Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.100


__ADS_3

Abian membawa sebuah amplop besar kedalam ruangan Alvino. Entah ekspresi apa yang saat ini sedang digambarkan oleh Abian. Ia langsung duduk di hadapan Alvino yang sedang sibuk di belakang meja.


"Kamu bawa apa?" Alvino nampak heran karena map yang diletakkan Abian di atas meja tidak memiliki cat perusahaan.


Abian menghela napas berat kemudian mengeluarkan isi map itu. "Ini akte cerai kamu dan Shela. Sekarang bagaimana perasaan mu, setelah benar-benar melepaskan semuanya?"


Sejenak Alvino nampak tersenyum tetapi kepalanya kembali tertunduk, ia sebenarnya adalah salah satu orang yang membenci perceraian tetapi untuk sebuah hubungan yang tidak bisa dipertahankan dan hanya saling menyiksa satu sama lain akhirnya Alvino menempuh jalan itu.


"Aku lega, tapi di sisi lain aku mulai merindukan Naya. Selama ini aku tidak pernah tinggal terpisah darinya. Sudah satu bulan dan aku hanya bisa melihatnya secara virtual."


Abian menyandarkan tubuhnya dan kembali fokus menatap sang sahabat. "Naya akan baik-baik saja. Aku tidak menyangka pada akhirnya kamu dan Shela akan berakhir damai. Sekarang kamu sudah punya Aliya dan mungkin tidak lama lagi dia akan hamil."


Mendengar kata hamil, Alvino langsung memajukan tubuhnya menatap Abian dengan serius. "Apa kamu tau, obat atau makanan yang menambah kesuburan?"


"Bhahaha, sejak kapan kau memikirkan hal seperti itu?" Abian tidak bisa menahan gelak tawanya namun ia mencoba kembali serius, saat melihat ekspresi wajah Alvino yang nampak kesal.


"Ehm baiklah, sekarang teknologi itu sudah semakin maju. jika kamu memang sudah benar-benar ingin punya anak maka kamu bisa melakukan prosedur yang namanya bayi tabung atau mungkin prosedur inseminasi buatan."


Alvino kembali menyandarkan tubuhnya karena merasa tidak mendapatkan jawaban yang ia inginkan. "Kalau itu aku tau, mana mungkin aku mengatakan hal itu kepada Aliya, bisa-bisa dia tersinggung. Setelah mengetahui Naya bukan putri kandung ku, aku jadi terburu-buru ingin punya anak. Aku mulai memikirkan penerus WB grup selanjutnya."


"Sabar saja aku yakin, Aliya cepat atau lambat pasti hamil. Itu juga tergantung perjuangan kamu di atas ranjang bro, gempur terus setiap malam hahaha."


"Kau ini bicara sudah seperti ahlinya saja, menaklukkan Viona saja kamu tidak becus."


Suara gelak tawa Abian tiba-tiba saja terhenti saat mendengar ucapan Alvino. "Itulah masalah ku saat ini, aku tidak tahu cara mengungkapkan perasaan ku padanya."


Kini Alvino lagi yang tertawa saat melihat ekspresi wajah Abian yang menurutnya begitu lucu. "Haha, sudah aku bilang tidak akan mudah. Dia itu tidak peka, belum lagi dia itu wanita yang perfeksionis, di otaknya hanya ada pekerjaan dan pekerjaan. Kamu masih saja tidak mau oleng, ke wanita lain."


"Jangan meledek ku, kau tau aku tidak mungkin jatuh cinta dengan lain selain dia!"

__ADS_1


"Waw apa ini." Alvino membulatkan matanya saat melihat layar ponselnya. Ia menunjukkan sebuah foto di ponselnya kepada Abian. "Sepertinya Yona ikut kencan buta."


"Apa!" Abian mengendurkan dasi di lehernya karena tiba-tiba saja merasa sesak melihat Viona mempublikasikan sebuah foto bersama seorang pria di media sosialnya.


"Bian, aku ini sahabat mu tapi dia tetaplah saudara ku. Jika memang benar dia sudah menemukan yang terbaik, maaf aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk mendukung kamu."


"Tidak akan aku biarkan." Abian berdiri dari posisinya lalu melangkah menuju pintu keluar. "Katanya ada pertemuan penting, tapi malah jalan sama laki-laki lain, huh dia memang tidak bisa di percaya."


