
Tiga hari berlalu, keadaan mulai nampak lebih tenang. Alvino pun memutuskan untuk kembali bekerja seperti biasa. Saat ini ia sedang berdiri berhadapan dengan sang istri yang sedang memasangkan dasi untuknya.
"Jika memang kamu sudah tidak bisa meneruskan masa magang kamu yang masih tersisa satu bulan maka biar aku yang mengurusnya masalah nilai kamu tenang saja."
"Sebenarnya aku masih ingin melanjutkan masa magang ku terlebih sebentar lagi aku akan menyusun skripsi setelah itu wisuda. Tapi jika situasi dan kondisinya seperti ini lebih baik aku tunda dulu."
Alvino mendaratkan saat kecupan di kening sang istri. "jika kamu merasa itu memang lebih baik maka aku setuju saja, ya sebenarnya sebagai seorang suami yang mampu untuk bertanggung jawab atas diri kamu aku lebih senang jika kamu tidak bekerja, tinggal di rumah saja untuk menjaga anak-anak kita kelak."
Aliya terkekang mendengar ucapan sang suami. "Kenapa kamu sudah berpikir sejauh itu sih Mas? Kamu jangan sampai melupakan Naya, meskipun dia bukan anak kandung kamu tapi sejak dia terlahir ke dunia, yang dia tahu kamu adalah Daddy-nya."
"Hari ini aku akan mampir ke rumah untuk menemui Naya, sebenarnya aku belum siap untuk menemuinya tapi aku takut dia berpikir aku mengabaikannya karena dia bukan anak kandungku."
"Tidak usah takut Mas kamu harus menemui Ayah secepatnya aku yakin pasti dia sangat tertekan dan aku takut terjadi apa-apa padanya." Aliya yang sudah selesai dengan tugasnya memundurkan tubuhnya dua langkah ke belakang.
Alvino pun mengerutkan keningnya lalu kembali maju dan mengalungkan tangannya di pinggang ramping sang istri. "Jangan menjauh, tugas mu belum selesai."
"Hah ... oh mau aku pakaikan sepatu juga Mas? Ayo duduk lah di sofa."
Alvino menggelengkan kepalanya perlahan. "Bukan sayang, morning kissnya mana?"
__ADS_1
Aliya menepuk jidatnya sendiri karena tingkah sang suami yang begitu manja. "Huufft, bayi besar ku benar-benar ya ... ya sudah sini." Aliya bergerak cepat, mengecup singkat bibir sang suami.
Namun ketika Aliya hendak kembali mundur, Alvino segera meraih tengkuk leher Aliya dan mendaratkan ciuman yang begitu dalam dan penuh tuntutan.
Hembusan napas Alvino terasa begitu hangat hingga Aliya kembali terhanyut dan menikmati permainan bibir mereka. "Mass, ja ... aaahh." Aliya tidak bisa menahan suaranya ketika sang suami menjelajahi bagian lehernya.
Alvino pun segera melepaskan tautan bibir mereka ketika merasa hasratnya akan segera bangkit dan bagian di bawah sana mulai mengeras. "Huhh, kamu benar-benar membuatku kebablasan sayang. Lebih baik aku pergi sekarang."
"Ehm ... i-iya lebih baik sekarang kamu pergi ya, Mas."
Aliya pun melangkah beriringan dengan sang suami keluar dari kamar tersebut. Karena jika mereka meneruskan aktivitas seperti tadi Alvino yakin ia tidak akan jadi pergi ke kantor.
Di ruang makan semua anggota keluarga sudah nampak berkumpul untuk sarapan bersama. Vina yang sempat kecewa dengan Aliya kini begitu ramah dengan kakak iparnya itu.
"Aliya kamu masih kepikiran ya?" ucap Viona yang memang duduk berdampingan dengan Aliya.
Dengan cepat Aliya pun langsung menggelengkan kepalanya. "Aku baik-baik saja, Kak."
Mendengar ucapan Aliya, Viona kembali tersenyum meski ia masih ragu jika istri dari saudara kembarnya itu benar-benar baik-baik saja.
__ADS_1
"Aliya, hari ini Mama dan Papw akan pergi ke luar kota. Tapi malam ini pulang kok,' sahut Arumi.
"Kalau kamu butuh sesuatu kamu jangan segan minta ke pelayan," sambung Alvaro.
"Iya, Ma, Pa. Terimakasih," ucap Aliya.
"Aku ke kampus juga cuma sebentar kok," sahut Vina.
"Ia Vi, aku baik-baik saja kok. Aku benar-benar merasa sangat beruntung bisa di terima dengan baik di keluarga ini, terimakasih."
Alvino kembali meletakkan sepotong sandwich di atas piring Aliya. "Kamu tidak akan merasa sendiri lagi sekarang. Keluarga ini menerima dengan baik setiap orang yang berhati tulus dan baik."
"Betul itu. Kalau orang yang tidak tau diri seperti Shela kelaut saja," sahut Alvaro dengan mulut penuh makanan.
Aliya tetap berusaha untuk tersenyum meski jauh dalam lubuk hatinya ia merasa sedang berbahagia di atas penderita Shela.
~
Setelah mengantarkan Alvino sampai ke teras Aliya pun kembali ke kamarnya. Hari ini mansion begitu sepi karena kedua mertuanya hari ini berangkat ke luar kota untuk menghadiri sebuah acara sementara saudara ipar dan suaminya kembali ke aktivitas masing-masing.
__ADS_1
"Hem, ada pesan chat." Aliya mengerutkan keningnya ketika melihat pesan yang kirimkan oleh nomor yang tidak dikenal saat ia membuka pesan itu matanya langsung membulat. Ya, pesan chat itu di kirim oleh Shela.
Bersambung 💖