
Pagi itu Mora merasa amat sangat malas untuk berangkat ke kantor, tadi malam sewaktu Karel mengantarkan nya pulang dari kantor, ternyata ia mendapatkan tamu bulanan nya, saat ini perut nya terasa sakit meski ia sudah mengoleskan dengan minyak hangat.
"Kamu yakin mau bekerja nak, biasanya hari pertama mu selalu terasa menyakitkan kan." tanya mama nya, ia menaruh satu gelas jahe hangat di samping Mora.
Mora hanya dapat meringis, meski papa dan adik laki-laki nya sudah biasa mendengar kesakitan nya waktu mendapatkan tamu bulanan. Tetap saja ia merasa malu, lagipula mama nya itu kenapa sih harus membahas nya saat mereka baru saja menyelesaikan makan.
"Wajah mu terlihat pucat, izin saja ya" bujuk mama Mora.
"Iya nak, kamu izin saja, papa rasa nak Karel tidak akan mempermasalah kan nya." sahut papa Abi yang ikut khawatir melihat wajah pucat putri nya. Bukannya berlebihan tapi Mora selalu merasa kesakitan yang berlebihan setiap kali PMS.
"Iya kak, nanti kakak pingsan lo kalau memaksakan diri." Alettha ikut menyahut.
"Ngga papa pa ma, Mora udah terlalu banyak izin. Lagian perut Mora udah mendingan kok." ucap Mora berusaha menenangkan keluarga nya.
"Mora berangkat dulu ya ma pa" Mora segera saja meraih tangan orang tuanya lalu memberikan kecupan sayang.
"Hati-hati jangan sampai kamu pingsan karena menahan sakit." Mora hanya memberikan anggukan, gadis itu segera saja berdiri.
"Bareng Arka aja ya kak, jangan naik mobil sendiri" ujar Arka yang ikut berdiri, Mora memberikan anggukan, mereka berjalan bersama untuk keluar rumah.
Di kantor rupanya perut Mora kembali kambuh, gadis itu beberapa kali mendesis saat merasakan sakit yang teramat di perutnya apalagi kepala nya ikut berdenyut sakit. Ia menutup laporan yang di minta Karel lalu gadis itu kembali mengambil minyak hangat dan menghirupnya, berharap hal itu mampu membuat rasa sakit nya mereda.
"Mora ngga boleh manja" ujar gadis itu menguatkan diri, ia berdiri dengan perlahan dan berjalan menuju ruangan Karel.
Tok Tok Tok, Mora mengetuk pintu dengan tangan yang meremas baju nya, astaga ia benar-benar ingin menangis saat merasakan sakit di perutnya semakin menjadi saja.
"Masuk" seruan dari dalam membuat Mora membuka pintu, gadis itu berjalan ke arah tuan nya yang duduk di kursi kebesaran nya sambil memeriksa sesuatu.
Mora berdiri di samping tuan nya, menunggu tuan nya selesai dengan kegiatan nya. Karel yang melihat Mora berdiri di sisi nya pun mendongak, laki-laki itu terkejut saat melihat wajah Mora yang pucat.
__ADS_1
"Baby are you okey ?" tanya Karel sambil berdiri dan mengusap wajah pucat gadisnya.
Bruk, untung saja Karel dengan sigap merengkuh pinggang gadis nya, laki-laki itu terlihat khawatir saat melihat gadis nya pingsan dalam pelukan nya.
Karel dengan segera mengendong tubuh gadisnya, membawa gadis itu menuju kamar pribadi nya.
Karel langsung berlari keluar ruangan, ia berteriak kepada Vino.
"PANGGIL DOKTER, CEPAT" Karel berteriak seperti orang kesetanan, laki-laki itu kembali menemui Mora, mengusap wajah pucat pasi milik gadisnya dengan lembut.
"Baby, ck kenapa lama sekali sih" Karel berdecak karena dokter itu tak kunjung datang. Saat laki-laki itu ingin berdiri ternyata sudah ada yang mengetuk pintu, Karel membuka dengan cepat.
