IVAMORA

IVAMORA
Pantauan


__ADS_3

Tepat saat jam menunjukkan waktu pukul 5 petang, Mora pun berjalan untuk pulang, Karel terlihat masih duduk di ruangan nya, Mora pun terus berjalan sampai akhirnya gadis itu meringis kecil dan hampir terhuyung ke belakang.


"Keras kepala banget si, masih sakit kenapa pake acara keluar segala" Karel mengomel, laki-laki itu tanpa aba-aba langsung mengendong tubuh Mora, membawa gadis itu pergi ke kamar kembali.


"Aku udah baikan" ujar Mora


"Kata siapa, orang tadi hampir jatuh gitu" Karel mendudukkan tubuh Mora di pangkuannya, merapikan rambut gadis itu yang berantakan. Gadis itu menatap Karel dengan mata berkaca-kaca, lalu ia memeluk tubuh Karel sambil menyembunyikan wajahnya.


"Maaf ya soal tadi" ucap Karel dengan lembut, tangan nya mengusap surai hitam gadisnya. Sepertinya gadis itu sedang menangis.


"Hem, marah nya jangan lama-lama" terdengar suara gadis itu yang lirih, Karel melabuhkan kecupan kecil di pelipis gadis itu.


"Sorry by" Karel memeluk tubuh itu, membawa nya kedalam pelukan.


"Sekarang pulang aja ya, biar bisa istirahat dengan leluasa di rumah" Karel merangkum wajah Mora, menghapus air mata yang menetes dari mata gadisnya.


"Cengeng banget si kesayangan aku" ujar Karel dengan senyum geli.


"Ish" Karel pun kembali menggendong gadisnya, mengambil tas Mora yang berada di atas kursi di dalam kamar itu, tadi memang sudah di ambil oleh asisten Vino.


"Aku jalan kaki aja" ujar Mora yang merasa malu.


"Ngga usah, lagian di bawah sepi kok, karena banyak karyawan yang sudah pulang terlebih dahulu." rupanya benar, saat mereka sampai lobby semua nya tampak kosong, Karel mendudukkan tubuh Mora ke samping kemudi lalu mengecup bibir itu.


Tiba-tiba Mora mengalungkan kedua tangannya di leher Karel. Gadis itu mengecup bibir Karel lalu mulai memangut nya lebih dalam.


Karel yang dalam posisi menyamping pun merasa tak nyaman, laki-laki itu mengangkat tubuh Mora untuk duduk di pangkuan nya kembali, ia membalas ciuman gadisnya tak kalah rakus. Melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping itu.


"Em" Mora mengusap rahang tegas Karel turun mengusap dada bidang laki-laki itu dan mengusap nya dengan lembut membuat geleyar aneh timbul pada diri Karel.

__ADS_1


Laki-laki itu semakin merapatkan tubuh mereka berdua, mengecap bibir manis gadisnya yang begitu memabukkan, seolah tak puas hanya dengan itu, Karel pun mulai membuka kemeja gadisnya.


Tangan itu bergerilya untuk menyentuh dada bulat yang cukup besar itu membuat pemiliknya melenguh, Karel menatap gadisnya dengan mata yang sudah berkabut dengan percikan gairah.


"By" Karel mengusap wajah gadisnya dengan sendu, lalu merapikan baju itu kembali.


"Sayang aku ngga mau kaya gini" Karel merengkuh tubuh Mora dalam pelukan mengecup kening gadisnya dengan rasa bersalah.


"Aku ngga mau kelepasan lagi, hanya cukup dengan ciuman dan pelukan. Jangan memancingku seperti tadi lagi." ujar Karel, Mora menatap laki-laki itu dengan rasa terharu yang tidak bisa di sembunyikan.


"Sayang" Mora menatap nya dengan mata berkaca-kaca.


"Maaf sudah lancang" Karel mengusap wajah Mora dengan lembut.


"Aku benar-benar sangat menginginkanmu Chelsya fermonica Zamora, tapi bukan berarti aku bisa menyentuhmu seenaknya kan meski kamu sudah mulai menerimaku." Karel menduselkan kepala nya di ceruk leher gadis itu.


"Maaf" ucap Mora lirih.


Cup


Setelah memberikan kecupan lagi, Karel pun kembali mendudukkan Mora di samping nya, lalu menjalankan mobil itu menuju kediaman Abiyasa. Tanpa mereka sadari apa yang mereka lakukan tadi saat Karel mengendong tubuh Mora di lobby, ada kamera yang mengabadikan momen mereka.


***


"Jadi bagaimana ?" tuntut seorang laki-laki dewasa yang sudah tak lagi muda.


"Ini tuan, seperti nya nona sedang sakit, makanya tuan muda mengendong nya." ujar sang bawahan kepada tuan nya.


"Lalu apa yang mereka lakukan di dalam mobil, kenapa mereka tak kunjung pulang." sahut nya dingin. Sang bawahan menggeleng, ia tak bisa melihatnya karena kaca Karel gelap dari luar. Mungkin memang sengaja di desain seperti itu.

__ADS_1


"Huh" sepertinya ia harus benar-benar memberikan batasan kepada putri nya, agar tidak melebihi batas. Laki-laki itu merasa gusar di perusahaan karena putri nya yang sedang dekat dengan keturunan Ivander itu.


Karel yang sudah tiba di kediaman Abiyasa kembali menggendong Mora, ia tak akan membiarkan gadisnya jalan sendirian dan merasa kesakitan lagi.


"Mora kenapa nak" mama Mora yang melihat itu menghampiri.


"Lagi sakit tante, boleh Karel bawa langsung ke kamar ?" Karel meminta izin.


"Oh boleh, langsung naik lift aja ya, kamar Mora ada di lantai atas." Karel mengangguk lalu memasuki lift yang mulai membawa mereka ke atas.


Setelah bertanya pada Mora, Karel pun menemukan kamar gadis itu, ia membuka kamar gadisnya membawa gadis itu untuk tidur di ranjang.


"Kamu ngga pulang" tanya Mora saat melihat laki-laki itu duduk bersimpuh di samping nya sambil mengusap rambut nya.


"Hem aku juga mau pulang, cepat sembuh ya by" ucap Karel dengan nada cemas, ia kembali mendaratkan kecupan di kedua tangan Mora yang ia genggam, lalu memberikan kecupan lagi di kening gadis itu.


"Iya sayang, makasih ya aku benar-benar merasa di cintai" ucap Mora di akhiri tawa kecil di bibirnya.


"Aku memang mencintai mu, sangat mencintaimu" ujar nya menatap Mora dalam, tak ada raut wajah becanda sama sekali dalam wajah lelaki itu namun wajah penuh keseriusan.


"Sudah pergi sana, aku benar-benar menangis nanti loh" ujar Mora dengan mata yang berkaca-kaca.


Karel mengecup kedua mata indah itu, lalu ia pun mulai berpamitan pada gadisnya meski tak rela.


"Pulang dulu by"


"Iya"


"Kamu sih ngeyel, padahal kalau kita sudah halal, aku pasti bisa merawat mu 24 jam" ujar Karel menarik kecil hidung Mora.

__ADS_1


"Ish apasih" Mora melepaskan tangan Karel yang terus memainkan hidung nya.


Tanpa mereka sadari semua yang mereka lakukan di lihat oleh mama Mora yang berdiri di balik pintu, wanita itu melihat kasih sayang Karel yang begitu besar pada putri nya benar-benar membuat rasa kagum muncul di hatinya.


__ADS_2