IVAMORA

IVAMORA
Jangan Menolak Lagi


__ADS_3

Deg


Mora menelan ludahnya mendengar ucapan kakek Lewis, menikah ? astaga itu terdengar seperti mimpi buruk untuk nya, hey usia nya masih sangat muda untuk membina rumah tangga.


"Baik, kami akan segera menikah, saya akan mempersiapkan semuanya" ucap Karel dengan enteng, bibir nya tertarik membentuk seringai, tentu saja di sini ia yang paling senang. Sejak kemarin-kemarin juga ia sangat sulit mengajak gadisnya itu menikah.


"Tapi"


"Jangan membantah Mora" sela papa Abi sebelum Mora menyelesaikan protes nya.


"Tapi pa, tadi kan Karel udah jelasin. Kita ngga pernah macam-macam pa." Mora memelas, berusaha mengajak papa nya bernegosiasi.


"Apa yang menurut kamu bukan macam-macam itu sudah melebihi batas wajar Mora." gadis itu menghela nafas, sekarang dia tak bisa beralasan lagi, karena sudah terpojok.


"Yasudah lah" Mora menghela nafas lirih, tak mungkin juga membantah ucapan sang papa.


Karel melirik ke arah Mora yang tampak terisak di sofa, laki-laki itu menghela nafas, lalu menghampiri gadisnya.


"Makan dulu yuk, ngga laper apa by" Karel berusaha membujuk, karena kekasihnya itu belum makan siang tadi.


"Ngga mau hiks" Mora mengusap air mata nya kasar


"Kenapa sih pake nangis segala, kan bagus kalau kita nikah, ngga jadi salah paham lagi." Karel mengusap rambut kekasihnya dengan lembut.


"Ish ini semua salah kamu" mata Mora menyorot kesal, ia menepis tangan Karel dengan kesal. Tapi hal itu tak membuat Karel menyerah, ia malah menggoda Mora.


"Memang nya kamu tak mau menikah dengan ku, tak takut jika aku berpaling pada perempuan lain ?"


"Huaa, belum nikah aja udah mau selingkuh gimana kalau udah nikah" Karel terkekeh gemas, ia mencubit pipi gadis itu yang tampak memerah.


"Ngga ada yang mau selingkuh by, punya rencana selingkuh aja ngga." laki-laki itu tidak tahan dengan sikap gadisnya yang uring-uringan, ia membawa Mora dalam dekapan hangat nya.


"Cup cup kesayangan Karel cengeng banget sih" Karel masih terus menggoda Mora.


"Makan dulu ya sayang, biar ngga kurus"

__ADS_1


"Haish" Mora kembali menepis lengan laki-laki itu.


"Makan" tekan Karel


"Ngantuk, mau tidur"


"Ngga boleh" larang Karel


"Ish orang ngantuk di larang"


"Makan dulu baru tidur" paksa laki-laki itu, akhirnya dengan menghela nafas Mora pun menuruti ucapan laki-laki itu.


"Aku pesenin makanan nya"


"Ngga usah aku bawa bekal kok" sela Mora mencegah Karel yang ingin berdiri.


"Mana ?" tanya laki-laki itu.


"Ada di meja aku" Karel mengangguk, lalu meminta vano untuk mengambilkan tas gadis itu.


Setelah sampai, Karel pun membuka tas itu, melihat ada kotak bekal ia pun segera membuka nya, seketika tercium aroma yang begitu harum dari makanan yang ada di kotak bekal itu.


"Ini masakan siapa ?" tanya Karel yang merasa nagih dengan makanan Mora.


"Masakan aku"


"Hem, belajar resep yang banyak. Biar bisa jadi istri yang baik." ucap Karel sambil mengusap rambut gadis itu dengan lembut.


"Hiss" Mora kembali menerima suapan dari Karel, 1 tahun lebih berhubungan ia sudah terbiasa menggunakan sendok yang sama. Dulu dia pernah menolak sih, tapi Karel malah marah sampai tiga hari karena tersinggung.


"Sudah" ucap Karel menutup kotak bekal lalu menyimpannya di atas meja. Laki-laki itu memeluk Mora yang sedang meminum air, menghirup dalam-dalam aroma tubuh gadisnya.


"Manja banget sih" seru Mora, membiarkan Karel memeluknya.


Cup

__ADS_1


Karel mengecup bibir gadisnya, awalnya hanya menempelkan bibir, namun karena merasakan betapa lembutnya bibir gadisnya ia pun melahap bibir gadis itu dengan lembut.


Untuk sejenak mereka tampak larut dalam ciuman memabukkan itu, Karel mencari posisi ternikmat untuk mereka, bahkan laki-laki itu tidak sadar saat Mora sudah terbaring di sofa itu dan berada di kukungan nya.


"Em" Mora langsung mendorong tubuh besar itu dengan kasar, ia mengambil nafas sebanyak mungkin untuk menetralkan pernafasannya. Perlu di ketahui, Mora itu payah dalam berciuman, apalagi jika berciuman dengan Karel, hatinya selalu saja merasa gugup.


Cup


Karel mengecup kening gadisnya dengan sayang, membawa tubuh lemas itu dalam pelukan.


"Hiks" Mora merengek, mulutnya sampai membengkak karena ciuman Karel yang menggebu.


"Jahat banget sih" Mora memukul punggung laki-laki itu.


"By" Karel berucap lirih di telinga gadis itu.


"Aku mau kamu, jangan menolak aku lagi" seru Karel dengan nafas yang memburu, bagaimana pun juga dia menginginkan Mora, dia mencintai gadis itu dan mempunyai harapan besar untuk bersama. Ia ingin memiliki Mora seutuhnya, melindungi gadis itu dari apapun nanti.


Mora menghela nafas, ia menyingkirkan tubuh Karel, merapikan penampilan nya yang berantakan.


"Udah, ngga ada cium-cium lagi, aku mau kerja" Mora langsung pergi begitu saja, meninggalkan Karel yang tampak tak rela melepaskannya. Biarkan saja, dia tak mau jika ketahuan lagi dekat dengan Karel. Benar-benar bisa marah besar papa nya nanti. Pulang dari kantor, Mora kembali menghampiri Shofia.


"Mau langsung pulang, atau mampir ?" tanya Mora


"Ke supermarket Deket kontrakan ya Mor, soalnya mau beli bahan dapur. Habis di rumah."


"Oh oke" Mora melajukan mobilnya menuju kontrakan Shofia. Mencari supermarket terdekat, lalu mereka berdua pun turun dan masuk ke dalam supermarket itu.


"Ck" BRAKK


Vino mengusap dada nya pelan, melihat tuan nya yang uring-uringan sejak tadi membuat ia heran.


"Kita pulang tuan ?" tanya vino hati-hati


"Apa kamu bodoh ?" bukan nya menjawab tuan nya itu malah mengumpat.

__ADS_1


"Memang mau kemana hah" Karel sedikit berteriak, Vino mengangguk dan mulai menjalankan mobil.


"harusnya tidak perlu berteriak" Vino hanya bisa berbicara dalam hati, kenapa coba sikap tuannya itu begitu ketus, padahal selama ada Mora, laki-laki itu akan bersikap lebih baik padanya.


__ADS_2