
Mobil pun telah sampai di pantai yang ingin Mora dan Arsen kunjungi, di hadapan mereka kini terlihat hamparan luas air laut yang begitu cerah, karena jalanan yang naik turun membuat Mora bisa melihat pantai yang mungkin jaraknya sudah tak jauh lagi.
"Wah indah banget" di dalam mobil Mora begitu heboh, seperti tidak pernah melihat pantai gadis itu begitu antusias ingin segera sampai. Arsen hanya terkekeh kecil, bukankah temannya itu sangat lucu ?
"Arsen lihatlah, bukankah laut di depan sana terlihat indah" Mora menarik lengan Arsen yang masih menyetir dengan antusias.
"Iya, Mora sebentar lagi kita akan sampai, nah kan kita sudah sampai" Arsen memarkirkan mobilnya di tempat parkiran yang di sediakan.
"Ayo turun" Mora mengangguk, mereka berdua turun, dengan antusias Mora mengandeng lengan temannya itu.
Mereka berjalan bersama sambil bergandengan tangan, Arsen mengajak Mora untuk istirahat di sebuah gazebo di dekat pohon kelapa.
"Kamu mau beli cemilan ?" tanya Arsen sambil melihat sekeliling, banyak penjual keliling di pantai itu yang menjual banyak jenis cemilan.
"Hem aku tertarik untuk makan seafood"
"Mau aku pesankan, mungkin di depan sana ada" Mora mengangguk, satu hal yang sangat dia suka temannya itu begitu baik dan perhatian, beruntung sekali Mora bertemu dengan Arsen.
"Tapi kamu ngga papa kan aku tinggal sebentar ?"
"Iya ngga papa, kaya mau kemana aja"
"Ya udah aku cari cemilan dulu, ngga akan lama, kamu jangan pergi kemana-mana"
"Oke" Mora mengacungkan jari jempol nya pertanda setuju, gadis itu menikmati angin laut yang begitu menyegarkan, rambutnya yang terurai berterbangan karena terkena angin.
Sambil menunggu Arsen datang, Mora memilih untuk bermain handphone.
"Nih aku dapat makanan nya" Arsen datang sambil membawa dua bungkusan besar, lelaki itu duduk di samping Mora.
"Wah" satu kata yang keluar dari mulut Mora, gadis itu membuka bungkusan yang berisi dua minuman dingin. Dan langsung membukanya karena merasa haus.
__ADS_1
"Aku juga membeli beberapa makanan laut, mau di makan sekarang ?" Mora mengangguk, Arsen membuka bungkusan yang satunya, lalu mengambil sumpit.
"Biar aku suapi" kini mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang begitu romantis, padahal mereka memang sudah terbiasa dekat seperti itu. Arsen yang penyayang serta Mora yang manja.
Waktu terus berlalu saat hari sudah menjelang sore, Arsen dan Mora berjalan bersama menyusuri bibir pantai, Mora terlihat begitu antusias dan bahagia, gadis itu mengangkat kedua tangannya di samping badan sambil memejamkan mata.
Menghirup udara pantai yang begitu khas. Bibirnya tersenyum begitu lebar, Arsen melihat hal itu dengan perasaan menghangat.
"Lihatlah Mora" Mora membuka matanya, kini di hadapan mereka di ujung depan sana, terlihat siluet senja yang terlihat begitu indah, Mora tersenyum, bibirnya berdecak merasa begitu kagum dengan ciptaan tuhan yang begitu indah itu.
"Wah itu indah Arsen" Mora berjalan menengah hingga ombak menerjang kakinya, celana yang gadis itu kenakan basah karena terkana air laut. Namun Mora tak peduli, kini di depan nya terlihat ciptaan tuhan yang begitu sempurna, tentu dia tidak akan menyia-nyiakan nya.
"Kamu terlihat begitu bahagia Mora"
"Tentu saja, dengan mu aku akan selalu merasa bahagia" ucap Mora, gadis itu memeluk tubuh Arsen karena perasaan bahagia.
