
Pagi ini Mora bersama Karel mempunyai jadwal untuk mengunjungi perusahaan cabang, mereka kini sedang berada dalam perjalanan menuju salah satu perusahaan yang ada di kota terdekat.
Mora menatap jalanan di balik kaca, sebelumnya dia belum pernah bepergian ke daerah-daerah, kalau bukan urusan penting. Dari pada di kota-kota kecil seperti ini dia lebih senang jika bepergian di dekat-dekat ibukota untuk sekedar main dengan teman-temannya.
Karena melamun, Mora sampai tidak menyadari jika mereka telah sampai, Karel yang melihat itu pun menepuk bahu nya pelan.
"Ayo kita masuk" seru Karel saat melihat Mora hanya terdiam padahal mereka sudah sampai.
"Eh, iya tuan" Mora segera turun dari mobil
"Jangan sering melamun, apalagi ini masih pagi"
"Iya tuan" Mora tersenyum, mereka berdua melangkah bersama menuju perusahaan yang berada di depan mereka. Terlihat beberapa karyawan berbaris rapi di sepanjang jalan masuk kantor dengan senyum ramah di bibirnya.
Bahkan banyak perempuan di sana yang terpesona dengan wajah tampan pimpinan CEO mereka. Karel memang terlihat tampan dengan setelan jas hitam mahal yang membalut tubuhnya, di padukan dengan sepatu hitam yang mungkin saja harganya mencapai ratusan juta itu.
Mora mengikuti Karel dari belakang, mereka berjalan menuju lobi, Mora ikut mengembangkan senyumnya saat melihat karyawan di perusahaan ini yang ramah.
"Tuan Karel, selamat datang di perusahan ini, apakah tadi ada kendala selama perjalanan kemari ?" tanya seorang lelaki muda yang sepertinya pemimpin di perusahaan ini.
Mora menatap Karel, lelaki itu tak kunjung menjawab ucapan lelaki itu. Mora ingin angkat bicara tapi takut jika tindakan impulsif nya di nilai tidak sopan.
Tapi mulut nya sudah gatal mendengar pertanyaan itu.
"Tuan perkenalkan saya Mora sekertaris tuan Karel, kami tidak mengalami kendala sama sekali dalam perjalanan kemari" Akhirnya Mora angkat bicara karena tak tahan melihat Karel yang acuh tak acuh.
__ADS_1
"Oh baiklah nona, mari kita langsung saja berkeliling perusahaan ini" Mora mengangguk, dia mengandeng tangan Karel saat laki-laki itu hanya diam sedari tadi.
Mereka berkeliling melihat perusahaan itu, Mora memperhatikan semuanya dengan detail, tanpa terkecuali saat lelaki yang dia kira pimpinan perusahaan cabang itu menjelaskan progam kerja di perusahaan ini.
"Produk kita akhir-akhir ini sedang di minati banyak kalangan anak remaja tuan, sehingga kemajuan perusahaan meningkat dengan pesat, bahkan banyak pemesanan baru dari khalayak pembeli tentang pembuatan produk baru kita" Karel dan Mora mengangguk, ya mereka akan lebih meningkatkan lagi hal itu nanti.
"Bagus, pertahankan semuanya, kita bekerja sama untuk meningkatkan perusahaan, saya akan memberikan bonus kepada perusahaan yang sudah meningkatkan kinerja mereka sehingga membuat keuntungan perusahaan meningkat" ucap Karel dengan tegas, Mora tersenyum di sana, gadis itu mencatat beberapa pokok penting dari perusahaan ini yang dijelaskan lelaki di depannya.
"Terimakasih tuan"
Mora dan Karel kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju perusahaan cabang lain, Mora menyandarkan punggung nya sambil membaca tulisan di buku kecil milik nya.
"Kita tidak bisa mengunjungi semua perusahaan hari ini, maka dari itu, kita harus menginap nanti" ucapan Karel membuat Mora menoleh, gadis itu berfikir sejenak sebelum menganggukkan kepala nya.
"Saya akan menghubungi orang rumah, jika tidak akan pulang hari ini" ucap Mora sambil berkutat dengan handphone nya.
Pukul 10 malam Karel dan Mora baru pulang dari perusahaan cabang, Mora memperhatikan jalanan yang sudah nampak gelap karena waktu yang sudah hampir malam.
"Kita akan kemana tuan ?" tanya Mora sambil menoleh ke samping, Karel duduk di samping nya sedangkan di balik kemudi ada supir yang tadi mengantar mereka untuk berkunjung ke beberapa perusahaan.
"Ke apart pribadi saya" jawab Karel singkat.
"Apartemen pribadi ?" tanya Mora sambil mengernyitkan dahi nya. Karel membalas dengan anggukan kepala, dan Mora tak lagi bertanya.
Mereka hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai di Apartemen pribadi Karel. Mora turun sambil mengikuti langkah kaki Karel yang berjalan menuju lift.
__ADS_1
"Kamu sudah memberitahu orang tuamu jika kita akan menginap ?"
"Sudah tuan, tapi saya tidak membawa pakaian untuk besok" ucap Mora mengingat dia tak membawa baju ganti, dia pikir perusahaan cabang hanya beberapa sehingga mereka bisa pulang, tapi ternyata cukup banyak dengan lokasi yang berbeda.
"Tadi sudah di belikan sama sopir"
"Apa ?" Mora terdiam saat mendengar itu, lalu sopir mereka datang sambil membawa beberapa tas belanjaan dan menyerahkan kepada Karel.
"Ini baju mu, segera istirahat, karena besok pagi-pagi kita akan melanjutkan pekerjaan" Mora mengangguk, lalu gadis itu masuk ke dalam kamarnya yang berada di sebelah kamar Karel.
Mora membersihkan diri dan membuka tas belanjaan yang berisi pakaian wanita.
"Kenapa semua nya pas di tubuhku, dan kenapa pakaian ini sesuai dengan selera ku" Mora mematut dirinya di depan cermin, pakaian yang di berikan Karel nampak pas di di tubuh nya.
Lalu gadis itu membuka tas belanjaan yang lain, mengambil pakaian kantor yang di berikan Karel.
"Bagus, tidak terlalu ketat, selera nya boleh juga" ucap Mora sambil tersenyum, gadis itu kembali menyimpan pakaian itu, lalu membaringkan tubuhnya di ranjang.
"Kamar ini sangat besar, bagaimana bisa dia mempunyai apartemen pribadi di sini" ucap Mora sambil melihat langit-langit kamar, kaki gadis itu menjuntai ke bawah dengan pandangan yang lurus ke langit-langit kamar.
"Apa dia pernah membawa kekasih nya kemari" celetuk Mora sambil berfikir.
"Tentu saja pernah, mantan kekasih nya itu sangat cantik. Hem tentu saja Karel sangat menyayanginya" Mora kembali berasumsi.
"Tapi kenapa di kamar ini tidak ada satu pun foto" Mora melihat sekeliling, sepertinya ini kamar tamu, karena tidak ada barang pribadi sama sekali di kamar ini.
__ADS_1
"Sudah lah lebih baik aku segera tidur, besok harus bangun pagi-pagi untuk menyelesaikan semua pekerjaan ini." Mora memperbaiki posisi nya, lalu gadis itu mulai menutup mata sambil memeluk guling.