
Dua hari berlalu, Alvino dan Aliya sudah pindah di kediaman baru mereka. Malam pertama mereka habiskan bergelut panas di atas ranjang dan hampir setiap sudut ruangan telah mereka coba.
Malam ini, Alvino baru saja menyelesaikan beberapa pekerjaan di ruang kerjanya. Dengan langkah pasti, ia melangkah menuju kamar namun tiba-tiba langkahnya terhenti ketika melihat Aliya ternyata ada di lantai bawah.
Sudah hampir satu minggu, sang istri masih saja menonton siaran bola. Jika tidak ada di televisi maka Aliya akan menonton live streaming di media online.
"Sampai kapan dia akan seperti ini. Apa jangan-jangan anak ku laki-laki ya," gumam Alvino, tak ingin terus larut dalam pikirannya sendiri, ia segera melangkah cepat menuruni tangga untuk menghampiri sang istri.
"Sayang, kamu tidak mengantuk? Ini sudah jam sepuluh malam," ucap Alvino saat duduk di samping sang istri.
Aliya yang sejak tadi fokus menatap layar televisi, menoleh menatap sang suami. "Mas pasti lelah ya? Besok juga mau keluar kota, tidur saja lebih dulu, aku masih mau nonton dikit lagi."
Melihat senyum bahagia sang istri, Alvino tidak tega untuk melarang. Selama Aliya senang maka ia akan berusaha untuk terbiasa. "Hem, baiklah. Segera menyusul ke kamar ya, aku benar-benar lelah."
"Iya Mas, good night. Muaach." Satu kecupan singkat namun penuh penekanan Aliya berikan tepat di bibir sang suami.
Karena merasa tidak puas Alvino pun kembali mendekat mencium seluruh bagian wajah sang istri dengan gerakan yang sangat cepat. "Good night baby, aku naik dulu. Ingat jangan begadang ya."
Alvino beranjak dari tempat duduknya lalu melangkah menaiki tangga menuju kamar. Hari ini ia begitu lelah karena pulang dari kantor, tadi ia dan Aliya kembali menata ruangan demi ruangan yang belum sempat mereka rapikan.
Alvino dan Aliya sepakat untuk sementara waktu sampai bayi mereka belum lahir, mereka tidak akan mengambil asisten rumah tangga, karena bagi Aliya tugasnya sebagai seorang istri adalah melayani suaminya dengan baik, untuk urusan makanan pakaian dan juga urusan ranjang.
...----------------...
Cahaya matahari mulai menguasai langit pagi, taklukkan gelap yang kerap datang hampiri. Alvino mengerjapkan matanya perlahan, ia meraba ke segala arah namun tak merasakan tubuh sang istri berada di sisinya.
Perlahan ia bangkit, beranjak dari tempat tidur seraya merenggangkan tubuh. Di lihatnya jam di dinding kamar sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, ia bergegas menuju kamar mandi karena penerbangannya pukul delapan.
Untung saja semua perlengkapannya selama berada di luar kota sudah dipersiapkan oleh Abian, jadi Alvino tinggal berangkat ke bandara saja. Setelah selesai mandi dan berpakaian Ia pun segera keluar dari kamar. ia berpikir pasti sang istri sudah berada di dapur menyiapkan sarapan pagi untuknya sebelum berangkat.
__ADS_1
Namun saat sampai di lantai bawah, Alvino membulatkan matanya melihat televisi yang masih menyala. "Jangan-jangan Aliya ...." Tak mau menunda waktu, Alvino segera melangkah menuju ruang televisi dan apa yang ia pikirkan benar-benar terjadi. "Astaga, dia menonton bola sampai jam berapa."
Aliya tertidur dengan posisi terlentang di atas sofa panjang yang ada di ruangan tersebut, rambut dan pakaiannya pun nampak berantakan seperti seorang yang baru saja begadang sepanjang malam.
Alvino duduk di tepi sofa, mencoba untuk membangunkan sang istri. "Yang sayang ayo bangun, ini sudah pagi."
"Eeemm aku baru tidur Mas tidak mungkin sudah pagi," lirih Aliya dengan mata terpejam.
"Jadi kamu baru tidur? Sayang ini benar-benar sudah pagi, aku harus segera pergi ke Bandara."
Sontak mata Aliya langsung terbuka lebar. Ia bangkit dan menoleh menatap sang suami dengan wajah sembab dan rambut berantakan. "Sudah pagi? ... kalau begitu aku akan buat sarapan, tunggu sebentar."
Dengan langkah sempoyongan karena baru saja terbangun, Aliya melangkah menuju dapur belakang. Sampainya di dapur dengan kondisi panik Ia membuka kulkas dan mendapatkan roti gandum dan langsung ia panggang.
