IVAMORA

IVAMORA
Suasana Rumah


__ADS_3

Lima jam lebih Karel dan Mora bekerja di perpustakaan rahasia, Karel yang sedari tadi sibuk mengetik pekerjaan di laptop nya, dan Mora yang sedari tadi mengecek semua laporan yang perlu di perbaiki.


Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, handphone Mora berdering, Mora melirik nya, itu adalah Arsen. Gadis itu pun memilih untuk mengecilkan volume suara sekaligus mematikan handphone nya.


"Kenapa ngga di angkat ?" Karel yang memperhatikan Mora bertanya dengan nada datar.


"Gapapa Tuan, nanti saja kalau pekerjaan sudah selesai"


"Kalau hal penting bagaimana ?"


"Nanti saya telfon ulang kok tuan"


Karel melihat jam di pergelangan tangannya, lalu menatap Mora yang masih fokus memeriksa lembaran.


"Udah sore, kamu pulang aja"


"Tapi pekerjaannya"


"Udah selesai kok" Mora mengernyit, dia memang sudah selesai memeriksa kesalahan, namun Karel apa mungkin sudah selesai mengetik pekerjaannya.


"Besok kamu ikut saya buat periksa ke beberapa cabang ya, saya mau lihat beberapa pekerjaan di sana" ucap Karel, Mora mengangguk antusias, dia sudah tak sabar menantikan hari esok.


"Em tuan apa saya boleh bertanya, satu hal yang menganggu saya sedari tadi ?" tanya Mora memberanikan diri.


"Hal apa ?"


"Kenapa tuan baik sekali hari ini, padahal beberapa Minggu lalu, tuan sangat dingin kepada saya, bahkan seolah tak peduli akan apapun" tanya Mora sambil mengernyitkan dahi.


"Kamu menyukai sikap dingin saya ? mau saya hukum setiap membuat kesalahan ?" Mora menggelengkan kepala nya dengan cepat.


"Tidak-tidak, saya menyukai sikap tuan yang lembut seperti tadi, em meski ngga bisa di katakan lembut setidaknya sudah lebih baik." Sahut Mora sambil tersenyum.


"Em terserah" Karel membawa laptop nya, sedangkan Mora menata beberapa berkas dan membawa nya, mereka keluar dari tempat itu.


"Huh" Mora menghela nafas lega saat angin dingin dari ruangan Karel menerpa wajahnya. Sekarang dia tidak merasa tertekan lagi karena udara di ruangan Karel lebih baik daripada di ruangan perpustakaan rahasia yang menyeramkan itu.

__ADS_1


"Kamu harus terbiasa di ruangan tadi, karena kedepannya kita akan sering bekerja di ruangan itu" ucap Karel seolah tau perasaan Mora.


"Tapi... kenapa tuan ?"


"Terserah saya, kan saya pemimpin nya di sini" Mora menghela nafas, merasa lelah dan ingin segera pulang.


"Jika memang tidak ada lagi yang harus di kerjakan, saya izin pamit dulu tuan" ucap Mora mengakhiri perdebatan mereka. Dia ingin segera pulang karena merasa lelah.


"Ya ya silahkan, kan aku sudah mempersilahkan sedari tadi. Kamu tidak mendengarnya ya ?" Mora hanya tersenyum, lalu pamit untuk pergi.


Mora berjalan menuju ruang tamu rumah nya, gadis itu kembali menerbitkan senyum nya saat melihat mama nya sedang duduk di ruang santai bersama bibi.


"Sore ma" Mora duduk di samping ibu nya, tangannya menarik pelan tangan ibu nya untuk di cium.


"Baru pulang ?"


"Iya" Mora menyenderkan punggung nya pada sandaran sofa.


"Non Mora kelihatan lelah, mandi dulu saja non" sahut bibi sambil memijat pundak nyonya besar.


"Iya sayang wajah kamu lesu begitu, mandi dulu sana trus istirahat."


"Em Mora terlihat pucat, apa dia tertekan dengan pekerjaan nya ya bi" bibi yang di tanya terdiam sebentar.


"Namanya juga bekerja nya, pasti ada susah nya juga. Tapi non Mora kan gadis yang penuh enerjik. Pasti bisa menghadapi semuanya." sahut bibi berusaha menenangkan nyonya besar.


"Ya, maka dari itu, Mora tadi terlihat begitu lesu, wajar kan jika saya berfikir dia tertekan dengan pekerjaannya."


***


Mora duduk di pinggir ranjang, dia baru saja selesai membersihkan diri. Kini Mora sedang mengotak-atik handphone nya, tujuannya adalah menghubungi Arsen.


"Halo" terdengar sautan di sebrang sana.


"Hai Arsen, kamu tadi menghubungi ku ada apa ?" tanya Mora.

__ADS_1


"Itu aku mau mengajak mu berbelanja"


"Berbelanja ?" Mora mengernyitkan dahi tak mengerti.


"Iya, sebentar lagi mama ulang tahun, aku mau mengajak mu membeli kado, bisa kan ?"


"Oh, iya bisa, sekarang ?" tanya Mora sambil melirik jam dinding di sudut kamar nya. Ini sudah hampir malam.


"Besok saja jika kamu tidak sibuk, karena tinggal tiga hari lagi acara nya."


"Em, besok jadwal aku padat Ar, bagaimana jika lusa, kalau pun waktunya mepet kamu bisa minta asisten mu untuk menemanimu" sahut Mora memberikan saran.


"Asisten ku adalah Anatasya, kamu tau kan aku malas dengan nya"


"Kan ini hal urgent, lupakan dulu rasa tidak suka mu, karena aku memang sibuk untuk hari esok"


"Oh ya sudah lah" Arsen mematikan telfon, Mora menatap layar handphone nya yang sudah mati, antara binggung harus bagaimana. Apakah Arsen marah padanya ?


"Sudahlah biarkan saja dulu" Mora pun keluar dari kamar nya, perut nya sudah keroncongan minta di isi.


"Malam semuanya" Mora duduk di kursi nya, semuanya sudah duduk rapi di meja makan.


"Malam sayang" papa nya menyahut.


"Makan dulu nak, tadi bibi udah masak makanan kesukaan kalian" seru mama Mora sambil menata lauk di meja.


Mora mengambil piring lalu mengambil nasi dan lauk yang dia suka.


"Mora bagaimana pekerjaanmu ? tidak ada masalah kan ?" tanya papa nya.


"Semuanya baik pa" sahut Mora menyuapkan makanan ke dalam mulut nya.


"Syukurlah, sudah papa duga kamu pasti mampu" Mora hanya tersenyum di sana, jelas saja, dia sudah mengincar untuk bekerja di perusahaan itu, jadi dia akan pertahankan posisi nya.


Mereka pun melanjutkan makan nya, Mora nampak lahap dengan makanan nya, sambil mendengarkan obrolan orang tuanya dan kedua adik nya yang bercerita tentang masa kuliah mereka.

__ADS_1


Karena besok Mora akan ikut Karel untuk mengunjungi perusahaan cabang, maka gadis itu memilih untuk pergi duluan ke kamar, sedangkan orang tuanya dan kedua adik nya masih melanjutkan obrolan.


Gadis itu akan mengistirahatkan tubuhnya agar bisa bangun lebih pagi besok, sampai kamar Mora memilih untuk membersihkan wajah nya, lalu beranjak ke atas ranjang, dan bergelung dengan selimut tebal nya.


__ADS_2