IVAMORA

IVAMORA
Terlalu Egois


__ADS_3

Tiba-tiba Karel berlutut di hadapan Mora, laki-laki itu mengambil sesuatu di jas nya, Mora melihat itu dengan raut bingung.


"Jadi, di sini di hadapan keluarga kita, aku izin memintamu untuk ku, menemani hidupku sekarang dan seterusnya, berharap yang terbaik untuk kedepannya. Jadi Chelsya fermonica Zamora maukah engkau menjadi istriku, menjadi perempuan untuk menemani masa depan ku. Menemani ku berjuang dan menghabiskan kehidupan bersama sampai akhir." ucap Karel dengan wajah sungguh-sungguh, wajahnya terlihat sangat serius, mata nya tampak menatap mata Mora dengan dalam. Sedangkan Mora sendiri, gadis itu nampak masih sangat tidak percaya dengan apa yang di lakukan Karel di depannya.


Sungguh ia sama sekali tak pernah ada pemikiran sejauh ini, ia pikir makan bersama malam ini hanya sebagai wujud permintaan maaf dari laki-laki itu. Namun kini bahkan laki-laki itu melamarnya langsung di hadapan tuan Lewis dan orang tuannya.


"Terima terima" Alettha dan Nathan menyoraki bersamaan, membuat Mora terharu. Karel nampak terdiam, menunggu keputusan nya.


"Jika belum bisa menerima tidak apa" sahut Karel dengan lirih, karena melihat Mora yang tak kunjung menjawab.


"Mau, aku mau banget" ucap Mora dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Mereka berdua tersenyum, Karel berdiri lalu memeluk tubuh Mora dengan erat.


"Yeay, akhirnya aku punya kakak ipar kaya raya" seru Alettha sambil berdecak senang. ucapan gadis itu seketika membuat mata Mora melotot.


"Baiklah, kita harus mencari tanggal yang baik" celetuk tuan Lewis.


"Cari tanggal yang baik ? untuk apa kek ?" tanya Mora.


"Tentu saja untuk pernikahan kalian" jawab tuan Lewis dengan senyum nya. Mora nampak tak setuju mendengar itu, meski ia menerima ia belum terfikir untuk menikah dalam waktu dekat setidaknya 1 atau 2 bulan nanti lah.


Gadis itu menatap Karel lekat, meminta persetujuan dari Karel, namun laki-laki itu hanya diam, seolah menyetujui rencana para tetua.


"Mora pikir beberapa bulan lagi saja kek, mungkin 2 atau 3 bulan lagi, iya kan sayang" ucap Mora meminta dukungan. Namun wajah gadis itu berubah lesu saat melihat gelengan dari kekasihnya.

__ADS_1


"Semakin cepat akan semakin baik, beberapa minggu lagi bukan ide yang buruk" seru Karel dengan tersenyum tipis. Sedangkan Mora yang mendengar itu, wajah nya berubah menjadi pias.


"Baiklah, pernikahan akan di laksanakan secepatnya" seru kakek pada akhirnya.


Dapat Mora lihat semua orang tampak tersenyum bahagia, tak terkecuali orang tuanya yang kini sedang berbincang hangat dengan tuan Lewis.


Pertemuan itu kini telah berakhir, kini Mora bersama Karel dalam perjalanan pulang, sedari tadi gadis itu tak berbicara, padahal Karel sudah berusaha untuk membujuk.


"Masih marah hem" seru Karel, tangannya dengan setia menggenggam tangan Mora.


"Padahal tadi aku bahagia banget, tapi sekarang sedih banget karena di cuekin gini." seru Karel dengan wajah putus asa.


"Salah sendiri, ngambil keputusan ngga izin dulu, emang keputusan aku ngga penting apa." ucap Mora dengan ketus.


"Ya emang buat apa sih nunggu lama-lama by, kan hubungan kita berjalan juga udah cukup lama."


"Iya tau, tapi aku bener-bener belum memikirkan dalam waktu singkat ini rel"


"Nunggu apa lagi sih, apa kamu ngga serius sama hubungan ini"


"Aku serius" ucap Mora


"Kalau emang serius kenapa kekeh buat nunda, kalau kamu memang keberatan, aku bisa membatalkannya."


Mora langsung menoleh, ia tahu jika laki-laki itu marah dan tersinggung. Mora tak lagi menjawab, ia merasa gengsi untuk meminta maaf, karena merasa jika ini bukan sepenuhnya salahnya.

__ADS_1


Saat mobil memasuki rumah Abiyasa, Karel masih terdiam di tempatnya. Tidak seperti biasanya dimana laki-laki itu akan turun untuk sekedar membukakan pintu. Dan tingkah laki-laki itu yang masih marah pun di ketahui oleh Mora.


"Aku turun dulu" ucap Mora sambil melirik laki-laki itu, namun Karel sama sekali tak menoleh.


"Baiklah aku turun" Mora pun dengan segera membuka pintu, gadis itu berjalan tanpa menoleh lagi. Saat mendengar suara mobil yang melaju, Mora pun menoleh.


Seketika mata gadis itu kembali berkaca-kaca, ia berjalan dengan lesu menuju rumah, sepertinya kedua orang tuanya belum pulang. Mora pun langsung berjalan menuju kamar nya.


"Apa aku terlalu egois" seru Mora sambil melihat langit-langit kamar. Mata nya kembali berembun saat mengingat sikap Karel tadi. Sungguh gadis itu memang sangat cengeng, di luar dia memang terlihat sangat egois. Tapi di dalamnya dia sangat pemikir, dia akan terus berfikir tentang sikapnya. Dan dia menyadari jika saat ini dia memang egois.


Gadis itu memejamkan mata seiring dengan bulir bening yang jatuh dari matanya, bohong kalau ia tidak merasa sakit, dan bohong juga kalau ia tak merasa bersalah.


Sedangkan di lantai bawah, terlihat papa dan mama Mora yang baru saja pulang, mereka berdua nampak mencari Mora.


"Nyonya mencari siapa ?" tiba-tiba bibi bertanya, melihat nyonya besar yang menengok kesana kemari membuatnya penasaran.


"Mora sudah pulang bi ?" tanya nyonya Abi.


"Non Mora sudah pulang nya, tadi saya melihatnya berjalan terburu-buru menuju kamar, saat saya ingin menyapa nya."


"kenapa gadis itu terburu-buru, bahkan ia juga tidak berpamitan saat pulang tadi" batin nyonya Abi.


"Ya sudah terimakasih ya bi, saya ke atas dulu" pamit nyonya Abi.


"Iya nya" sahut bibi dengan patuh

__ADS_1


Nyonya Abi pun naik ke atas menyusul suami nya, meski ia merasa penasaran dengan Mora ia berusaha mengalihkan pikirannya. Mungkin saja putrinya itu memang sedang merasa lelah, atau mungkin terlalu bahagia sehingga ingin menghabiskan diri di kamar. Ia tak ingin terlalu berfikiran negatif.


__ADS_2