
Pagi hari itu Alettha sedang duduk bersantai di taman, dua hari sudah dia mengurung diri di rumah, tidak mau menerima tamu ataupun pergi keluar rumah untuk menghabiskan waktu.
Dia takut bertemu dengan Alex
Rumah sedang sepi, hanya ada arka yang masih ada di kamar nya, laki-laki itu sedang menyiapkan berkas berkas entah Ale sendiri tidak tau untuk apa.
"Non Ale" bibi datang menghampiri nya
"Iya bi, ada apa ?"
"Den arka meminta bibi untuk memanggil nona, katanya di ajak buat sarapan bersama."
"Iya bi saya akan kesana"
Alettha tak menolak meski rasanya dia belum merasa lapar, dia jarang makan pagi jika tidak di paksa itu pun kadang dia suka melanggar. Namun mendengar saudara kembar nya mengajak sarapan bersama membuat Alettha tertarik.
"Tumben kamu di rumah" arka berucap dengan nada meledek pada kembaran nya itu. Biasanya Alettha tidak pernah tahan di rumah, selalu saja keluar entah kemana.
"Di rumah salah ngga di rumah salah" cibir Alettha malas.
"Ngga salah, biar ada yang jaga rumah" arka menyahut dengan mengoleskan selai pada roti nya.
"Ada mahluk juga lagi, kalau aku ngga ada"
"Udah-udah mending kita sarapan, aku tau kamu belum sarapan kan." arka memberikan sepiring roti ke hadapan Alettha.
"Nanti ikut aku ya"
"Kemana ?" tanya alettha sambil mengunyah roti buatan arka.
"Ada lah, ikut aja pokok nya"
"Sebenarnya aku malas keluar, tapi tidak apa-apa lah." ujar Alettha meneguk air di depannya.
"Oh ya aku lupa, dua hari ini kamu di rumah ya, ada apa sih sebenarnya"
__ADS_1
Arka menatap kembaran nya setelah menyelesaikan makan pagi nya, sewaktu Alex nekat masuk dalam mansion Abiyasa Alex memang tidak di rumah, laki-laki itu sibuk untuk mengurus keperluan kuliah nya.
"Salah sendiri kamu ngga ada"
"Kan kamu tau aku ngga ada, sebentar lagi juga aku udah mau berangkat ke Rusia."
"APA ?" roti yang baru masuk ke dalam mulut gadis itu seketika menyembur keluar, Alettha segera membersihkan bibir nya dengan sapu tangan.
"JOROK!!"
"What, tunggu tunggu, tadi kamu bilang mau ke RUSIA ?" tanya alettha tak santai, matanya bahkan menatap tak percaya pada kembaran nya itu, sosok orang yang selalu membantu nya saat dia sedang dalam masalah.
"hm" jawab arka singkat
"Kok bisa sih ?" arka hanya tersenyum tipis, memang tidak ada yang tau jika dia akan pergi kecuali papa Abi, arka juga di sana bukan setahun dua tahun, mungkin 5 tahun lebih untuk menyelesaikan study nya dan pelatihan nya tentang dunia militer dan bisnis.
Ya arka rasa dia harus belajar banyak hal mulai dari sekarang. Dan itu akan bisa dia dapatkan jika dia pergi ke luar negara nya.
"Bisa lah Ale"
"Kalau begitu aku ikut" ucap Alettha tanpa pikir panjang, dia bisa lepas dari jeratan Alex jika ikut dengan arka ke Rusia. Lagian dia tidak tertarik dengan hubungan nya dan laki-laki itu yang sebenarnya sudah berakhir, namun Alex selalu saja menjeratnya.
"NO!!" arka langsung menolak mentah-mentah.
"Oh ayolah, tega sekali kau meninggalkan saudara kembar mu ini, apa kamu mau jika ada yang menyakiti ku nanti, siapa yang akan membantu ku." Alettha menjual kesedihan nya dengan pura-pura menangis, arka tidak boleh pergi sendiri, dia harus mengajaknya ikut serta untuk pergi.
"Aku pergi bukan untuk liburan Ale, tapi untuk belajar" Alettha tetep ingin ikut apapun alasannya.
"Aku tetap mau ikut, aku janji akan belajar yang tekun, kita sudah bersama-sama sejak kecil, jadi tolong jangan tinggalkan saudara mu ini please." Alettha memegang lengan arka, membuat laki-laki itu tak tega. Dia sangat menyayangi saudara nya itu tapi dia binggung. Papa Abi pasti tak akan memberi izin.
"Jika kamu khawatir dengan izin papa, kamu tidak perlu khawatir, karena aku akan pastikan jika papa akan mengizinkan ku, ku mohon arka please."
"Baiklah" seru arka dengan lesu, mau bagaimana lagi, dia sendiri sebenarnya juga tak tega meninggalkan kembaran nya itu.
"Yes" Alethea langsung memeluk tubuh arka dengan erat, lalu tersenyum misterius di balik punggung Arka.
__ADS_1
Di kamar nya Alettha mengusap kedua mata nya yang habis menangis, dia akan meninggalkan negara ini beserta semua kenangan pahit nya.
Meninggalkan Alex yang terobsesi dengan nya dan juga orang-orang yang tak pernah menyukai nya.
Dia akan meninggalkan semuanya, memulai cerita baru bersama kembaran nya.
Selama ini hanya arka yang benar-benar mengerti nya, Alettha sendiri hanya berani bercerita pada saudara kembar nya itu.
Alettha keluar dari kamar sudah dengan pakaian rapi, dia membuka pintu kamar dan mendapatkan seorang laki-laki yang sudah berdiri di depan pintu kamar nya.
"Sam"
"Iya nona, ada apa nona meminta saya datang ke mari" ucap Sam, salah satu anak buah papa Abi yang Ale kenal.
"Temani aku ke kantor papa"
"Baik non mari" Alettha turun bersama Sam, Sam membuka pintu mobil untuk Ale, Alettha masuk dan duduk di kursi belakang.
"Sam"
"Iya non" jawab samudra datar, jika biasanya Ale akan marah saat mendapatkan jawaban singkat seperti itu, kini dia tak ingin terlalu mempermasalahkan nya.
"Apakah suasa hati papa sedang baik ?" tanya Ale mulai mengorek informasi.
"Tidak tau non, begitu begitu saja"
"Ck, jawaban apa itu, aku sedang serius Sam" Ale mendengus.
"Saya juga serius nona" Alettha menghela nafas kasar, padahal jika papa Abi tidak berada di kondisi hati yang baik dia akan membatalkan mengunjungi laki-laki itu dan berbicara di rumah.
Yang membuatnya ingin menghampiri papa nya di kantor karena Ale ingin mengambil hati papa nya itu. Agar mau membiarkan nya pergi.
"Sam"
"Iya non"
__ADS_1
"Tidak jadi" lelaki itu hanya menghela nafas sabar, dengan tingkah ajaib putri bungsu tuan nya itu.
Note : mulai masuk ke cerita Alettha ya, sambil di sesekali masuk part rumah tangga Karel dan istrinya beserta kehamilan wanita itu.