IVAMORA

IVAMORA
Ruangan Tersembunyi


__ADS_3

Mora terdiam di kursi nya, gadis itu masih memikirkan kepergian Gracella, sebenarnya dia tau jika kedua orang itu masih saling mencintai. Tapi satu hal yang membuat nya heran, jika Gracel memang mencintai tuan nya, kenapa wanita itu dekat dengan lelaki lain di saat statusnya masih menjadi kekasih tuan nya ?


"Ehm" deheman dari tuan nya itu mampu membuyarkan lamunan Mora, gadis itu menatap tuan nya yang sedang duduk di hadapannya, tatapan mata lelaki itu begitu tajam seolah seperti pisau.


"Siapa yang mengizinkan mu memanggilku dengan sebutan menjijikan itu" ucap Karel dengan nada dingin.


"Tidak ada, bukankah tuan tau jika aku tadi hanya melakukan drama, seharus nya tuan berterimakasih kepadaku karena telah membantu mengusir wanita tadi." jawab Mora, gadis itu tidak merasa salah jadi dia tidak meminta maaf.


"Membantu cih" Karel tersenyum sinis, lelaki itu menatap gadis di depannya lekat-lekat.


"Kamu terlalu ikut campur urusan yang bukan menjadi urusan mu" lagi Mora di buat mati kutu, huh.


"Ya sudah lah terserah mu saja tuan mau menganggap itu apa, kedatangan saya kemari karena..."


tok...tok...tok


Belum juga ucapan Mora selesai, kini terdengar ketukan pintu dari luar, asisten Karel datang sambil membawa sebuah berkas di kedua tangannya.


"Ini tuan laporan yang tuan minta" lelaki itu menyerahkan berkas di tangannya kepada Karel, lalu menatap Mora sekilas.


"Kenapa kamu yang membawa nya ?" tanya Karel sambil menatap Mora.


"Laporan ini tadi tidak sengaja di bawa oleh bagian keuangan tuan, karena nona Mora menaruh nya di bawah tumpukan berkas keuangan." Mora melotot mendengarnya, oh gost dia bahkan tidak sengaja melakukan itu, tapi lihatlah tatapan Karel, sudah seperti pedang saja.


"Dasar ceroboh !!"


"Aku tidak sengaja" cicit Mora pelan

__ADS_1


"Tidak sengaja kamu bilang, jika laporan ini hilang apa kamu bisa menganti nya hah ?" Mora terdiam di sana, Karel memberikan instruksi kepada asisten nya untuk keluar, sang asisten pun memberikan anggukan, dan berlalu pergi, meninggalkan Mora dan Karel di ruangan itu berdua.


"Kan saya sudah minta maaf om, kenapa sih masih marah-marah, lagian juga itu laporan kembali dengan utuh kan ?" ucap Mora dengan enteng, gadis itu bahkan lupa menyematkan panggilan tuan dalan ucapan nya.


"Heh saya bukan om kamu" Mora memutar bola matanya malas.


"Udahlah mendingan tuan periksa itu berkas nya ada yang kurang atau tidak"


"Berani kamu perintah saya huh" rasanya Karel benar-benar ingin memukul gadis di hadapannya ini, berkali-kali dia di buat emosi dengan keberadaan perempuan itu.


"Yaaa trus gimana ?"


"Dasar bodoh, kamu yang periksa" bentak Karel, dapat di pastikan jika gadis di hadapannya tidak pergi, Karel akan mengamuk juga.


"Males om, aku tu udah periksa itu beberapa jam lalu, bosan tauk" ucapan itu membuat Karel kesal, lelaki itu berdiri lalu menarik tangan Mora dengan kasar membuat Mora yang semula terduduk kini ikut berdiri.


"Ishh om apasih, ngga mikir apa ini sakit" Karel tidak peduli, lelaki itu menarik tangan Mora dengan kasar membawa gadis itu ke tempat persembunyian nya selama ini. Terlihat banyak sekali buku berjajar di ruangan itu, Mora saja sampai melebarkan matanya saat di ruangan tuan nya itu terdapat perpustakaan tersembunyi.


