
Pagi ini Mora sedang fokus bersiap, surat lamaran kerja yang dia buat sudah mendapat respon. Teramat senang karena dia di terima di perusahaan yang dia incar dari dulu. Gadis itu kini sedang memilih beberapa pakaian yang sekiranya pas untuk ia kenakan di waktu pertama kali bekerja.
Setelah mendapatkannya, Mora segera bersiap, dia akan mengarahkan tenaga nya untuk pekerjaan barunya.
"Kamu melamar sebagai asisten sekertaris kan ? kebetulan posisi itu baru saja kosong. Kamu ikut dengan saya, saya akan menjelaskan tugas pertamamu."
Pekerjaan pertama Mora adalah, gadis itu di suruh mempelajari tugas dasar, dimana yang akan dia kerjakan beberapa Minggu kedepan, otak Mora yang cerdas tentu saja mampu memahami semuanya dengan mudah, setidaknya pekerjaan nya kali ini tidak terlalu melelahkan.
Saat jam pulang, Mora segera beranjak dari tempatnya, gadis itu memiliki ruangan sendiri, semua pekerjaan nya hari ini sudah dapat dia atasi, kini Mora memutuskan untuk langsung pulang. Badan nya sudah terasa pegal karena duduk seharian di dalam ruangan.
Mora jalan ke lobi sambil memainkan handphone nya, banyak pesan dari temannya yang belum dia jawab, ada juga beberapa panggilan yang tak terjawab.
Bruk
"Eh maaf aku ngga sengaja" Mora segera menyimpan handphone nya, Mora membantu seorang gadis yang mungkin saja seusianya yang kini sedang menata beberapa kertas di lantai.
"Iya ngga papa, tadi aku juga ngga lihat jalan" ucap nya, gadis itu menerima beberapa lembar kertas yang Mora sodorkan.
"Sofia" ucap gadis itu sambil mengulurkan tangan, Mora tersenyum dan menerima uluran tangan itu.
"Mora" jawab Mora dengan antusias.
"Sekali lagi maaf ya udah nabrak kamu" ujar Mora yang merasa bersalah.
"It's oke, btw kamu anak baru ya, aku ngga pernah lihat kamu sebelumnya" ucap Sofia sambil menyipitkan mata.
"Eh iya aku karyawan baru"
"Mau pulang ?" tanya Sofia, Mora mengangguk.
Mereka berjalan bersama ke arah pintu keluar, Sofia masih mendekap erat beberapa berkas di tas kerja nya.
"Kamu mau kemana sof ?" tanya Mora saat Sofia berjalan ke arah jalan raya.
"Oh, aku mau pulang"
"Memang nya sudah ada taksi ?" tanya Mora saat melihat kendaraan berlalu lalang.
"Ngga aku mau jalan kaki"
__ADS_1
"Rumah kamu di mana ?"
"Aku kost deket sini kok Mor"
"Yaudah bareng aku aja gimana ?"
"Memang nya ngga papa ?"
"Iya ngga papa, masuk aja" mereka pun masuk ke dalam mobil Mora, gadis itu melajukan kendaraan meninggalkan kantor.
"Rumah kost ku ada di depan Mor" ucap Sofia sambil menunjukkan jalanan depan.
"Ini kost mu ?" Sofia mengangguk, Mora segera menghentikan mobil nya.
Sebelum turun mereka sempat bertukar nomor handphone, Sofia yang mempunyai usul meminta duluan, tentu saja Mora akan memberikannya dengan senang hati.
"Aku masuk dulu ya Mora, makasih udah di anterin" Sofia tersenyum, Mora ikut tersenyum di sana.
"Iya sama-sama"
"Hati-hati pulang nya" Mora mengangguk, lalu gadis itu melambaikan tangannya pada teman baru nya itu, lalu kembali mengendarai mobil nya pergi dari tempat itu.
Sampai di rumah, Mora segera membersihkan diri, lalu turun untuk makan malam. Perut nya sudah terasa sakit karena lapar.
"Eh non Mora udah pulang ?" bibi terlihat kaget saat melihat Mora yang sudah duduk manis di kursi sambil menatap ke arahnya.
"Udah bi, bibi masak apa, bau nya enak banget"
"Ini makanan biasa yang non suka, non Mora mau makan sekarang ?"
"Ngga deh bi, nunggu yang lain aja" Mora berjalan ke arah lemari pendingin, lalu menuang bubuk susu untuk di buat.
