
Pagi ini Karel sedang berada di meja kerja nya dengan pakaian nya yang sudah rapi. Karel belum berangkat ke perusahaan karena lelaki itu masih membaca sebuah laporan yang kemarin Andra berikan.
Sejak tadi malam Karel berkutat dan Mecari tau maksud isi dari laporan itu bersama Andra, mereka bahkan baru beristirahat saat jam menunjukkan pukul dua dini hari. Dan Andra baru saja pulang, karena lelaki itu ingin menganti pakaian nya sekaligus bersiap.
Mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak dan tidak masuk kantor, demi menyelesaikan semua akar dari masalah beberapa tahun silam, masalah yang baru saja muncul ke permukaan setelah beberapa tahun lalu tertimbun dan tidak menemukan titik terang.
Karel menghentikan sejenak dari aktivitas membaca nya ketika mendengar pintu di ketuk, tak lama kemudian terlihat sang asisten yang telah berdiri tak jauh dari nya dengan pakaian kerja nya.
"Hari ini saya tidak masuk ke kantor, kamu bisa mengantikan pekerjaan saya hari ini kan, Diana akan membantu mu"
"Baik tuan" sang asisten mengangguk, Karel mengambil sesuatu di laci lalu memberikan itu kepada sang asisten.
"Ini flashdisk meeting besok, kamu pelajari dulu, besok gantikan meeting saya di kantor, saya percayakan kepadamu."
"Tapi tuan, bukankah itu pertemuan penting ?" tanya sang asisten, Karel berdehem.
"Saya tidak tau sampai kapan saya akan kembali, jadi selama saya tidak ada kamu dan Diana yang memegang kendali perusahaan, jangan sungkan pada siapapun, kalian mempunyai hak untuk berbicara." ucap Karel dengan nada datar, lelaki itu menatap sang asisten tajam, sedangkan sang asisten yang mendengar suara tuan nya itu meneguk ludah ketika melihat tatapan yang karel berikan, akhirnya hanya memilih untuk mengangguk.
"Baiklah kamu bisa kembali ke kantor sekarang"
"Baik tuan, saya permisi" ucap sang asisten sambil menatap Karel, Karel hanya membalas dengan anggukan kecil.
Lelaki itu menyimpan kembali laporan penyelidikan nya dan Andra, lalu menelfon teman-temannya untuk berkumpul di markas. Kali ini dia pastikan tidak akan membiarkan musuh lolos, nyawa harus di bayar dengan nyawa !!
Saat Karel turun dari ruang kerja nya, Karel berpapasan dengan bibi, yang akan naik ke atas.
__ADS_1
"Sarapan dulu tuan, bibi sudah membuat beberapa makanan kesukaan Tuan Karel" ujar bibi dengan kepala sedikit menunduk.
"Iya Bi, ini saya juga mau turun" ujar Karel kembali melanjutkan langkah nya, Karel memang cukup menghormati wanita paru baya di belakang nya, wanita yang se usia ibu nya, yang selama ini bekerja padanya saat dia masih merintis usaha dari bawah. Sampai di bawah Karel menghubungi Andra.
"Di mana ?" tanya Karel saat Andra mengangkat telfon nya.
"Yaelah, aku mau ke rumah lo ini, sabar Napa" ujar Andra kesal.
"Buruan" ujar Karel lalu mematikan sambungan telfon. Di sebrang sana Andra hanya bisa menghela nafas menghadapi tingkah temannya yang luar biasa ajaib itu.
Karel menunggu Andra sekaligus memeriksa beberapa laporan, lelaki itu belum menyentuh sarapan nya sama sekali, karena ingin mengajak Andra sarapan bersama.
"Keterlaluan ya lo rel, gw belum selesai ngomong Lo udah main tutup aja" ucap Andra kesal, lelaki itu duduk di kursi dengan kasar.
"Ayo sarapan" ujar Karel tanpa menanggapi kemarahan Andra, ingin sekali Andra menjitak kepala temannya itu.
Mereka memulai sarapan pagi nya tanpa membuat keributan lagi, Setelah itu mereka pergi dengan mobil Andra.
Di markas, Gilang, Rafka dan yang lain sudah menunggu kedatangan mereka. Terlihat Gilang sedang duduk sambil menyilangkan satu kakinya, serta Rafka yang asik mengusap Tiger kesayangan nya yang sedang duduk manis di dalam kandang nya.
"Ck kalian lama" ujar Rafka dengan kesal, lelaki itu memberikan daging segar yang di sambut antusias dengan hewan kesayangan nya itu.
Karel dan Andra duduk di dekat Gilang, Karel kembali membahas rencana mereka.
"Kita udah siapin semuanya, sebagian orang kita juga udah mengawasi lokasi, tinggal nunggu perintah aja" ucap Gilang dengan wajah serius.
__ADS_1
"Ahhh sakit bodoh" Rafka berceloteh, lelaki itu refleks memukul kepala harimau besar yang baru saja menggigit tangannya.
"Brutal banget sih Lo, mau gue tukar sama bawang di pasar" ucap Rafka sambil melotot, Gilang yang mendengar itu hanya memutar bola mata nya malas.
"Udah kapan ini kita mulai nya, Tiger lagi haus darah ini, ya ngga ?" Rafka masih berceloteh dengan harimau kesayangan nya itu. yang di balas Auman oleh harimau itu.
"emm pasti lu udah bosen ya, biasa manusia jahat emang darah nya bau, mana daging nya alot iya kan ?" Rafka masih terus berbicara.
"Permisi tuan" obrolan mereka berempat terhenti saat tiba-tiba seorang pemuda yang memakai pakaian serba hitam mendatangi mereka.
Sebelum pemuda itu menyelesaikan ucapan nya, datang seorang lelaki dewasa yang mendatangi mereka.
"Sudah ku bilang tidak perlu memberitahu mereka jika aku datang" ucap lelaki itu langsung duduk di samping Karel tanpa di minta.
"Om Candra" ucap Andra terkejut, bukan hanya Andra yang terkejut tetapi Gilang dan Karel pun sama. Tidak menyangka akan kedatangan tamu seperti lelaki di hadapan mereka saat ini. Bahkan Rafka yang asik bermain dengan hewan kesayangannya pun berdiri mendadak karena kaget mendengar suara itu.
"Kenapa kalian ? terlalu bahagia ya karena kedatangan saya ?" ucap lelaki itu sambil tertawa, merasa senang saat kehadirannya membuat ke empat lelaki di hadapannya tidak bisa berkutik.
"Sialan ini musibah, kasih tau aku ini hari apa. Tadi malam aku tidur nyenyak dan tidak mengalami mimpi buruk. Tetapi kenapa sekarang ada musibah yang tiba-tiba datang." ucap Rafka histeris. lelaki itu sudah mencak lebih dulu saat melihat kedatangan lelaki di hadapannya.
"Sialan kau Rafka, sini aku akan mengajarimu agar bisa bersikap lebih sopan kepada orang tua" Rafka hanya mendengus lalu ikut duduk di samping lelaki itu.
"aw, sakit bo"
"Apa mau mengumpat iya ?" tanya om Candra dengan mata melotot, Rafka hanya diam tidak lagi membalas ucapan itu, lelaki itu lebih memilih mencari aman.
__ADS_1
"Sakit om, nanti aku jadi tidak tampan kalau di pukul terus." ucap lelaki itu kesal.
"Om Candra kenapa datang, tumben" ucap Andra sambil melirik Karel, lelaki itu takut rencana mereka berantakan karena kehadiran lelaki itu.