"Ish perasaan kemarin udah bener deh aku ngelamar jadi asisten, tapi kenapa di perlakukan kaya bodyguard gini sih" Mora berdiri, gadis itu menatap Karel yang kini melipat kedua lengannya di depan perut.


"periksa laporan ini, lalu kalau sudah kamu rapikan semua buku yang ada di meja sana" tunjuk Karel pada beberapa tumpukan buku di atas meja.


"Pastikan semua tertata dengan rapi, jangan berharap bisa keluar dari ruangan ini jika buku itu belum kembali ke rak" lalu Karel pergi setelah memberikan titah kepada bawahannya itu, Mora mengikuti nya, namun tiba-tiba saja rak buku yang tadi bergeser kembali tertutup, Mora mencoba untuk membukanya namun tidak bisa, karena ruangan itu hanya bisa di buka oleh Karel.


"Ahgg..." Mora menendang rak itu, lalu kembali ke tempat semula.


"Di pikir babu apa" Mora menyeret kaki nya untuk duduk di kursi di perpustakaan itu, cukup bersih sih ruangannya, namun tetap saja sunyi dan menyeramkan.

__ADS_1


Gadis itu mulai membuka lembar per lembar kertas di depannya memeriksa apakah sudah benar atau tidak, tidak terlalu susah karena Mora sendiri masih menghafal semua isi dari lembar itu.


Setelah itu, Mora segera menata buku yang berserakan di atas meja, menata nya satu persatu lalu membawa nya ke rak, BERAT satu kata yang mewakili perasaan Mora saat ini. satu buku saja seolah seperti 3 buku, memang sangat tebal.


"Huh kalau kaya gini sore hari baru kelar, mana laper" Mora mengusap keringat di dahi nya, menghela nafas lelah saat melihat beberapa buku yang tersisa.


"Tapi ngga papa, Mora kan kuat" gadis berumur 21 tahun itu kembali mengambil buku yang tersisa, lalu mengambil kursi untuk membantu nya menggapai rak atas, karena tinggi tubuh Mora masih kurang untuk bisa menaruh buku itu.


Mora menata nya satu persatu dengan hati-hati, tinggal buku terakhir semua akan selesai, namun saat akan menaruh di rak, Mora kehilangan keseimbangan, gadis itu terpeleset dari kursi, Mora menutup mata nya, mencoba untuk menerima rasa sakit apabila dia terjatuh, namun gadis itu kembali membuka mata saat merasa adanya tangan kekar yang menahan tubuhnya.


"Dasar ceroboh" Mora mengerjapkan matanya sambil menatap Karel, kedua tangannya melingkar di leher Karel dengan erat. Lelaki itu mendengus lalu membawa tubuhnya, mendudukkan Mora di atas meja.


"Om, hampir aja aku jatuh" sahut Mora


"Itu karena kecerobohan mu"


"Ishh aku ceroboh cuma di depan om doang, mana pernah sebelum nya aku ceroboh. Lagian kenapa sih aku di depan om kelihatan bodoh banget." sahut Mora sambil memajukan bibir nya, Mora merasa kesal karena di anggap bodoh oleh lelaki di depannya ini.


"Emang dasarnya kamu bodoh" ketus Karel, Mora merengut mendengar itu.


"Udahlah aku capek, lapar juga. Mending om kasih aku makanan deh, bisa turun berat badan aku kalau sampai telat makan." Karel merubah ekspresi nya.


"Itu makanan buat kamu" Karel menunjuk sisi sebelah Mora dengan dagu, Mora melirik nya, gadis itu mengambil makanan di samping nya dengan antusias.


"Wah ini makanan bisa di makan kan om ?" Karel memutar bola mata nya, sungguh melelahkan hari ini, di mana dia harus menghadapi spesies aneh seperti Mora yang terlalu banyak bicara.


"Kalau ngga mau yaudah buang aja" ketus Karel.

__ADS_1


"Ngga gitu, aku takut aja kalau om tu punya dendam pribadi terus kasih racun ke makanan ini" ucap Mora dengan bergidik, melirik sekilas perpustakaan besar ini dengan pandangan ngeri.


"Ngga ada gunanya juga saya ngapa-ngapain kamu huh, bikin rugi aja"


__ADS_2