IVAMORA

IVAMORA
Usaha Merendahkan


__ADS_3

Setelah semuanya rapi, tuan Lewis pun menatap Karel dan Mora dengan tatapan tajam, tidak seperti tadi yang teduh dan tenang.


"Bisa kita bicara berdua Karel" seru tuan Lewis dengan nada tanpa bantahan, ia menatap Karel dengan sorot mata setajam elang.


"Soal apa ?" seru Karel seolah tak tertarik dengan ajakan itu, Mora yang mendengarnya hanya terdiam, tak ingin ikut campur dalam urusan tuannya.


"Ikut saja, ada banyak hal yang harus kakek bicarakan" terdengar Karel menghela nafas nya.


"Baiklah" putus Karel pada akhirnya


"Pelayan" tuan Lewis berseru cukup nyaring, ada satu pelayan yang datang dengan langkah cepat, ia menghadap tuan besar dengan kepala yang tertunduk sopan.


"Bawa nona Mora ke ruang tamu, dan pastikan ia nyaman di sana tanpa ada gangguan." Mora yang mendengar itu menatap Karel. Karel memberikan anggukan kepada gadisnya itu, mengatakan lewat kode bahwa ia akan baik-baik saja bersama pelayan.


"Baik tuan, mari nona ikuti saya" Mora hanya menurut, gadis itu berjalan mengikuti maid yang berjalan di depannya.


Sedangkan tuan Lewis dan Karel berjalan menuju ruang pribadi di mansion itu, Karel mengikuti langkah pelan kaki kakek nya.


Mora terus saja berjalan mengikuti pelayan di depannya, pelayan di depannya itu tak banyak bicara, bahkan wajahnya juga terlihat datar, sangat menyeramkan untuk seorang Mora yang tak kuat jika harus terus diam.


"Silahkan duduk nona, anda menginginkan sesuatu. Saya akan mendapatkan nya untuk anda." Mora menggelengkan kepala nya, tetapi saat pelayan itu akan pergi Mora pun mencegahnya.


"Apakah kamu tidak bisa menemani ku, aku tidak mungkin duduk di sini sendirian bukan." seru Mora berharap pelayan itu mau duduk dan menemani nya bicara.


"Maaf nona saya tidak bisa, pekerjaan saya masih banyak." Mora pun nampak kecewa saat mendengarnya.

__ADS_1


"Tapi anda tidak perlu khawatir, ada banyak penjaga di mansion ini yang akan mengawasi anda." hal itu yang membuat Mora merasa tak nyaman, ia tak akan leluasa bergerak jika dirinya terus di awasi.


"Lebih baik tidak usah, maksudnya tidak perlu memberikan pengawasan, aku akan aman." seru Mora, lagipula siapa juga yang akan menyakitinya di mansion besar ini. Rasa-rasanya tidak ada mengingat sikap kakek Karel yang baik padanya tadi.


"Baiklah" pelayan itu pun pergi, meski Mora meminta untuk tidak di awasi, tapi tetap ada beberapa yang akan mengawasi gadis itu diam-diam. Karena itu adalah perintah dari tuan besar yang tidak bisa di bantah begitu saja.


Mora mengambil hp nya di dalam tas, menyalakan benda pipih itu dan mulai berkutat dengan handphone sembari menunggu Karel.


"Kamu siapa" Mora mendongak, ia melihat seorang wanita dengan tubuh yang sedikit gemuk berada di depannya, Mora tak tau siapa wanita itu, dan kenapa ia bisa ada di mansion ini. Penampilan nya terlihat modis dan seperti nya wanita itu bukan wanita sembarangan.


Kenapa Mora bisa berfikir seperti itu, karena selain penampilan yang terbilang wah, wanita itu juga bisa masuk ke dalam mansion ini tanpa ada pengawal yang menahan nya.


"Halo nyonya" sapa Mora ramah, meski ia tak mengetahui siapa wanita di depannya ia tetap harus bersikap baik kepada orang lain.


"Siapa kamu, kenapa bisa ada di sini" seru wanita itu dengan wajah nya yang angkuh, ia tampak terus meneliti penampilan Mora yang baginya terbilang sangat sederhana.


"Hanya sekertaris kenapa bisa masuk ke dalam mansion ini, oh atau jangan-jangan kamu ini penyusup ya." Mora terhenyak mendengar hal itu, ia menatap wanita di depannya yang menatapnya dengan rendah.


"Maaf nyonya, saya kemari karena ajakan tuan Karel."


"Mana mungkin, status mu hanya seorang sekertaris. Kecuali kalau kamu selir putra ku."


"Tapi tidak mungkin juga sih, putra ku itu pemilih, tidak mungkin ia tertarik dengan gadis sepertimu." wanita itu terus berbicara membuat Mora kesal. Bahkan kata-kata nya tadi sedikit menyakiti hati mungil Mora. Mora tidak menyangka jika orang tua Karel sejahat itu dalam perkataan.


"Maaf nyonya, sekali lagi saya ucapkan saya kesini karena ajakan tuan Karel." seru Mora bersuara bersikap sabar.

__ADS_1


"Lalu di mana Karel, kenapa bisa pengawal membiarkan orang asing berada di rumah mewah ini, nanti kalau ada gelas atau piring yang hilang bagaimana." sepertinya wanita itu tak akan berhenti, setiap ucapannya selalu bersifat merendahkan harga diri Mora.


"Saya tidak mungkin melakukan hal serendah itu nyonya"


"Oh merasa ya, padahal saya tidak sedang membicarakan mu lo." seru nya dengan senyum sinis.


"Busuk sekali mulut nya" Mora menghela nafas nya kesal.


"Oh ya Gracel masuk sayang" seru wanita itu, lalu datanglah seorang gadis cantik dengan pakaian anggun nya, gadis itu datang dengan wajah datar. Mata nya tampak tajam menatap wajah Mora.


"Ayo duduk dulu sayang, biar pelayan membuatkan minuman untuk kita." seru wanita tadi, ia nampak melihat sekeliling berusaha mencari pelayan, namun tak ada satupun yang lewat.


"Bagaimana bisa pelayan tidak ada yang berjaga" Mora hanya diam, karena ia tadi yang meminta untuk tidak di awasi.


"Astaga aku lupa, kamu wanita asing. Buatkan kita minum" seru wanita itu dengan enteng.


Mora hanya diam, gadis itu kembali duduk di kursi nya dan kembali memainkan hp nya.


"Hey kamu tuli ya" seru mama Karel karena merasa geram.


Brak


"Kamu jangan bersikap semaunya ya di rumah ini." seru mama Karel dengan wajah memerah karena amarah.


"Ada apa ini" tiba-tiba Karel datang dan berjalan ke arah Mora, laki-laki itu merengkuh bahu Mora untuk masuk ke dalam pelukan nya. Mata nya tampak menghunus menatap mama nya.

__ADS_1


Hal itu juga terjadi dengan tuan Lewis, lelaki tua itu tampak menatap lelah ke arah mantan menantu nya itu.


"Karel, lihat mama membawa Gracel, kalian sudah lama kan tidak bertemu." ucap mama Karel tanpa memperdulikan Mora yang berdiri di samping putra nya.


__ADS_2