IVAMORA

IVAMORA
Jangan Salah Ambil Keputusan


__ADS_3

Pagi itu di di kantor Ivander, Karel berangkat bersama dengan Vino, memang ia yang meminta vino untuk menjemputnya di mansion. Langkah nya yang lebar berjalan menuju lift khusus jajaran teratas, dia berjalan dengan wajah datar nya di ikuti oleh vino di belakang.


"Permisi tuan" tiba-tiba seorang perempuan datang dengan membawa surat di tangannya, dia adalah kepala HRD di perusahaan Ivander.


"Ada sesuatu yang perlu saya berikan pada tuan" ucap wanita itu memberitahu kan tujuan nya.


"Urus Vin"


"Baik tuan" seru Vino mengambil apa yang wanita itu sodorkan, lalu ia berjalan mengikuti Karel yang sudah berjalan terlebih dahulu meninggalkan mereka.


Sebelum duduk di kursi nya Karel sempat melirik ruangan kekasihnya yang kosong, ia bertanya-tanya dalam hati, di mana gadis itu, kenapa belum berangkat padahal hari sudah beranjak siang.


"Tuan tidak ingin tau isi surat ini ?" tanya Vino menatap Karel.


"Apa isinya ?" tanya Karel tak terlalu perduli


"Isinya surat pengunduran diri tuan"


"Oh" Karel tampak sama sekali tak perduli


"Apa tuan tidak ingin tau siapa orang nya ?" tanya vino menatap tuan nya.


"Apa itu penting ?"


"Kurasa iya" vino kembali menjawab lirih


"Memang siapa ?" tanya Karel menangapi ucapan tak bermutu asisten nya itu.


"Yang mengundurkan diri itu nona Mora tuan"

__ADS_1


"Uhuk uhuk" Karel terbatuk-batuk, ia tampak sangat terkejut dengan ucapan itu.


"Jangan becanda vino"


"Saya tidak berani bercanda, jika sedang bersama anda tuan."


"Berikan padaku" Karel mengambil surat itu ia membaca dengan mata yang terus bergerak.


"Kamu bisa keluar sekarang vino, dan kerjakan pekerjaan mu"


"Baik tuan" vino pun pergi, meninggalkan Karel yang tampak marah, laki-laki itu mengambil handphone nya dan mulai menghubungi sang kekasih. Tapi nomor gadis itu tidak bisa di hubungi. Suara operator mengatakan bahwa nomer itu tidak aktif.


Karel meletakkan handphone nya di meja dengan kasar, pikirannya di penuhi dengan pikiran buruk, hatinya merasa takut dan kecewa.


"Angkat by" mata Karel sudah tampak memanas, meski ia tahu jika nomer itu sudah tidak aktif, dia tetap saja memaksa untuk menghubungi.


Tak menyerah begitu saja, Karel kembali mengotak Atik handphone nya, mencari tau keberadaan gadis itu, ia harus bertanya pada gadis itu alasan mengundurkan diri dari kantor. Apa lagi gadis itu tidak bicara padanya lebih dulu dan meminta izin nya.


"Ck" Karel menepis semua barang yang ada di meja, pikirannya kalut, ketakutannya kembali hadir, laki-laki itu menghancurkan apapun yang ada di sekitarnya, menendang ini itu dan bahkan memecahkan handphone mahal nya itu.


"Akhh" Karel mengerang frustasi, sampai akhirnya pintu itu kembali terbuka menampilkan vino yang melotot dari tempatnya, sudah dia duga, pasti hal ini akan kembali terjadi.


"Tuan, tenangkan diri anda"


"Diam brengsek, menjauh dari tubuhku akhh" Karel memukul tubuh vino tanpa belas kasih, tentu vino hanya diam, dia tak akan menanggapi tuannya itu dengan otot, atau bisa gawat urusannya.


"Tenang dulu tuan, kita cari dia sama-sama"


"Akh, sialan" Karel menendang meja hingga meja itu retak dan roboh terkena tendangan maut Karel, laki-laki itu mendorong vino kasar lalu pergi dari ruangannya begitu saja. Meninggalkan ruangan itu yang tampak mengenaskan, bahkan ada beberapa berkas yang robek, kotor, benar-benar tidak bisa di selamatkan lagi.

__ADS_1


"Bereskan" Vino memerintah seseorang untuk membersihkan ruangan itu, ia ikut keluar mencari tuannya yang sudah pergi meninggalkan kantor.


"Astaga nona di mana anda sebenarnya, anda benar-benar membangunkan singa itu kembali" vino menghela nafasnya kasar, mengusap wajahnya frustasi.


Sementara itu di tempat lain, lebih tepatnya di kontrakan Shofia, Mora nampak berbaring di ranjang kecil itu dengan raut wajah galau nya, ia hanya melihat Gracell yang sedang melipat baju di samping nya.


"Kamu beneran ngga ke kantor ?" Gracell melirik sekilas Mora yang tampak uring-uringan sejak tadi.


"Udah telat loh itu" Gracell kembali membuka suaranya.


"Aku resign"


"Kok bisa ? apa alasannya ?" Gracell tampak kaget mendengarnya, ia menaruh baju yang sudah terlipat rapi di lemari.


"Aku mau pergi aja mungkin" jawab Mora dengan ragu.


"Pergi kemana ?" Mora pun menjelaskan kepada Gracella semuanya.


"Apa kamu gila Mora ? kamu yakin mau lakuin itu ?" tanya Gracell yang tak habis pikir, bagaimana bisa temannya itu mempunyai ide rumit seperti itu.


"Entahlah, tapi keinginan aku untuk itu masih begitu tinggi"


"Ck, kamu bakal ngecewain banyak orang kalau melakukannya, termasuk Karel"


"Trus gimana sama nyokap bokap lo, bukannya mereka udah deket sama Karel, bahkan udah kaya mertua sama menantu" Mora gamang, apa yang di ucapkan Gracella itu sepenuhnya benar, akan sangat keterlaluan jika dia bersikap egois, mungkin saja juga laki-laki yang sangat dia cintai itu akan membencinya nanti.


"Pikirkan baik-baik sebelum bertindak Mor, setiap keputusan pasti ada akibatnya, jangan sampai hanya karena terobsesi ingin ini dan itu lo malah mengorbankan orang-orang yang lo sayangi."


"Aku ngerti, makasih ya nasehatnya" Gracella mengangguk, ia mendekat ke arah Mora dan mengusap bahu gadis itu dengan lembut.

__ADS_1


"Kalau ada apa-apa jangan sungkan buat cerita, aku ngga bakal maksa kamu buat ngambil keputusan seperti yang aku sarankan, karena kamu berhak buat memutuskan. Tapi aku berharap kamu ngga ngambil keputusan yang salah." ucap gadis itu lagi.


"Aku mau masak dulu, kamu tiduran aja ngga papa kalau capek" lalu Gracell pun keluar dari kamar, membiarkan Mora istirahat di kamar nya.


__ADS_2