IVAMORA

IVAMORA
Jangan Egois


__ADS_3

"Seharusnya kamu tak egois, Alettha saja tidak bisa menerimamu, kamu tidak bisa memaksa nya sesuka hati." Karel membuka suara setelah terdiam dalam waktu lama. Mata nya menatap Alex dengan tajam.


"Egois ? anda tidak tau apa-apa lebih baik diam saja."


"Alex"


"Apa, aku benar kan ? dan sejak kapan suami mu yang dingin ini mempunyai hobi mencampuri urusan orang lain." sahut Alex dengan ketus, dulu nya dia menghormati laki-laki ini karena merupakan suami dari sahabatnya. Namun percayalah, siapapun yang menjadi penghambat untuk nya mendapatkan Alettha maka pasti akan menjadi musuh nya.


"Apa kamu tidak punya sopan santun ? Karel berhak untuk mencampuri urusan Alettha karena dia sekarang juga kakak Alettha." papa Abi buka suara, nada bicara nya terdengar sangat dingin.


"Oh ya, kalau begitu saya minta maaf tuan Abiyasa yang terhormat, dan dengan hormat yang tak hilang saya memohon kepada anda. Tolong pertimbangkan permintaan saya. Mumpung saya masih bersedia meminta nya dengan baik-baik." ucap Alex menarik kedua sudut bibir nya membentuk senyum tipis, tapi Mora tau di balik ucapan itu terdapat ancaman.


"Memang nya kamu mau apakan putri ku sampai meminta nya pada kami." mama Abi ikut buka suara, menurutnya pemuda di depannya ini punya aura positif, namun sikap nya sulit di tebak.


Karel dan papa Abi juga diam, menunggu balasan dari laki-laki itu, Alex menghela nafas nya kasar.


"Sikap ini membuat kami tak yakin, dan satu hal, kami tidak akan membiarkan dan rela jika ada yang melukai putri kami, meski hanya segores saja." Alex hanya tersenyum mendengarnya.


"Tidak semua yang buruk itu berarti buruk nyonya, karena yang baik sekalipun belum juga tentu baik. dan anda tenang saja, anda bisa memegang ucapan saya, saya tidak akan mungkin melukai orang yang saya cintai. Saya ingin menjadikan putri anda sebagai istri saya, saya memintanya pada kalian karena saya akan menikahi nya." ucapan Alex terdengar tenang dan halus, tidak ada emosi sama sekali di dalam nya.


Karel sendiri hanya mengangguk mengiyakan ucapan laki-laki di depannya, tapi ada sedikit rasa tidak percaya pada laki-laki ini.


"Kalau kalian masih juga belum bisa percaya, maka biarkan saya berusaha mengambil hati Alettha, kalian juga bisa memulai mengenal saya seperti apa mulai sekarang."


"Baik, saya setuju dengan usul kamu" jawab papa Abi mantap, entah apa yang membuat nya setuju, padahal sudah jelas bahwa putri nya tidak suka dengan laki-laki ini.


Malam ini Mora menginap di rumah Abiyasa, wanita itu sedang berjalan menuju kamar, dengan membawa sebotol minuman dingin. Tadi dia turun karena haus, dan dengan insiatif membawa minuman ke atas agar jika haus lagi tidak perlu turun.

__ADS_1


Rumah itu sudah tampak sangat sepi, karena waktu sudah hampir tengah malam. Mora menutup pintu dengan perlahan, lalu mulai merangkak menuju ranjang.


Mora tidur dengan posisi menyamping, hingga tiba-tiba ia merasakan rengkuhan seseorang.


"By"


"Hm" Karel semakin mengeratkan pelukan, satu tangannya mengusap lembut perut istrinya.


"Jangan usil, aku nya ngga bisa tidur" tanya Mora, dia begitu sensitif pada sentuhan, bahkan kini matanya tidak bisa tertutup. Padahal dia sudah mendapat peringatan dari dokter untuk tidak bergadang.


"Mau kunjungi adik padahal, boleh ngga" ucap Karel lirih, Mora yang paham langsung membalikkan tubuh nya, menatap mata suami nya yang terpejam erat.


"Besok aja ya, ngantuk soal nya"


"Sekarang aja hm" Mora pasrah, Karel mengambil kendali pada tubuhnya, hanya bisa membuat nya melenguh puas.


.......


.


.


Mora turun dan berjalan ke arah meja makan, gadis itu merapikan kembali kotak bekal di atas meja. Dia akan pergi ke kantor Ivander untuk menemui suami nya, sekaligus membawakan malam siang untuk laki-laki itu.


"Nyonya"


"Mobil sudah siap nyonya"

__ADS_1


"Terimakasih ya bi tadi udah di bantu masak" ucap Mora sambil tersenyum tipis.


"Sudah tugas kami nyonya"


Mora pun pergi, mobil mulai berjalan meninggalkan mansion Ivander.


"Selamat siang" ucap Mora kepada resepsionis, sontak kedatang Mora membuat mereka terkejut, mereka langsung menghampiri Mora dan meminta wanita itu untuk duduk.


Semua karyawan perusahaan jelas tahu status dari wanita ini, meski dulu dia juga salah satu karyawan di perusahan Ivander, tapi sekarang wanita itu sudah menjadi nyonya Ivander.


"Eh duduk dulu nyonya"


"Tidak perlu, aku ingin menemui Karel"


"Oh tuan Karel ada di ruangan nya, mari saya antar" Mora mengangguk, mengikuti wanita di depannya.


Sementara itu Karel sedang berbincang dengan vano, mereka membahas tentang beberapa perjanjian kerja sama dengan beberapa pihak, vano yang kemarin sempat mewakili Karel untuk menemui beberapa klien pun menjelaskan beberapa hal yang klien minta. Karel hanya mendengarkan saja.


Sampai obrolan mereka terhenti saat mendengar pintu yang di ketuk dari luar, Karel menyuruh orang di luar untuk masuk.


"Permisi tuan" ucap wanita yang menjadi resepsionis itu dengan kepala yang menunduk sopan, Karel hanya berdehem masih asik membaca beberapa berkas di atas meja, tanpa menoleh sedikit pun.


Mora sendiri memberikan kode pada sang resepsionis yang sudah mengantarnya untuk pergi, sedangkan Mora berjalan ke arah Karel dan berdiri di samping laki-laki itu. Membuat Karel seketika mendongak.


"By" Karel langsung berdiri, dia menatap istri cantiknya yang berdiri dengan wajah polos, Karel pun membawa istri nya untuk duduk di sofa panjang, juga memberikan kode pada vano untuk meninggalkan mereka berdua dengan mata nya.


Vano yang melihat pun langsung mengerti

__ADS_1


"Saya permisi dulu tuan, nyonya"


Mora hanya menanggapi dengan senyuman, lalu dia melihat suami nya yang menatap nya tanpa berkedip.


__ADS_2