IVAMORA

IVAMORA
Menyusahkan banyak orang


__ADS_3

"Eum" di dalam sebuah kamar besar tampak seorang gadis yang tampak gelisah dalam tidurnya, matanya masih terpejam dengan erat, keringat sudah membasahi wajah nya yang tampak pucat. Ia ingin bangun dan teriak tapi mata nya tampak sulit terbuka.


"Hiks, maaf" ia terisak, menatap laki-laki di depannya yang berjalan jauh tanpa menatap ke arahnya sama sekali. Ia merasa takut jika di tinggalkan sendiri.


"Karel maaf" dalam angannya dia berteriak dengan keras, menyebutkan nama kekasih nya yang sedang tidak main-main dalam marahnya.


"Hiks" ia kembali menangis


Pintu kamar mandi terbuka memperlihatkan seorang laki-laki yang sudah rapi dengan pakaian santai nya. Ia berjalan cepat saat melihat Mora menangis dalam tidurnya.


"Shutt sayang" Karel mengusap lembut air mata gadis itu, ia menepuk pelan pipi chubby gadis itu. Membuat Mora terbangun.


"Hiks" Mora yang melihat Karel duduk di sampingnya langsung merengkuh leher laki-laki itu, menangis terisak dalam pelukan nya.


"Kenapa menangis heum" ucap Karel dengan lembut, tangannya mengusap surai hitam gadisnya.


"Maaf" hanya kata itu yang keluar, sejak tadi malam Mora terus saja mengucapkan kata maaf, seolah ia telah membuat kesalahan yang sangat fatal.


"Kenapa meminta maaf" seru Karel tersenyum tipis.


"Aku egois, maaf"


"Shutt sudah ya jangan menangis, aku sudah memaafkan semuanya"


Mora mendongak, menatap Karel dengan mata yang berkaca-kaca, membuat Karel gemas dan mengecup mata sembab gadis itu. Karel mengusap dahi Mora yang sudah tak sepanas tadi malam.


"Demam nya udah turun, mandi dulu ya, bibi udah siapin sarapan di bawah." ucap Karel lalu mengendong tubuh gadisnya menuju kamar mandi.


"Mau di mandiin ?" tanya Karel dengan senyum menggoda, membuat mata Mora melotot, ia memukul lengan Karel dengan keras.


"Aku bisa sendiri" ucap Mora dengan ketus

__ADS_1


"Yakin"


"Iya, sana keluar" ucap Mora, wajahnya tampak memerah.


"Heum, nanti jika selesai panggil aku saja" ucap Karel lalu menarik hidung gadis itu, ia tersenyum saat melihat Mora bertolak pinggang dengan baju miliknya yang kebesaran untuk tubuh gadis itu.


"Ck iya"


Karel turun dari kamarnya, berjalan ke arah meja makan, laki-laki itu melihat para maid yang sedang mempersiapkan makan pagi.


"Tuan" para maid menunduk hormat, saat melihat tuannya datang di meja makan.


Karel meminta kepada beberapa maid untuk naik ke atas, membantu Mora untuk membersihkan diri dan berdandan, sedangkan ia masuk ke dalam ruang kerja untuk menghubungi Vino.


Karel memilih untuk tidak masuk kantor, karena ia akan menghabiskan waktu bersama Mora, sekaligus membahas soal hubungan mereka untuk kedepannya.


Ia sama sekali tak menyangka jika omongannya kemarin membuat gadis itu terluka, padahal ia sama sekali tak marah, hanya sedikit terbawa emosi, tapi ia pikir Mora tak akan senekat itu sampai datang malam-malam saat langit sedang meneteskan air hujan yang cukup deras.


"Iya tuan" ucap vino di seberang.


"Handle perusahaan hari ini, saya tidak masuk ke kantor, jika ada laporan kirim ke email saja."


"Baik tuan" ucap vino tanpa bantahan, Karel mematikan telfon nya, lelaki itu membuka laptop kerja nya dan mulai fokus pada laptop.


Mora turun dari kamar bersama maid, tadi ia turun menggunakan lift yang ada di mansion itu, sebenarnya tadi ia di larang oleh pelayan untuk turun dengan alasan tubuhnya yang masih lemas, namun Mora bersikeras untuk tetap makan di bawah bersama Karel.


"Hey kakak ipar" sampai di meja makan, Mora di sambut oleh Nathan yang sudah duduk manis di kursi. Keberadaan laki-laki itu tentu membuat Mora terkejut.


"Nathan, kok bisa ada di sini ?" tanya Mora dengan raut heran.


"Duduk saja dulu, kita mengobrol, sambil menunggu kekasih mu yang gila kerja itu" seru nathan, ia berdiri dan membantu Mora untuk duduk di kursi nya.

__ADS_1


"Aku mendengar jika kamu sedang sakit karena kehujanan, kenapa bisa kehujanan. Keterlaluan sekali kekasih mu itu." ucap Nathan kembali, wajah nya tampak kesal.


"Sudah tidak papa, salah ku juga yang datang di waktu yang tidak tepat, sehingga malah menyusahkan banyak orang." ucap Mora dengan kepala menunduk, ia merasa bersalah karena demam ia menyusahkan banyak orang.


"Biarkan saja sih, pekerja disini kan di pekerjakan memang untuk di susahkan." ucap Nathan dengan gampang, tampak tak peduli dengan beberapa maid yang mendengar ucapannya.


"Hust omongannya" ucap Mora dengan galak. membuat Nathan tersenyum karena melihat Mora kesal, tadi wajah gadis itu di penuhi oleh kesedihan yang membuatnya merasa tak tega.


Sedangkan di kantor Ivander, semua tampak berlalu lalang menuju ruangan nya masing-masing, Shofia gadis itu tampak tak fokus dengan pekerjaan nya, berkali-kali ia melihat handphone nya yang masih menyala.


Beberapa menit yang lalu, ia mengirimkan pesan kepada temannya tapi belum juga mendapat jawaban, andai saja saat ini istirahat, ia pasti akan menghubungi teman nya itu.


"Mora kamu tidak kenapa-kenapa kan, kenapa tidak masuk ke kantor ?"


Gadis itu kembali mengirimkan pesan baru, ia tampak gusar karena Mora belum berangkat, jika Mora berangkat ia pasti melihatnya, karena ruangan nya tak jauh dari lift khusus petinggi perusahaan yang sering di lewati Mora dan tuan Karel.


"Astaga kemana gadis ini, kenapa ia tak juga menjawab pesan ku" ujar gadis itu dengan gusar, ia membulatkan mata saat melihat vino berjalan menuju lift, dengan cepat Sofia mengejar.


"Tuan vino" ucap gadis itu cukup keras, membuat beberapa orang di sekeliling yang sedang jalan melihat ke arahnya. Kini Sofia berada di depan asisten CEO.


"Ada apa ?" ujar vino, nada ucapannya terdengar sangat datar dan dingin.


"Eum, itu... saya hari ini tak melihat Mora, apakah ia hari ini tidak masuk ?" tanya Sofia.


"Dia sedang sakit"


"Oh berarti"


"Jika tak ada lagi, saya permisi, masih banyak pekerjaan yang harus di tangani" ucap vino, lalu berjalan pergi meninggalkan Sofia.


"Dasar datar" dengus Sofia, ia berjalan dengan kesal ke arah meja nya.

__ADS_1


__ADS_2