu sambil menunggu teman-temannya, gadis itu duduk di salah satu kursi panjang sambil fokus dengan handphone nya. Mora sedang berbalas pesan dengan Arsen.


Kampus sudah tampak ramai, semua mahasiswa/mahasiswi yang berlalu lalang terlihat rapi dengan pakaian hari jadi mereka, tampak tawa bahagia menghiasi wajah mereka yang terlihat cantik bersinar.


Mora tersenyum, anak kelas jurusan nya belum ada yang datang, Mora adalah mahasiswa yang datang paling awal di jurusan nya.


"Arsen mana sih, katanya udah mau sampai, tapi ini belum kelihatan juga batang hidungnya" Mora menggerutu, berkali-kali gadis itu mengecek handphone, tapi Arsen belum membalas pesan terakhir darinya.

__ADS_1


"Beneran ini aku sendirian, mereka kemana sih huh"


"Boleh aku duduk ?" Mora menoleh, saat ini di depannya berdiri seorang laki-laki tinggi tegap yang sedang tersenyum ke arah nya.


"Oh, iya silahkan" Mora membalas senyuman laki-laki itu, Nathan, ya teman laki-laki Mora dari jurusan kedokteran, Mora mengenal laki-laki itu di taman kampus saat sedang bersantai. Sikap Mora yang ramah tentu menjadi hal yang mudah untuk mendapatkan teman.


"Kamu sendirian, mana Arsen ?" tanya Nathan, tentu saja dia heran, karena Mora sangat dekat dengan Arsen, bahkan mereka hampir setiap di kampus selalu bersama.


"Belum berangkat dia, masih dalam perjalanan"


"Oh" Nathan menjawab singkat, laki-laki itu memperbaiki duduk nya.


"Kamu lagi nunggu seseorang ?" tanya Mora karena melihat Nathan yang sesekali melihat handphone nya dan tampak sedang mencari seseorang.


"Iya, aku menunggu kakak ku" Mora mengangguk, gadis itu kembali melihat handphone, namun Arsen sama sekali belum membalas pesannya, bahkan pesan nya saja tidak di baca.


"Selamat atas hari kelulusan mu Nathan" Mora kembali bersuara dengan senyum di bibirnya.


"Tentu saja, setelah ini aku akan bebas meraih mimpi ku" ucap Mora dengan riang.


"Oh ya memang rencana nya mau apa ?" tanya Nathan yang mulai tertarik dengan perbincangan mereka.


"Aku lebih suka di dunia bisnis, setelah ini aku akan melatih kemampuan ku dengan melamar di perusahan incaran ku, semoga saja aku bisa masuk ke sana."


"Hem, bukankah papa mu pengusaha hebat, kenapa tidak membantu nya agar perusahaan semakin berkembang ?"


"Ucapan mu ngga salah sih, tapi ntah lah aku memang ingin bekerja di tempat lain."

__ADS_1


"Bagus juga, siapa tau setelah itu kamu bisa membangun perusahaan sendiri"


"Mana mungkin, itu akan sedikit sulit" mereka berdua tertawa, sikap Mora yang bar-bar sudah terkenal di pekarangan kampus, sangat tidak patut menjadi pemimpin. Meski terkadang sikap gadis itu menjadi lebih kalem ketika serius.


Mora melihat sekeliling, dan tepat di depan sana dia melihat orang tuanya sedang berjalan bersama teman-temannya. Ada juga Arsen yang sudah tampak rapi dengan pakaian nya.


Mora segera melambaikan tangannya saat tatapan matanya bertemu dengan Arsen, Arsen yang melihat itu segera saja mengajak teman-temannya dan juga orang tua Mora untuk menghampiri Mora.


"Udah lama nunggu nya" tanya Arsen yang kini berdiri di samping nya.


"Ngga lama sih, sekitar satu jam lebih" ucap Mora dengan nada yang di buat-buat.


"Sayang maaf ya mama baru datang, mama dan papa ngga telat kan ?"


"Ngga kok ma, Mora malah seneng banget karena mama dan papa datang hari ini" ucap Mora kembali tersenyum lebar.


"Em, Mora maaf aku pergi dulu ya, Kakak aku udah di depan soalnya" Mora mengangguk, Nathan pun akhir nya pergi.


"Hem kok bisa bareng Nathan" tanya Lea.


"Iya tadi dia nyamperin aku, sekalian kita ngobrol bareng"


"Oh ya ma, kita masuk yuk" Mora mengandeng lengan mama nya lalu mengajak mama dan papa nya masuk ke dalam aula di mana kini beberapa wali mahasiswa pun telah hadir di tempat itu.


Setelah itu Mora dan teman-temannya pergi ke tempat di mana mahasiswa jurusan mereka sudah duduk rapi di aula depan.


"Orang tua kalian datang kan ?" tanya Mora, karena sejak tadi dia belum melihat orang tua teman-temannya, semua temannya itu datang sendirian tadi bersama orang tua Mora.

__ADS_1


"Iya lah ya kali anak nya wisuda ngga datang" ujar Arsen. Mora mengangguk, syukurlah kalau begitu.


Acara itu pun di mulai sesuai urutan rencana, Mora memperhatikan semuanya dengan detai, bahkan Mora merasa senang saat namanya ikut menjadi salah satu mahasiswi berprestasi yang di sebutkan, namun saat tiba di akhir atau penghujung acara, gadis itu di buat terkejut oleh satu hal.


__ADS_2