
Di mansion mewah Abiyasa tampak seorang gadis yang celingukan berusaha mengintip mansion itu dari luar gerbang, tangan kirinya menggenggam tangan temannya yang hanya diam sedari tadi. Sedangkan tangan kanannya terus bekerja mengetuk gerbang besi itu.
"Oh ayolah" Shofia berusaha sabar, namun satpam di dalam belum membukakan gerbang, sebenarnya kemana satpam itu berada.
"Kita pulang saja sof, sepertinya tidak ada orang di dalam" seru teman nya, cuaca pagi ini tampak terik, jika mereka terus berdiri di sini bisa gosong kulit mereka.
"Tunggu sebentar lagi ya"
Tok...tok...tok
"Iya sebentar" tak lama gerbang itu pun terbuka otomatis, Shofia menarik lengan temannya untuk segera masuk, ia melihat pak satpam berdiri di halaman keluarga Abiyasa, tidak terlalu jauh dari mereka, di tangan lelaki itu terdapat sebuah remote otomatis.
"Ayo" Shofia kembali mengajak temannya untuk berjalan, ia menghampiri pak satpam.
"Non Shofia" sapa pak satpam saat melihat dengan jelas wajah perempuan yang menghampiri nya.
"Halo pak, saya mau ketemu sama Mora boleh ?" tanya Shofia dengan sopan.
"Tentu saja boleh non, silahkan masuk" pak satpam mengantar Shofia untuk memasuki area mansion.
Teman Shofia tampak melihat mansion itu dengan intens, seperti tidak asing tapi ia belum pernah ke mansion ini sebelumnya.
"Mora di mana pak ?" tanya Shofia
"Ada di taman non" Shofia mengangguk, setelah sampai taman Shofia pun berterimakasih, dan membiarkan pak satpam untuk pergi.
"Mora" panggil Shofia saat sudah berada di dekat temannya.
"Hai" Mora tersenyum dengan lebar, ia merentangkan tangannya dan memeluk temannya itu, namun senyum di bibir nya pudar saat ia melihat perempuan di belakang temannya.
"Eh, kamu pasti penasaran ya dengan orang yang aku bawa, kenalin dia teman aku." Shofia mengenalkan temannya dengan antusias.
__ADS_1
"Oh" Mora hanya menjawab singkat, tampak tak minat.
"Kok cuma oh sih" Shofia menatap Mora dengan dahi berkerut, biasanya jika ia mengenalkan seseorang Mora akan senang dan menyambut dengan hangat, namun ini ? terkesan sangat dingin.
"Shofia, sepertinya aku pulang saja" seru teman Shofia dengan nada lirih.
Saat melihat bahwa teman yang Shofia bawa merasa tak nyaman dengan sikap nya, Mora pun akhirnya berdehem.
"Shof" teman Shofia masih saja membujuk Shofia agar membiarkan nya pulang.
"Kenapa sih, aku itu mau ngenalin kamu sama temen aku Cell"
"Tapi..." Shofia melihat wajah teman nya yang pucat. Ia membandingkan hal itu dengan sikap Mora yang terkesan dingin, sebenarnya ada apa.
"Udah ngga perlu debat, ayo duduk, ngga cape apa berdiri mulu." Mora sudah duduk di tikar di taman yang tadi ia gelar, gadis itu menatap dua orang yang terlihat saling membujuk itu.
Shofia pun akhirnya menarik sang teman untuk mendekat pada Mora, meski temannya itu terus berontak, namun pada akhirnya ia berhasil membawa sang teman.
"Apa kamu sudah kenal dengan temanku Mor ?" Shofia iseng mengetes dengan menanyakan langsung pada Mora, rasa penasarannya begitu tinggi saat ini.
"Sudah" Mora menjawab dengan singkat.
"Oh ya ? sejak kapan ? pantas saja tadi kamu tidak merespon kedatangan nya"
Mora mengangkat bahu nya dan menjawab dengan sarkas
"Males" jawaban itu membuat mata Shofia membulat dengan sempurna, hey kenapa temannya itu sangat sinis sekarang.
"Eh Mora ada tamu ya" tiba-tiba mama Mora datang, ia baru saja pulang dari butik. Oh ya jika kalian belum tahu, wanita cantik itu mempunyai sebuah toko baju yang cukup besar, ia seorang desainer terkenal. Banyak baju mewah yang menjadi koleksi toko nya.
"Pagi tante" Shofia menyapa mama Mora dengan ramah, baru kali ini ia bertemu dengan ibu temannya itu, dan Shofia tidak bohong, jika mama temannya itu sangat cantik. Masih terlihat sangat muda dengan wajah halus tanpa kerutan di dahi maupun bawah mata.
__ADS_1
"Pagi nak, namanya siapa ?" mama Mora membalas ramah, ia duduk di samping sang putri.
"Shofia tante, saya teman Mora di kantor" Shofia menjawab dengan wajah berbinar, tampaknya memang cocok dan nyambung berbincang dengan mama temannya itu.
"Em, shof aku pinjem teman kamu dulu ya" Mora mendekat ke arah teman Shofia dan meminta pada gadis itu untuk berbincang berdua.
"Eh nak, kok Shofia malah di tinggal sih ?"
"Ah ngga papa tante, yaudah jangan apa-apain temen aku ya" balas Shofia menyetujui.
"Beres" lalu Mora melangkah meninggalkan taman, di ikuti oleh teman Shofia yang di panggil "Cell" itu.
Setelah mereka sampai di gazebo yang tak jauh dari taman, Mora pun menunjukkan raut wajah herannya.
"Ngapain kamu kesini ?" tanya Mora tanpa basa-basi.
"Aku ikut Shofia, aku juga tidak tau jika teman Shofia itu kamu." jawab nya dengan mata yang menatap ke arah lain.
"Trus sekarang udah tau kan jika teman nya aku, ngga malu kamu menginjakkan kaki di rumah ku heh" Mora tak dapat menutupi raut wajah tak suka nya, bagaimana bisa ia beramah tamah jika teman yang Shofia bawa adalah Gracella mantan kekasih Karel.
"Kamu sengaja ya, mendekati Shofia. Ada rencana jahat buat ngehancurin aku ?" entah kenapa Mora jadi galak saat ini, ia menatap horor ke arah Gracella. Membuat gadis itu menggeleng dengan cepat.
"Aku ngga pernah ada rencana kaya gitu" mata gadis itu berkaca-kaca, melihat itu membuat Mora tertegun.
"Trus ?" Mora masih menuntut penjelasan.
"Aku ngga bisa cerita, maaf" Mora memutar bola matanya, ia sama sekali tak iba melihat wajah gadis di depannya yang tampak menghiba.
"Berarti bener kalau kamu sebenarnya punya niat ngga bener deketin temen aku." Mora menunjuk Gracella dengan raut wajah malas nya.
"Aku berani bersumpah, aku ngga ada niat buruk" entah harus seperti apa Gracell menjelaskan, gadis di depannya itu tampak sangat membencinya.
__ADS_1
"Ya kalau ngga mau di salah pahami, jujur dong. Siapa yang tau kamu mempunyai niat busuk di balik wajah sok manis itu." Mora benar-benar tak gentar, ia sudah di didik seperti Intel sejak kecil, maka ia tak akan diam sebelum membuat musuh nya bungkam.