
2 Bulan Kemudian
Di mansion besar keluarga Abiyasa tampak ramai dengan suara ledekan, mereka sedang duduk bersama di taman yang sudah di gelar tikar, nampak lengkap, papa Abi dan mama Mora, kedua adik Mora Alettha dan Arka, serta ada juga Andra yang sejak dari tadi tak berhenti bersuara membuat tawa mereka meledak dengan ucapan laki-laki itu.
"Ini camilan kesukaan mu" Mora memberikan satu Snack yang sudah terbuka kepada adik perempuan nya. Gadis itu berbicara sambil menanggapi Andra yang sejak tadi bersuara.
"Terimakasih kak" jawab Alettha, membuat Mora mengangguk.
Mama Mora nampak melihat interaksi adik kakak itu sambil mengupas buah yang di petik bibi di kebun belakang kemarin.
"Kak Andra mau Snack tidak ?" tanya Alettha sambil bersiap menyuapi.
Mora yang melihat itu nampak menyipitkan mata sinis, lalu saat Andra membuka mulut nya ingin menerima makanan itu, segera saja Mora arahkan tangan adik nya ke mulut nya.
"Itu untuk ku Mora" ucap Andra tak terima, ia menatap Mora dengan tatapan kesal.
"Enak saja" ucap Mora dengan nada ketus.
"Kamu itu perebut sekali" ujar Andra tak kalah ketus.
"Sudah-sudah, Andra ini camilan nya masih banyak kok" lerai mama Mora dengan senyum geli di bibir nya. Putri sulung nya itu memang suka sekali ribut jika sudah bersama dengan sepupunya.
"Huft putri nya ngeselin banget ma" ujar Andra, ia memang memanggil mama Mora dengan sebutan mama. Itu karena permintaan dari mama Mora sendiri.
"Kaya ngga tau aja sikap Mora kaya gimana" ujar mama Mora sambil terkekeh, Mora hanya melirik sinis.
Papa Abi tampak fokus pada satu titik, seperti sedang menunggu sesuatu entah apa.
"Kakak emang gitu ma, selalu ngga suka kalau Lettha deket sama kak Andra" ujar Alettha mengadu.
"Ngadu aja terus" cibir Mora, gadis itu berdiri dari duduk nya karena inggin mengambil handphone ke kamar.
"Mau kemana nak ?" tanya mama nya.
__ADS_1
"Ke kamar ma, mau ngambil handphone" ujar Mora segera berjalan menuju rumah. Menaiki tangga menuju kamar.
Naura massage :
"Mora besok hari ulang tahun ku, kamu datang ya sama Arsen"
Pesan itu Mora baca dengan dahi yang berkerut, dia melupakan teman nya, dia bahkan tidak mengingat jika besok teman nya ulang tahun. Astaga, teman macam apa dia.
Mora :
"Pasti, aku tidak mungkin tidak datang, kita sudah sangat lama tidak bertemu, rasanya tidak sabar menunggu hari besok."
Mora mencari kontak nomor Arsen, lalu segera menghubungi laki-laki itu.
"Ada apa Mor ?" terdengar suara di sebrang sana.
"Naura besok ultah, astaga bisa-bisa nya aku melupakannya." ujar Mora dengan keras, ia berjalan mondar mandir di samping ranjang nya.
"Memang" ujar suara di sebrang sana.
"Ya apa, dulu dia sangat menyukai buku bisnis, coba kamu belikan itu." ujar Arsen.
"Ck dia kan sudah dewasa, mana mungkin menyukai buku lagi."
"Beri aja apa yang menurut kamu istimewa." Mora pun akhirnya mengangguk, lalu mematikan telfon, gadis itu segera berlari menuju walk in closet untuk berganti pakaian, ia akan berbelanja hari ini.
Setelah selesai bersiap, Mora mengambil parfum di atas meja rias, lalu menyemprotkan sedikit ke beberapa titik tubuh nya. Lalu gadis itu segera turun dengan membawa tas selempang nya.
Mora melihat beberapa orang masih tampak berkumpul di taman, ia pun segera menghampiri keluarga nya.
"Kak Mora mau kemana ?" Alettha yang pertama kali menyadari kedatangan Mora, suara nya itu membuat beberapa orang menoleh menatap ke arah nya.
"Kakak mau keluar buat beli sesuatu" jawab Mora dengan jujur.
__ADS_1
"Biar Arka antar kak" laki-laki itu sudah bersiap untuk berdiri, namun Mora menghentikan nya.
"Ngga usah, kakak mau naik mobil sendiri aja, ngga papa kan pa, ma Mora keluar sebentar ?" tanya Mora meminta izin kedua orang tua nya.
"Iya ngga papa, tapi jangan pulang malam" ujar papa Abi dengan tegas.
"Iya nak kalau ada apa-apa kasih pesan atau telfon rumah ya." ujar mama nya.
Mora mengangguk, lalu mengecup kedua tangan orang tuanya. Gadis itu segera berdiri dan pergi menuju ke halaman depan di mana mobilnya sudah terparkir dengan rapi.
Gadis itu mengendarai mobil nya menuju pusat pembelanjaan, setelah mobil nya terparkir dengan rapi, Mora segera saja masuk, ia berharap bisa mendapatkan kado istimewa untuk teman kuliah nya itu.
Mora berkeliling dengan melihat beberapa baju koleksi terbaru yang terpajang rapi di toko fashion, gadis itu berjalan ke arah toko aksesoris, lalu mulai memilih.
Setelah mendapatkan beberapa barang, Mora pun berlalu keluar ingin pulang, gadis itu menunduk dengan melihat beberapa barang yang terbungkus rapi di bungkusan.
Bruk
"Aduh" Mora terjatuh dengan barang yang berserakan, gadis itu segera mengambil beberapa tas di bantu dengan seseorang yang baru saja menabrak nya.
"Maaf, kamu tidak apa-apa kan ?" tanya seseorang dengan suara tegas, seseorang itu membantu Mora berdiri.
Deg
Mora mematung saat bertatapan dengan seseorang itu, mata nya menatap lurus di mana seorang itu juga tampak kaget.
"Hai nona, kita bertemu lagi" ujar seseorang itu, ia mendekat ke arah Mora lalu menyerahkan beberapa tas pembelanjaan yang tadi jatuh.
Mora mengambil nya hanya dengan senyum kecil di bibir nya.
"Aku pikir kita tidak akan bertemu lagi, ternyata takdir mempertemukan kita." ujar laki-laki itu dengan senyum smrik yang terbit di bibir nya.
"Iya tuan" Mora hanya menyahut singkat.
__ADS_1
"Bagaimana jika kita duduk dulu, mengobrol misal." Mora berfikir sejenak, lalu gadis itu menganggukkan kepala nya. Mereka berjalan bersama kembali memasuki pusat pembelanjaan itu, Mora hanya mengikuti saja. Setelah sampai di resto tempat makan, mereka pun masuk dan duduk di salah kursi yang ada di dalam resto itu.
"Mau makan apa nona" ucap laki-laki itu sambil menyerahkan menu yang pelayan sodorkan.