Selama menunggu roti, Aliya yang pada dasarnya memang masih sangat mengantuk tanpa sadar diamkan mata dengan posisi berdiri di depan kitchen set.
Ting!!!
"Aw sakit." Aliya yang sempat tertidur, langsung terperanjat kaget ketika mendengar suara dari panggangan tersebut hingga tanpa sadar ia terbentur di lemari kitchen setnya.
"Sayang, sudah jadi sarapannya? Kalau belum aku sarapan di pesawat saja," ujar Alvino yang menyusul sang istri ke dapur. Karena waktu yang benar-benar mepet, Alvino pun tak henti-hentinya melihat jam tangannya.
"Su-sudah kok, Mas." Aliya membuka kulkas, mengoleskan selai ke atas roti dan segera menghampiri sang suami yang sudah menunggunya di meja makan. "Tara sarapan dadakan. Roti bakar selai strawberry, aku ambil susu dulu."
Meskipun sedikit terlambat tetapi Alvino berusaha untuk menghargai usaha sang istri yang masih buatkannya sarapan pagi ini. "Hem apapun yang kamu buat adalah makanan terenak." Ia membuka mulutnya lebar-lebar dan melahap roti itu.
Tak lama Aliya kembali dengan segelas susu hangat di tangannya. Ia meletakkan susu tersebut di atas meja makan dan langsung duduk di hadapan sang suami. "Apa Mas akan menginap?"
Bukannya menjawab pertanyaan sang istri Alvino malah terlihat kesusahan untuk menelan makanan yang ada di mulutnya. "Sayang, apa ini benar selai strawberry?"
__ADS_1
"Tentu saja itu adalah selai strawberry korea pemberian Kak Viona. kemarin kan kita dapat banyak bingkisan, lupa ya?"
Alvino kembali menggelengkan kepalanya seraya berusaha menelan makanannya. "Tapi ini benar-benar bukan rasa selai strawberry."
"Masa sih." Dengan mulut yang sesekali menguap, Aliya kembali ke dapur untuk melihat apa yang sudah ia oleskan ke atas roti sang suami tadi. Ia mengucek-ngucek matanya ketika membaca tulisan yang ada di toples tadi, ia pikir selai ternyata pasta cabai. "Hah! Aku pasti sudah gila."
Aliya benar-benar tidak menyangka kenapa ia bisa sampai keliru seperti ini. Dengan langkah lemas dan wajah tertunduk ia kembali menghampiri sang suami yang sedang meneguk susu yang ia siapkan hingga habis.
"Mas, maaf ... itu bukan selai strawberry tapi pasta cabai," lirih Aliya dengan kepala tertunduk.
Alvino melihat sang istri dengan tatapan tak percaya. "Pa-pasta cabai? Sayang, aku ...." Ia tak bisa meneruskan ucapannya saat melihat wajah sang istri nampak begitu sedih dan penuh penyesalan.
Mungkin istrinya baru saja membuat kesalahan tetapi bagi Alvino hal itu tidaklah perlu untuk dipermasalahkan. Ia segera beranjak dari tempat duduknya merengkuh erat pundak sang istri dengan kedua tangan. "Kamu begadang, nonton bola ya?"
Dengan perlahan Aliya mengangkat kepalanya menatap seorang suami dengan wajah sendu. "Iya, liga Champions."
Alvino kembali tersenyum mendengar jawaban sang istri. "Kalau begitu lain kali kita nonton Messi langsung di Argentina saja. Tapi tidak boleh begadang seperti ini lagi, tidak baik untuk kesehatan."
Aliya yang tidak mampu berkata-kata langsung berhambur memeluk sang suami sungguh setiap hari benar-benar membuatnya jatuh cinta lagi dan lagi.
Mungkin dulu ia pernah menyesal karena terlibat hubungan yang tidak jelas dengan seorang pria kaya raya, yang ia pikir tidak akan pernah mencintainya sampai seperti ini.
Tetapi ternyata semua yang ia pikirkan itu salah Alvino adalah pria yang begitu baik yang begitu mengerti dirinya. Meskipun terkadang mereka masih suka bertengkar karena hal-hal kecil tetapi hal tersebut tidak pernah mengurangi kadar cinta yang sudah tumbuh subur dalam hati mereka masing-masing.
"Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Mase malam ini harus pulang."
"Iya janji pulang, asal ada layanan plus-plusnya."
Aliya dan Alvino saling menatap lalu tertawa bersama. Meskipun perut Alvino perih karena sarapan pasta cabai di pagi hari tetapi hatinya tetap berbunga-bunga karena bisa melihat senyum istrinya kembali.
__ADS_1
Bersambung 💖
Jangan lupa dukungannya readers 😘🥰