"Ya, kita kan sahabat, bukankah begitu"
***
Sementara itu di tempat lain, terdapat seorang wanita setengah baya membuat kerusuhan di mansion milik Karel wanita itu berteriak keras meneriaki nama sang anak.
"Karel" para pelayan sudah berusaha untuk menenangkan wanita itu, tapi seolah tak punya malu wanita yang menjadi mama Karel itu terus saja berteriak seperti orang gila.
"Lepas, berani kalian kepada saya"
"Maaf nyonya, tapi tuan Karel tidak ada sekarang"
"Kalian pikir saya percaya huh" wanita itu duduk di sofa karena lelah berteriak.
"Cepat telfon karel, suruh dia pulang , dan katakan jika saya datang" ucapnya dengan angkuh, para pelayang segera pergi meninggalkan wanita itu, sedangkan pemimpin maid menelfon asisten Karel dan mengatakan jika nyonya besar datang sambil membuat keributan.
__ADS_1
Karel yang mendengar mama nya datang tampak malas, lelaki itu pulang ke mansion dengan raut wajah kesal, Karel begitu muak dengan tingkah mama nya itu.
Tak butuh waktu lama untuknya tiba di mansion, laki-laki itu melangkah ke dalam mansion dengan tegas. di lihat mama nya itu tampak duduk santai di sofa sambil bermain handphone.
"Untuk apa anda datang ke sini ?" tanya karel dengan nada dingin, jangan pernah ingatkan dia jika saat ini sedang berbicara dengan mama nya, karena mama adalah sumber trauma nya.
Yang membuat sikapnya seperti sekarang, tidak mengenal kasih sayang, dan terus merasakan trauma.
"Karel" mama nya itu berdiri dan menghampirinya, namun Karel menghindar dan duduk di sofa tunggal.
"Katakan, saya tidak suka basa-basi" seolah tak mengenal sopan santun Karel menatap mama nya tajam.
"Bukannya mama udah kasih pesan jika mama membutuhkan uang, kenapa kamu tak juga mengirimkannya"
"TOM" suara Karel menggelegar di ruangan itu, Tom sang asisten berlari ketika mendengar suara tuan nya yang bernada penuh amarah.
"Iya tuan" Tom berdiri di samping tuannya, dalam hati merapal doa agar selamat dari amukan tuan nya, lelaki itu berfikir apa salahnya saat ini sampai tuan nya terlihat sangat marah seperti saat ini.
"Apa kamu sudah mengirim uang nya ?" tanya Karel sambil menatap asisten nya tajam.
"Sudah tuan, tadi malam saya langsung mengirimkan uang itu" kini tatapan Karel tertuju ke mama nya, wanita itu begitu santai, sama sekali tak takut dengan raut wajah putra nya yang menyeramkan.
"Kamu pikir segitu cukup ? oh ayolah Karel kebutuhan mama banyak, uang segitu cukup buat apa ?" Tom hampir saja pingsan mendengar ucapan nyonya besar, bisa-bisanya wanita itu mengatakan jika uang yang di kirimkan tak cukup, padahal jumlahnya hampir setara dengan gaji nya dua bulan.
"Berhentilah jadi orang yang tidak tau diri MAMA, lagipula bukannya suami anda yang baru kaya raya, kenapa tidak meminta kepadanya saja"
"Kamu kenapa bicara begitu, apa kamu lupa, kamu tidak akan ada tanpa mama, dasar pembawa sial" ucap wanita itu kasar.
"Baru di mintai uang saja seperti itu, dasar tidak berguna" sarkas nya lagi.
"Jangan biarkan dia datang, atau menginjakan kakinya di mansion ini lagi" Karel berlalu begitu saja, membiarkan mama nya itu terus berteriak mencaci nya.
__ADS_1
"Dasar anak haram harusnya kamu sadar tanpa mama kamu tidak akan bisa hidup" Tom segera menyeret mama tuan nya itu untuk pergi, dia ikut merasa sakit hati mendengar suara wanita itu yang kasar.