
Sore itu, Mora dan mama nya sedang memasak makan malam dengan berbagai menu, di bantu oleh pembantu di rumah itu. Mora menggoreng udang yang tadi dia beli, dia sedang membuat makanan favoritnya.
"Ma, nenek di mana ?" tanya Mora, mama nya itu tampak fokus memasak seperti melupakan sang nenek.
"Nenek udah tidur di kamar, ada yang jaga kok" sahut mama Mora sambil memotong bawang dan cabai, Mora bergidik melihat itu, dia tidak terlalu suka bawang putih, bisa sih kalau di suruh makan tapi tidak terlalu suka.
Mora pun kembali fokus dengan pekerjaan nya, gadis itu mulai menuang semua bumbu ke dalam udang yang sudah di goreng lalu tinggal menunggu nya matang.
"Ma Mora udah selesai, Mora mau lihat nenek dulu ya" ujar Mora sambil mematikan kompor, gadis itu mengambil mangkuk, lalu menuang lauk yang dia masak ke dalam mangkuk itu.
"Ya sudah sana" Mora pun melangkah pergi, saat melewati ruang tamu, ia melihat Karel sedang berkeliling sambil melihat foto keluarga nya yang berada di ruang tamu.
"Ngapain kamu" sahut Mora membuat Karel kaget, gadis itu menghampiri Karel yang memegang foto masa kecil nya, lalu berusaha untuk mengambil, namun tak bisa karena Karel menyembunyikannya.
"Sini, jangan usil deh" sahut Mora kesal.
"Aku cuma mau lihat"
"Tidak boleh" Mora masih kekeh untuk merebut foto itu, namun memang tinggi tubuhnya dan Karel tidak seimbang membuat nya susah mendapatkan foto itu. Gadis itu sampai tidak menyadari saat tangan Karel melingkar di pinggang nya.
Sejenak tatapan mata mereka bertemu, wajah Mora terlihat mengemaskan, padahal gadis itu sedang kesal. Mungkin karena wajah gadis itu yang baby face sehingga tidak terlihat seperti wajah perempuan yang sudah berumur 21 tahun.
"Cantik" ucap Karel dalam hati, laki-laki itu memperdekat jarak mereka sehingga tinggal beberapa centi lagi. Mora melirik tingkah tuan nya itu, ingin tau apa yang akan Karel lakukan jika dia hanya diam tanpa berontak.
__ADS_1
Deru nafas mereka saling menerpa wajah masing-masing, sejenak Karel lupa jika yang ada di hadapannya ini Mora dan malah terbayang wajah Gracella. Wajah keduanya memang sedikit mirip, namun bedanya wajah Gracella lebih dewasa.
CUP
Entah mungkin karena belum sadar jika gadis di depannya Mora atau ntah karena apa, Karel mengecup bibir gadis itu, merengkuh pinggang Mora agar lebih dekat, lalu mulai memungut bibir Mora lebih dalam.
Mora melebarkan mata nya, lalu mendorong Karel dengan kasar, gadis itu mengusap bibir nya yang baru saja di cium Karel lalu menatap Karel dengan nyalang.
"Tuan kenapa sih" emosi Mora sudah ingin meledak karena tingkah Karel.
"Maaf" ujar Karel dengan mata sayu menatap bibir Mora yang memerah, bahkan laki-laki itu mengucapkan kata sakral yang belum pernah dia ucapkan selama hidup nya. Ya selama ini Karel tidak pernah mau meminta maaf meski dia yang salah. Bahkan dengan Gracella pun dia tidak ingin menurunkan ego nya untuk meminta maaf duluan.
"Ck" Mora menghentakkan kaki nya, lalu meninggalkan Karel menuju keluar rumah, mood nya sudah berubah menjadi buruk sehingga rasanya sangat tidak etis jika menemui nenek sekarang. Karena nenek nya itu sangat pintar menilai mimik wajah nya.
"Iya tuan sudah saya maafkan" ujar Mora mengalah, gadis itu melepas tangan Karel namun susah.
Mora menatap Karel, Karel pun juga sedang menatap nya dalam, sehingga tatapan mereka kembali berperang, jantung Mora kembali berdetak kencang di dalam sana, Karel kembali mendekat lalu tanpa pernah Mora bayangkan laki-laki itu membawa tubuh nya ke dalam pelukan.
"Tuann" Mora berusaha melepaskan pelukan Karel, dia sudah panik sendiri, takut jika keluarga nya mengetahui tingkah Karel yang bin ajaib ini.
"Aku tidak tau kenapa sangat sulit menahan diri ketika berada di dekatmu"
Deg
__ADS_1
Mora berhenti berontak saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut Karel itu, rasanya sangat sulit sekali percaya dengan ucapan itu, mengingat sikap Karel kepadanya selama ini.
"Ehm" mendengar suara seseorang membuat Mora melepaskan rengkuhan Karel dengan cepat, dia melihat papa nya berdiri tak jauh dari nya dengan tatapan datar namun menghunus. Mora menelan ludah kasar, dia takut jika papa nya marah.
"Kalau mau pacaran jangan di sini, lagian kalian itu belum menikah tidak boleh pelukan seenaknya." Mora melotot mendengar hal itu, dia menatap Karel dengan kesal.
"Apasih pa, siapa juga yang pacaran" sahut Mora ketus.
"Ngga usah bohong, Karel udah cerita semuanya, kalau kamu kekasih nya. Kenapa kamu ngga cerita sama papa kalau punya kekasih ?" Mora mengernyit tak mengerti. Apa maksud ucapan papa nya itu sebenarnya.
"Memang nya..." ucapan Mora di potong langsung oleh sang papa.
"Udah ayo masuk, kita makan dulu, udah sore ngga baik berduaan terus" papa Abi langsung pergi setelah mengatakan itu, Mora menatap tuan nya sengit, Karel terlihat tidak peduli dan melangkah mengikuti papa Abi, meninggalkan Mora sendiri. Mora pun berdecak dan mengikuti langkah kaki kedua laki-laki beda generasi itu yang sudah lebih dulu memasuki rumah.
Sepanjang jalan Mora hanya melamun sambil memikirkan ucapan papa nya, sepertinya dia harus berbicara dengan Karel nanti, kehadiran laki-laki itu di rumah ini benar-benar membuatnya bingung.
Dan itu tadi apa ? kenapa bisa papa nya dan Karel berbicara seolah mereka memang sudah dekat sejak lama. Padahal biasanya papa Abi itu sulit dekat dengan orang asing apalagi laki-laki. Bahkan laki-laki yang menjadi teman Mora saja harus mempunyai sikap yang baik dan tidak membawa dampak buruk untuk putri-putri nya.
"Duduk dulu sayang, kenapa coba melamun seperti itu" ujar mama Mora, Mora mengerjapkan mata nya, melihat semua orang yang sudah duduk di meja makan, Mora pun mengambil duduk dekat sang papa, lebih tepat nya di samping Karel.
"Nenek mana ma ?" tanya Mora saat tak melihat sang nenek di meja makan itu.
"Nenek makan di kamar, kasihan nenek tidak boleh terlalu lelah" Mora mengangguk, gadis itu merasa di perhatikan oleh lelaki di samping nya namun ia tak peduli dan berusaha bersikap acuh.
__ADS_1