"Hahaha." Alvino terus tertawa hingga akhirnya Abian keluar dari ruangannya. "Bian-Bian, kamu memang harus di panas-panasin biar berani."


~


Di lain tempat, Aliya baru saja keluar dari kampus. Karena tidak ingin merepotkan sang suami, ia memilih untuk menunggu taksi di pinggir jalan.


Tadinya ia mau ikut Noah, tapi hari ini Noah dan Vina sedang pergi bersama ke suatu tempat dan Aliya tidak mau mengganggu.


Taksi itu langsung berhenti tepat di hadapan Aliya. Ia lmasuk kedalam taksi itu, namun saat hendak menutup pintu, tiba-tiba saja seseorang ikut masuk dan duduk di samping Aliya.


"A-ayah." Setelah setengah tahun tidak bertemu dengan Ayah tirinya, akhirnya hari ini ia kembali melihat wajah pria brengsek yang hampir menghancurkan hidupnya.


"Pak jalan saja pak."


"Ayah apa-apaan sih, muncul tiba-tiba seperti ini, apa Ayah tidak merasa bersalah setelah semua yang Ayah lakukan kepada ku?"


Pria paruh itu hanya memutar bola matanya malas lalu menyandarkan tubuhnya. "Kamu sudah hidup enak jadi sekarang lupa siapa yang membesarkan kamu."


Aliya tidak bisa menahan air matanya saat mengingat semua hal buruk yang ia alami selama hidup berdampingan dengan ayah tirinya itu. "Lupa? Untuk apa Aliya ingat semua perlakuan buruk Ayah kepada ku, aku ini hanya Ayah anggap sebagai penghasil uang!"


"Hahaha, kenapa kau malah menangis? Ayah tidak menyakiti mu sekarang, tapi Ayah hanya minta untuk di berikan uang, Ayah butuh uang."

__ADS_1


"Tidak akan! Aku tidak akan pernah memberikan sepeser pun kepada Ayah."


Pria paruh baya itu menegapkan posisinya lalu kembali menatap Aliya. "Bisa ya sekarang kamu kasar seperti itu! Dasar ja*lang gila!"


"Pak jangan kasar-kasar sama perempuan, kasian," sahut supir taksi yang nampak ketakutan.


"Eh saya tidak bicara sama kamu ya, terus jalan saja atau kamu akan tau akibatnya!"


Akhirnya supir taksi itu kembali diam.


"Saat Ibu masih hidup Ayah sudah banyak menyusahkan kami. Hutang-hutang ayah pada rentenir semuanya aku yang melunasi tetapi Ayah terus menambah hutang lagi Dan lagi. Aku pikir setelah semua itu Ayah akan menyesal tapi ternyata Ayah masih sama saja."


"Diam! Aliya, mau kemanapun kamu lari Ayah pasti akan menemukan kamu. Apa salahnya jika kamu membagi sedikit uang yang sudah kamu hasilkan dari merebut suami orang lain. Pada dasarnya Ibu kamu itu sudah murahan dan tentu saja kamu mengikuti jejaknya, haha."


Aliya benar-benar tidak menyangka ia akan kembali mendengar kata-kata itu dari orang yang sama. Seluruh dunia boleh menyalahkannya tetapi ia tidak akan terima jika ada yang menghina ibunya.


"Anda tidak pantas menghina Ibu saya setelah apa yang Anda lakukan kepada kami. Sebenarnya hal apa lagi yang bisa menyadarkan pria seperti Anda ini! Sudah tua bukannya berbuat kebaikan malah semakin jadi."


"Hahaha, kau memanggilku Anda? Ya, aku senang jika kau melawan seperti ini, persis sekali dengan Ibumu."


"Sudah jangan banyak bicara, hentikan taksinya!"


Ayah tiri Aliya mengarahkan sebuah senjata tajam ke leher supir taksi itu. "Jalan terus!"


"Apa yang Anda inginkan hah! Saya ingatkan agar Anda berhenti! Karena suami saya bukan orang sembarangan."


"Memangnya dia mau apa, aku tidak takut!"


Tanpa pria paruh baya itu sadari Aliya mengeluarkan ponselnya dari saku celana. ia menyembunyikan ponsel itu di balik tasnya seraya terus berusaha menghubungi Alvino.

__ADS_1


__ADS_2