"Eh non Mora, biar bibi buatin susu nya" ucap bibi, Mora menggeleng.
"Ngga papa bi Mora aja, bibi kalau bisa kupas buah aja, Mora pengen buat salad"
"Baik non" bibi memberikan jempol tanda setuju, lalu mulai mengambil beberapa buah segar yang ada di lemari pendingin. Kedua tangannya dengan terampil mengambil buah, lalu mencuci nya.
Mora duduk di kursi, salad buah yang dia buat sudah jadi dan dia letakan dalam lemari pendingin, perut gadis itu berbunyi menandakan saat ini dia sedang sangat lapar.
__ADS_1
"Mora" Mora menoleh, papa dan mama nya berjalan beriringan menghampiri nya, di belakang orang tuanya ada kedua adik nya.
"Mom kenapa lama sih, Mora udah lapar tau" Mora menggerutu, semua keluarga nya kini duduk di kursi nya masing-masing.
"Iya maaf, tadi papa sama mama lagi ada pekerjaan sedikit di kantor, lagipula kalau kamu memang lapar kenapa tidak makan duluan sih nak"
"Ya ngga enak aja kalau makan sendirian"
"Ya udah kita makan sekarang" ujar papa nya.
Setelah selesai Mora kembali berjalan ke arah kamar nya, gadis itu memeriksa handphone nya yang tidak dia sentuh sedari tadi.
"Hai Mora ini aku Sofia, jangan lupa simpan nomor ku ya" Mora segera menjawab pesan itu.
"Ok Sofia, semoga kedepannya bisa menjadi teman yang solid di kantor" jawab Mora di sertai emoticon ketawa.
"Haha it's oke" Mora melihat pesan dan panggilan lain dari Arsen, sejak tadi Mora belum menghubungi sahabatnya itu.
Mora memilih menelfon nomor Arsen, tak menunggu waktu lama Arsen mengangkat panggilan itu.
"Mora, kamu di mana ?" tanya Arsen sebelum mendengar suara Mora, Mora hanya tersenyum, bukankah Arsen begitu peduli dengannya ?
"Aku baru saja pulang kantor Arsen, memang nya kenapa ?"
"Oh astaga Mor, aku telfon tidak di angkat sedari tadi, pesan saja tidak di baca. Apakah hari pertama mu bekerja kamu sesibuk itu ?"
"Emm enggak sih, pekerjaan pertama ku mudah, cuma aku memang belum sempat Arsen" terdengar laki-laki itu menghela nafas di sebrang sana.
"Memang nya kamu mau ajak aku kemana sampai telfon" Mora jelas sudah hafal dengan temannya yang satu itu.
"Aku mau ajak kamu makan siang bareng, waktu itu ada Tasya di kantor, kamu tau kan betapa memuakkan gadis itu." Mora terkekeh, tentu saja dia tau jika sahabatnya itu tak menyukai gadis bernama Tasya itu.
"Oh cuma itu"
"Cuma apa ? dia bahkan melamar menjadi sekertaris ku di kantor, bukankah itu memuakkan. Rasanya aku benar-benar tidak ingin melihat wujud nya." ucap Arsen yang terdengar kesal.
"Kamu jangan jahat begitu Arsen" ucap Mora.
"Tetap saja aku muak dan tak menyukai keberadaannya" Tasya memang musuh Arsen waktu lelaki itu melaksanakan olimpiade matematika, gadis itu mampu mengalahkan Arsen yang waktu itu memang tak belajar, wajar saja lelaki itu selalu percaya diri bahwa dia bisa menjawab semua pertanyaan dengan satu kali lihat. Nyatanya ada seseorang yang mampu mengalahkannya dengan telak.
__ADS_1
Bukan hanya dalam bidang pendidikan saja, Arsen juga menjadi salah satu mahasiswa yang mewakili fakultasnya dalam olimpiade olahraga, namun lelaki itu kembali menemui lawan yang sama, yaitu Tasya. Gadis itu seolah unggul kembali bisa menumbangkan Arsen. Wajar saja jika lelaki itu merasa marah dan kesal.
"Dia selalu saja sok pintar, bahkan menasehati ku cara memperlakukan karyawan dengan benar huh" Mora tertawa di ujung sana, gadis itu sudah membayangkan Arsen yang marah-marah dengan wajah yang memerah.