IVAMORA

IVAMORA
Part Ale : Pria Masa lalu


__ADS_3

Di sebuah perusahaan raksasa yang beberapa tahun ini berkembang pesat dengan semua produk baru nya, terlihat seorang gadis muda yang keluar dari perusahaan bersama dengan seorang pria tampan. Mereka bergandengan tangan menuju mobil.


Hari sudah beranjak petang, sang senja menunjukkan diri nya dengan indah di ujung barat sana, gadis itu duduk dengan tenang, tangan nya memainkan handphone nya yang seharian ini dia abaikan.


"Kenapa wajah mu murung lagi ?" tanya pria di samping nya, melihat wajah gadis cantik itu murung membuat nya selalu tak tega.


"Papa dan mama"


"Masih soal yang sama ?"


Gadis itu mengangguk dengan wajah yang lesu, menaruh hp nya begitu saja, dia sudah kehabisan jawaban untuk kedua orang tua nya itu.


"Kita selesain semua urusan kantor, aku akan minta Alaric buat ambil alih. Kita pulang, kasihan papa dan mama seperti sudah sangat rindu dengan anak gadisnya." ucap pria itu, yang terhitung sudah 5 tahun mereka ada di negeri orang. Meninggalkan keluarga dan orang tua. Pun juga meninggalkan semua cerita menyedihkan yang menimpa mereka.


"Aku sih nurut aja" Sahut gadis itu dengan lesu. Meski begitu ada rasa bahagia di dalam hati karena akan segera bertemu dengan keluarga yang dia cintai.


5 tahun mengasingkan diri sudah cukup membuat luka hati nya terobati, sekarang dia sudah tidak akan lari lagi, karena ada banyak orang yang menyayangi nya. Yang akan siap merangkulnya jika dia kembali terjatuh.


"Gimana kabar Liam" tanya arka menanyakan keponakan nya.


"Bayi itu semakin gembul saja, lihat saja jika aku bertemu dengan nya, aku benar benar akan mengigit nya." seru Alettha sambil terkekeh kecil. Mengingat putra kecil kakak nya membuat ia gemas saja. Bayi tampan nan gembul itu benar benar menarik perhatian nya.


Arka tersenyum tipis, menatap senang pada wajah saudara nya yang kini kembali cerah, tidak seperti tadi yang murung dan mendung.


"Nah gitu dong, gadis cantik don't cry" Alettha terkekeh kecil, menatap haru pada kembaran nya itu, arka memang tak pernah suka melihatnya murung ataupun menangis, lelaki itu selalu berusaha mengembalikan suasana hati nya.

__ADS_1


Mobil yang sedari tadi melaju tak terasa telah terhenti, di sebuah rumah megah yang ada di kota itu, mereka berdua turun dan sudah di sambut oleh 4 orang yang tersenyum pada mereka.


"Kalian kok ada di sini" Ale berujar sambil menghampiri ke empat teman nya itu. Mereka adalah teman nya sewaktu kuliah dulu.


"Emang ngga boleh ?" tanya perempuan cantik yang bernama Heyra.


"Boleh lah, ayo masuk masuk" mereka berenam pun memasuki rumah itu, rumah yang cukup mewah dengan beberapa pekerja. Arka berpamitan untuk membersihkan diri dulu.


"Ale mandi dulu gih" Yola berujar sambil duduk di sofa ruang tamu itu, meminta teman nya untuk membersihkan diri dulu.


Alettha pun mengangguk, langsung saja berjalan ke arah kamar nya, 10 menit mandi dia pun turun, melihat ke empat teman nya yang sedang minum minuman dingin.


"Sini Al duduk" Icha menepuk kursi di samping nya, Alettha menghampiri gadis itu dan duduk di samping nya. Mengambil minuman dingin yang ada di atas meja.


"Gue ada kabar penting buat Lo" Samuel berujar, dia adalah teman pria satu satunya yang Alettha punya di negara ini.


"Ada yang berusaha meretas data pribadi Lo, dan melacak keberadaan Lo Al" Alettha terdiam, pikiran nya tertuju pada satu orang, tapi apakah mungkin. Sudah 5 tahun lebih apakah orang itu masih mencari nya juga.


"Lo tau dia siapa ?"


Samuel menggeleng di sana, mengingat orang itu seperti nya bukan orang sembarangan.


"Lo ada bersinggungan sama seseorang Al ?" Icha yang ada di samping Alettha bertanya.


"Ngga ada, selama gue ada di negara ini gue ngga pernah bermasalah sama siapapun." seru Alettha dengan yakin, hidupnya sudah terlalu pelik dan tak ingin menambah masalah dengan menyinggung orang lain.

__ADS_1


"Orang masa lalu lu mungkin" Heyra menyeletuk dengan asal, sambil mengunyah buah yang ada di atas meja.


Alettha terdiam, mencerna semua ucapan teman nya, tatapan nya terpusat pada Samuel. pria itu mengangguk pelan membuat tubuh Alettha kembali bergetar.


"Itu belum pasti Al, tapi setelah gue lacak lokasi nya emang ada di Indonesia."


Deg..


Alettha mencengkram tangan Icha, setiap mengingat masa lalu nya ia selalu merasa takut. Nyata nya waktu 5 tahun tak membuat ketakutan nya menyurut.


.


.


.


Alettha berdiri di balkon kamar, angin dingin yang berhembus menerjang kulit nya tak juga membuat gadis cantik itu sadar dari lamunan nya. Mata nya tampak berembun.


"Apa aku memikirkan nya, bukannya aku membenci nya ?" mata gadis itu terpejam erat, berusaha menyelami hati nya yang abu abu.


"5 tahun aku pergi, bahkan memutus semua komunikasi, tapi kenapa otak ini terus tertuju pada nya. Bukankah dia sumber terbesar atas ketakutan ku." Alettha tergugu, selama berada di Rusia, dia sering pernah menjalin hubungan dengan seorang pria, bahkan sudah berniat untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius, namun karena saat itu ia masih merasa ragu, dia pun terus menunda nya, hingga ia melihat pria nya itu menjalin hubungan mesra dengan wanita lain.


Jujur saat mengetahui itu ia sempat merasa sakit, bagaimana tidak, dia tulus dengan perasaan nya, namun karena keraguan nya dia harus kehilangan pria yang dia cintai.


Namun meski begitu, dia memang kerap merasa sering memikirkan pria masa lalu nya, meski sebagian dari perasaan nya adalah rasa benci, namun tak bohong kalau dia kerap menangisi pria itu tanpa sadar.

__ADS_1


Setelah merasa rasa sesak yang ada di dada, Alettha pun masuk ke dalam kamar nya, hari sudah beranjak malam, dan besok dia harus bekerja. Dia harus menjaga kesehatan nya kan.


Dengan menutup semua tubuh nya hingga tengelam di balik selimut tebal, gadis cantik itu mulai menajamkan mata.


__ADS_2