
"Ayo kak kita turun" Alettha datang dengan pakaian yang sudah ganti, gadis itu sudah mengenakan gaun indah yang membalut tubuh nya. Terlihat sangat kontras dengan tubuh gadis itu yang ramping dan tinggi.
"Kakak benar-benar cantik" Alettha berdecak kagum, tak bohong, Mora memang cantik dengan balutan gaun itu, terlihat sangat anggun. Jika biasanya kakak nya itu sering memakai hoodie kedodoran dengan celana jeans, kini semua itu di ubah menjadi gaun panjang warna putih yang terlihat sangat pas dan cantik.
"Kamu juga cantik Ale" wajah Alettha berubah datar, namun ia tetap berjalan ke arah kakak nya.
"Ayo turun, semua orang menunggu kita"
"Oh ya ?" Alettha mengangguk, lalu mengambil tangan kakak nya, mereka berjalan bersama menuruni tangga. Ruang tamu itu sekarang sudah di sulap dengan sangat indah. Banyak pengawal dan pekerja rumah yang berlalu lalang.
"Kita sebenarnya mau kemana dek ?" tanya Mora heran, Alettha mengajak kakak nya untuk masuk ke dalam mobil asing warna putih itu.
"Udah ngga usah bawel"
Di jalan Mora hanya terus diam, memikirkan banyak hal, sekarang yang ia pikirkan adalah kekasihnya. Bagaimana keadaan laki-laki itu, bagaimana luka di tangan laki-laki itu. Kemarin darah itu masih merembes hingga mengotori perban. Luka itu memang lebar dan tak akan mungkin sembuh dalam waktu dekat.
Mora menunduk merasa hati nya sangat berat, ini semua salahnya. Karel melukai dirinya sendiri karena kecewa padanya. Tentu wajar jika laki-laki itu berfikir ia akan meninggalkannya. Karena Karel memang sudah sering di tinggalkan.
Tekanan perasaan bersalah semakin besar membuat mata gadis itu memerah. Bahkan buliran bening sudah siap turun dari kedua mata nya namun masih berusaha ia tahan.
"Maafkan aku"
__ADS_1
Mora hanya bisa berteriak dalam hati, apapun keputusan yang Karel buat itu sepenuhnya karena salahnya. Ini semua adalah resiko yang harus dia tanggung atas masalah yang sudah dia perbuat. dan tentu dia tidak pantas untuk menangis, karena memang semuanya adalah salahnya.
Mobil itu sampai di sebuah hotel mewah, dengan dekorasi yang bahkan lebih mewah dari mansion Abiyasa.
"Ini apa ?"
"Ayo masuk"
"Aku tidak akan masuk jika kamu tak jujur" Mora menatap adiknya tajam, di dukung dengan mood nya yang buruk membuat ia gampang lelah.
"Kita akan berpesta kak"
"Pesta menggunakan gaun ini ? haha jangan becanda Alettha" seru Mora menatap adiknya tajam.
"Kamu ngga ngerti perasaan kakak dek" ucap Mora dengan nada sedikit meninggi, andai saja adiknya itu mau terus terang dan jujur. Tidak berbelit seperti sekarang tentu Mora tak akan merasa marah.
Hei suasana hatinya itu sedang buruk dan apa ini ? kenapa ia di ajak berpesta. Hah lelucon macam apa ini.
"Kak" tiba-tiba terdengar suara lembut di dekat jendela mobil, itu adalah mama Abi, wanita itu sudah berdiri sambil menatap mata Mora dengan lembut.
"Ma" Mora menatap mama nya memelas
__ADS_1
"Ayo turun dulu sayang" mama Abi membuka pintu, mengusap rambut putri nya yang di sanggul rapi, lalu menggenggam tangan putrinya itu.
"Ayo kita masuk" mama Abi menuntun putri nya dengan lembut, sesekali mengusap punggung tangan gadis itu yang berkeringat.
Di dalam sana sudah ada banyak sekali pasang mata yang menatap mereka dengan penuh kekaguman. Namun hal itu bukannya membuat Mora senang malah membuat Mora takut. Hati nya merasa tidak siap bertemu banyak orang, di saat bahkan hati nya terasa hancur.
"Hai kakak ipar"
Deg
Gadis itu membeku di tempat nya, tatapan mata nya bertemu dengan mata seseorang yang sangat ia rindukan, rasanya sudah seperti bertahun-tahun tidak bertemu membuat nya tak mampu mengalihkan tatapan itu, ia merindukan mata teduh itu, ia merindukan wajah itu, merindukan semua yang ada di dalam tubuh itu.
Mata Mora seketika berkaca-kaca, tak tau lagi harus seperti apa, gadis itu merasa lemas dan rapuh.
"By" laki-laki itu berjalan mendekat, hingga mereka berhadap-hadapan, lalu dengan lembut mendekatkan bibirnya pada kening Mora dan mencium gadis itu lembut.
"Karel" mata Mora berembun, tak dapat menahan tangis lagi, air mata itu jatuh, namun dengan cepat di hapus oleh sang pria.
"Ayo kita menikah heum" tangan nya menggenggam lembut tangan sang gadis, tatapan nya begitu teduh memuja kecantikan gadis itu.
Mora terisak, mendadak menjadi cengeng hingga mama Abi ikut turun tangan untuk menenangkan putri bungsu nya itu.
__ADS_1
"Sayang udah jangan nangis, bukankah kamu mencintai nya. Mama dan papa akan mendukung kalian berdua." Mora berhenti terisak, gadis itu tersenyum dan mengangguk membuat semua yang ada di ruangan itu tersenyum haru.