IVAMORA

IVAMORA
Rindu


__ADS_3

"Ingin pulang nak ?" Karel yang berjalan dari kamar Mora menghentikan langkahnya, laki-laki itu menatap ibu gadisnya dengan senyum tipis.


"Iya nyonya saya harus segera pulang" ujar Karel dengan sopan.


"Eh jangan panggil nyonya, panggil saja mama seperti Mora." Karel terdiam, rasanya sungguh aneh memanggil orang tua Mora seperti itu dengan keadaan nya yang saat ini masih menjadi orang asing bagi keluarga gadisnya.


"Untung saja kamu masih berada di sini nak Karel" belum juga Karel menjawab ucapan mama Mora, kini ada suara lain yang muncul, ia adalah papa Abi, lelaki itu tampak berjalan menghampiri istri dan calon menantunya itu.


Karel tetap diam, wajahnya berubah datar, laki-laki itu menatap papa Abi dengan dalam.


"Ada yang ingin saya bicarakan padamu, ikut saya sebentar ke atas." ujar papa Abi lalu meninggalkan Karel begitu saja.


Karel mengikuti langkah lelaki berumur yang masih terlihat muda itu menuju ruangan nya, untuk sejenak ia bertanya-tanya dalam hati. Pasti ada sesuatu penting sehingga ayah dari gadisnya itu memintanya untuk berbicara 4 mata.


"Duduk" sahut papa Abi singkat mempersilahkan Karel untuk duduk di kursi di hadapannya. Saat ini mereka berada di ruang kerja pribadi keluarga Abiyasa. Sudah tentu jika berada di ruangan ini keseriusan Tuan Abiyasa akan terlihat.


"Kenapa anda bisa berada di sini tuan Karel yang terhormat ?" ucapan pertama yang keluar dari mulut tuan Abi, lelaki itu menatap tajam laki-laki di depannya.


"Mora sakit" hanya jawaban itu yang Karel lontarkan. Bukannya tidak menghormati karena hanya menjawab singkat, tetapi ia hanya malas saja berbicara panjang.

__ADS_1


"Lalu ?" papa Abi menatap Karel dengan aura yang penuh dengan intimidasi.


"Sebagai kekasih, tentu saya tak akan tinggal diam melihat gadis saya kesakitan." papa Abi tertawa mendengar hal itu. Tidak pernah ia pikirkan sebelumnya, salah satu pebisnis yang selalu di agungkan banyak orang, yang mendapat banyak gosip tak pernah dekat dengan wanita, apalagi menunjukkan kedekatannya di muka umum kini jatuh cinta. Lebih parahnya malah pada putri pertama nya, yang jelas tentu sangat dia sayangi.


Saat ini papa Abi jadi ragu untuk melepaskan Mora untuk laki-laki di hadapannya.


"Saya tahu anda kekasih putri saya, tapi jika sampai suatu saat nanti saya melihat anda macam-macam kepada putri kami, maka saya sebagai papa nya tidak akan pernah melepaskan anda" ujar papa Abi, tatapannya begitu tajam, seolah sedang menyatakan perang.


"Apakah seorang tuan Abiyasa sudah berubah pikiran, kenapa sekarang berburuk sangka kepada saya ?" ucap Karel, nada bicaranya terdengar begitu tenang seolah tak terprovokasi sedikitpun dengan ucapan lelaki di hadapannya.


"Saya tidak berburuk sangka, saya hanya tidak mau ada yang merusak putri saya."


"Saya tidak mungkin merusak perempuan yang saya cintai." ucap Karel dengan menekankan ucapan nya.


"Kami membesarkan nya dan mendidiknya tentang arti kehormatan, tak pernah sedetik pun putra-putri kami lepas dari pantauan kami keluarga besar Abiyasa. Dan jangan pernah berfikir kami tidak tau apa yang sudah kalian lakukan di belakang kami tuan Ivander."


"Saya tidak akan melakukan apapun di luar batas, tuan Abiyasa. Saya tidak akan memberikan pengaruh buruk untuk kekasih saya."


"Apa buktinya ?"

__ADS_1


"Saya akan terima hukuman apapun yang anda berikan, jika saya sampai mengingkari ucapan saya sendiri."


"Baik, anda yang mengatakan sendiri. Maka saya tak akan sungkan lagi." ucap tuan Abi lalu kembali berlalu keluar ruangan, Karel terdiam sejenak, lalu ikut berdiri dan pergi dari ruangan besar itu.


Sepanjang perjalan pulang, pikiran Karel hanya tertuju pada Mora, bukannya takut dengan ucapan penuh tekanan tuan Abiyasa, ia hanya merasa cemas dengan gadisnya. Bagaimana keadaan gadis itu sekarang, apakah perut nya masih terasa sakit, apakah wajahnya masih pucat seperti terakhir ia melihat nya.


Laki-laki ingin sekali kembali ke rumah keluarga Abiyasa untuk menjaga gadisnya, tapi ia kembali berfikir ulang dan mencoba untuk menahan diri, bagaimanapun juga sekarang keadaannya sudah berbeda, ia tidak bisa berbuat sesukanya yang nantinya malah membuat masalah baru.


Tuan Abiyasa sudah memberikan batasan untuk mereka agar tidak terlalu dekat apalagi sampai melebihi batas. Karel menghela nafas, dia harus kembali menahan diri, dan dia yakin dia mampu untuk itu. Setidaknya untuk beberapa waktu kedepan.


"Semoga saja sakit di perutnya berangsur membaik" ucap lirih Karel penuh harap.


Malam harinya, jam sudah menunjukkan pukul 23.12 tapi Karel masih tampak fokus dengan berkas-berkas perusahaan di ruang kerja nya. Di luar sana suasana sudah tampak sunyi, bahkan beberapa lampu sudah padam. Namun hal itu tak membuat Karel beranjak untuk istirahat, laki-laki itu seperti tak mengenal waktu, terus saja bekerja. Bahkan sampai melupakan makan malam nya.


Karel adalah tipikal orang yang gila kerja, bahkan tak merawat kesehatan nya sama sekali, setiap malam ia hanya akan terus bekerja dan mempelajari bisnis. Selalu melupakan makan malam nya. Dan hanya istirahat dalam waktu beberapa jam saja.


Tingkah nya itu tentu memberikan penyiksaan untuk dirinya sendiri, laki-laki itu sama sekali tak memberikan waktu istirahat untuk tubuh nya sendiri. Meski begitu, Karel sangat jarang mengalami sakit, namun sekali sakit ia tidak akan sembuh selama beberapa hari.


Laki-laki itu merenggangkan otot-otot nya untuk meredakan rasa pegal. Lima jam lebih ia habiskan untuk duduk dengan tangan yang terus aktif bergerak kesana kemari, bahkan tangan itu kini terasa sedikit kebas.

__ADS_1


Laki-laki itu merapikan pekerjaan nya, lalu mematikan lampu utama di ruang kerja. Setelah memastikan semuanya benar-benar terselesaikan, Karel pun berjalan menuju kamar nya yang berada di lantai yang sama dari ruang kerja nya.


Laki-laki itu menghela nafas sejenak, sedang apa gadisnya sekarang, apa sudah terlelap dalam tidur nya, atau mungkin sama sepertinya yang tersiksa dan tak bisa tidur. Rasanya laki-laki itu benar-benar merasa rindu.


__ADS_2