
"Hubby" Karel menatap ke arah Mora, mata nya mendelik saat melihat istrinya itu sedang menangis terisak di atas ranjang, Karel pun menghampiri dengan wajah panik.
"Ada apa" Karel mengusap kepala Mora dengan lembut.
Mora tak menjawab, hanya terus menangis tanpa henti. Karel pun mengalihkan tatapannya dan menatap dokter yang berdiri di ruangan itu dengan tajam. Membuat sang dokter meneguk ludah nya kasar.
"Ada apa dengan istriku" ucap Karel dengan dingin, melihat istrinya yang menangis entah karena apa membuat Karel takut dan emosi, andai benar istri nya kenapa-napa dia akan menghancurkan rumah sakit ini.
"Nyonya Mora tidak kenapa-napa tuan" ucap dokter itu dengan nada di buat setenang mungkin.
"KALAU TIDAK KENAPA-NAPA TIDAK MUNGKIN DIA MENANGIS" bentak Karel keras, semakin tajam menatap petugas yang ada di ruangan itu.
"By" Mora merengkuh lengan Karel, berusaha menenangkan suaminya yang sudah emosi duluan itu, wanita itu menghapus air matanya.
"Kamu kenapa, apa ada yang sakit ?" nada bicara Karel berubah lembut, dia mengusap wajah istrinya dengan sayang.
"Di sini" Mora mengambil telapak tangan Karel lalu menaruh nya di perut. Mata nya menatap mata Karel dengan berkaca-kaca.
"Benar karena asam lambung, tidak apa-apa. Kita bisa mengobati nya sampai sembuh." ucap Karel menenangkan, dia tidak punya penyakit itu sih, tapi dia tau jika itu rasanya sangat sakit.
Mora menggeleng masih dengan mata yang berkaca-kaca, melihat hal itu semakin membuat Karel bingung.
"Disini ada debay" ucap Mora tersenyum haru, kerutan di dahi Karel semakin jelas, debay itu apa.
"Maksudnya ?"
"Bayi by, kita akan segera menjadi orang tua" ucap Mora dengan cemberut, kenapa suaminya malah tak antusias sepertinya yang sampai menangis.
"SERIUS BY ?" tanya Karel dengan spontan, bahkan dia langsung duduk dan menggenggam telapak tangan Mora.
Mora mengangguk, seketika membuat Karel tersenyum haru, dia langsung memeluk istrinya dan memberikan kecupan berulang kali di wajah wanitanya. Para perawat dan dokter pun pergi memberikan waktu untuk calon orang tua baru itu.
"Lalu kenapa tadi menangis, membuatku panik saja" Karel mencubit pipi istrinya, lalu mengecup nya setelahnya. Ia juga memberikan kecupan singkat di perut sang istri.
"Halo boy, baik-baik di perut mama" ucap Karel tersenyum tipis.
"Kok boy si" ucap Mora heran, dia membiarkan suaminya mengelus perut nya yang masih rata itu.
__ADS_1
"Aku berharap dia laki-laki" jawab Karel apa adanya, senyum di bibirnya tak pernah luntur, ini untuk pertama kalinya laki-laki itu tersenyum dalam waktu yang lama.
"Kalau perempuan bagaimana ?"
"Ya tidak apa-apa, aku akan tetap menyayanginya"
"Usia nya masih dua Minggu" ucap Mora, sesuai dengan yang di bilang dokter tadi. Dia langsung menangis saat dokter mengatakan bahwa dia sedang mengandung.
"Ya sudah, tau sekarang ada dia, kamu harus kontrol makan kamu ya."
Mora mengangguk patuh, dia tidak akan makan sembarangan lagi mulai sekarang.
"Good" Karel mengusap kepala Mora, lalu mengecupnya lembut.
"Sudah sekarang istirahat lagi" perintah Karel sambil menata selimut. Mora menggeleng dia tak ingin berlama-lama di rumah sakit ini.
"Kita langsung pulang aja ya, kata dokter boleh langsung pulang kok."
"Beneran ?" ucap Karel ragu
"Iya, udah baikan ini, lagian ngga nyaman di sini lebih lama."
Karel langsung mengendong tubuh Mora, membawa wanita itu kembali menuju mobil.
"Loh kak" Mora mengintip dari balik dada suaminya, dia melihat adiknya yang sedang keluar dari pintu rumah sakit sambil membawa kantung kresek.
Mora pun seketika meminta Karel untuk menurunkannya.
"Kamu kok ada disini ?" tanya Mora heran, langsung saja menghampiri adiknya.
"Ada keperluan" jawab Alettha dengan kalem, dia memperhatikan penampilan kakak nya yang amburadul.
"Kakak habis konser di sini ?"
Bug...
"Kamu ini keterlaluan ngomong kakak kaya gitu" ucap mora dengan ketus, enak saja dia dibilang sedang konser. Ngapain coba konser di rumah sakit, sedangkan Karel hanya tersenyum tipis. Mora tau jika laki-laki itu sedang meledek nya.
__ADS_1
"Ya habis penampilan kakak berantakan banget"
"Kakak kamu habis periksa"
"Loh emang sakit apa ?" tanya alettha sambil menatap Mora intens.
"Ngga sakit kok, emang periksa ngga boleh ya"
"Kakak kamu ngga sakit, tapi dia lagi hamil" mata Alettha membulat, dia menatap terkejut pada kakak nya.
"Serius ini lagi hamil" Mora hanya bisa merutuki dalam hati, pasti Alettha akan memberitahu orang rumah.
"Mama harus tau sih" Mora langsung mencegah adiknya untuk pergi, dia kan niatnya ingin memberitahu orang tua nya sendiri.
"Aku ke rumah nanti, biar aku kasih tau sendiri" ucap Mora, sekaligus dia ingin bertemu dengan arka dan nenek nya yang sedang sakit.
"Bagus, kalau nanti malam tidak datang, aku sendiri akan memberitahu mama." Mora hanya memutar bola matanya.
"Berani nya hanya mengancam" sindir Mora
"Biarin sih" Alettha menjawab sinis, dia bahkan tidak peduli meski ada Karel disitu. Dia pun langsung mengalihkan pandangan.
"Sudah aku harus pergi, sampai ketemu lagi nanti kakak ipar." ucap Alettha lalu berlalu pergi sambil mengedipkan mata genit.
"Kurang ajar" ingin sekali Mora memukul kepala adiknya itu.
"Sudah jangan marah-marah, sebaiknya kita segera pulang." Karel membuka pintu mobil, dengan kesal Mora pun masuk.
Selama di perjalanan Mora terus menggerutu, heran mama nya menemukan Alettha dimana sih. Kenapa sekarang sikap gadis itu jadi menyebalkan.
"Ini bibir ngga bisa diam ya" Karel mencubit bibir istrinya.
"Ish biar saja, aku sedang kesal" semprot Mora, menepis tangan suaminya.
"Jadi nanti kita ke rumah papa ?" tanya Karel mengalihkan topik.
"Iya, aku sudah kangen banget sama mereka, apalagi nenek, aku denger nenek sering sakit akhir-akhir ini." jawab Mora, nada bicara nya berubah sedih, Karel mengusap bahu wanita itu, lalu kembali mengecup kepala nya.
__ADS_1
"Kita lihat nanti ya, aku juga udah lama ngga ketemu nenek. Sudah jangan sedih lagi, kita akan memberikan kabar bahagia untuk mereka." ucap Karel panjang lebar.