"Ayo masuk, cepat periksa" ujar Karel sambil kembali duduk di samping gadisnya.
Dokter mengangguk, mulai memeriksa keadaan pasien nya.
"Kenapa dia pingsan ?"
"Ck, jelaskan lebih jelas" ujar Karel dengan kesal
"Nona sedang mengalami masa pertama menstruasi tuan, memang terkadang rasa sakit nya tak terkira, sebenarnya di setiap orang akan berbeda-beda namun mungkin nona tergolong orang yang sensitif."
"Apakah itu parah, apa dia perlu di bawa ke rumah sakit ?" ujar Karel dengan nada khawatir.
"Tidak separah itu memang Selama masa menstruasi berlangsung, rahim akan berkontraksi untuk membantu melepaskan lapisannya. Kontraksi ini dipicu oleh zat yang mirip hormon yang disebut prostaglandin. Nah, kadar prostaglandin yang tinggi sering dikaitkan dengan nyeri haid yang lebih parah."
"Saya akan memberikan obat, setidak nya dapat mengurangi rasa nyeri yang di rasakan oleh nona. Nanti di berikan saat nona sudah sadar ya tuan" ujar dokter itu dengan nada menjelaskan.
"Apa yang harus aku lakukan, agar ia tidak merasa kesakitan" tanya Karel sambil terus menatap wajah gadisnya.
__ADS_1
"Tuan bisa mengompres perut nya menggunakan air hangat, agar otot perutnya tidak tegang dan hal itu juga bisa memperlancar proses pengaliran darah."
"Atau bisa juga buatkan teh hangat karena wanita haid yang minum teh dapat mengalami penurunan risiko kram menstruasi atau dismenore" Karel menganggukkan kepala nya, dokter itu pun pamit undur diri untuk keluar.
Karel segera saja memberikan perintah untuk membawakan air hangat serta teh hangat kepada bagian bawah. Ia segera naik ke atas ranjang, mengecup kening gadisnya yang masih terlihat pucat.
"Shtt" Mora mendesis kembali, saat merasakan sakit di perutnya.
"Baby" Karel mengusap perut Mora dengan lembut, merasa kasihan dengan keadaan gadis itu.
"Sebentar ya" Karel turun dari ranjang untuk mengambil pesanan nya, saat membuka pintu ia sudah melihat pihak dapur yang membawa makanan, teh hangat, serta air hangat yang sudah tersimpan di sebuah botol, serta wadah yang masih kosong.
Karel segera mengambil alih hal itu lalu masuk kembali ke kamar setelah mempersilahkan pihak dapur untuk pergi.
Karel segera melaksanakan perintah dokter tadi, laki-laki itu menuang air hangat ke dalam wadah lalu, merasakan suhu nya yang tidak terlalu panas, ia pun duduk di samping Mora sambil berbisik.
"Sayang maaf ya" laki-laki itu ingin menyikap baju Mora namun tangan nya di tahan oleh tangan Mora. Gadis itu nampak menggeleng dengan wajah yang memerah.
"Nanti kamu kesakitan, sebentar aja, mas sambil tutup mata deh" akhirnya Mora menyerah mendengar ucapan manis itu, ia membuka sedikit baju nya.
Karel segera saja mengompres perut Mora menggunakan handuk kecil, laki-laki itu mengusap rambut gadis nya dengan lembut.
"Sakit banget ya" ucap Karel sambil menatap Mora dengan khawatir.
"Hem" Mora memberikan anggukan. Karel pun ikut berbaring lalu memeluk tubuh gadis itu.
"Makan dulu ya, habis itu minum obat pereda nyeri"
"Sebentar ya, perutnya masih sakit" ujar Mora dengan lirih. Karel mengusap pinggang gadis itu.
__ADS_1
"Iya di pakai istirahat dulu aja, aku yang akan menjaga mu"