
"Ah sudahlah kenapa aku malah curhat seperti ini kepada orang yang jelas-jelas sahabat baik, Noah." Vina menyeka air matanya lalu berdiri dari tempat ia duduk. "Ayo kita keluar, sebentar lagi acara di mulai."
Aliya berdiri lalu menepuk pundak Vina dengan lembut. "Aku yakin Noah hanya belum melihat sebaik apa kamu berjuang. Aku akan menyadarkan dia, dan membantu kamu dekat dengannya."
"Terimakasih, Aliya. Sekarang anggap aku sebagai sahabat juga ya."
"Hm tentu saja. Oh iya aku mau ke toilet, kamu turun duluan saja."
"Oh baiklah, kamu pakai toilet ku saja. Kalau begitu aku keluar duluan."
Ketika Vina melangkah keluar dari ruangan itu. Aliya langsung masuk ke toilet karena merasa ingin buang air kecil. Tidak butuh waktu lama untuk Aliya buang air kecil ia keluar dari toilet dan berniat menyusul Vina.
"Astaga!" Aliya lagi-lagi berhasil di buat kaget ketika Alvino tiba-tiba sudah muncul di hadapannya.
"Kamu datang ke mari kenapa tidak memberitahu ku?" Seolah sedang mengintimidasi tersangka, Alvino yang sedang berpangku tangan menatap Aliya dengan tajam.
"Anda selalu saja muncul tiba-tiba seperti ini, membuat kaget saja. Memangnya saya harus minta izin juga untuk pergi ke rumah keluarga Anda? Tenang saja, saya tidak akan membocorkan rahasia kita. Saya datang ke sini murni untuk menghadiri pesta ulang tahun Vina karena dia adalah temanku."
"baiklah aku menerima alasan itu. tapi apakah kamu harus muncul sambil bergandengan tangan dengan Noah?"
Deg.
__ADS_1
Mampus, sudah ku duga dia pasti melihatnya tadi, batin Aliya.
"I-itu, saya dan Noah sudah biasa saling merangkul, apa lagi hanya bergandengan tangan, You know we are good friends, apa begitu menjadi masalah?"
Alvino mendorong tubuh Aliya hingga membentur tembok. "I don't like. Aku tidak tahu seperti apa kalian menjalani hubungan persahabatan kalian selama ini, yang aku tahu sekarang Kamu adalah istriku dan aku tidak suka kamu dan dia bersentuhan tangan seperti tadi."
"Why? Apa Anda cemburu, Anda mulai mencintai saya. Katakan jangan membuat orang bingung."
Alvino tertegun sesaat seraya menatap Aliya dengan lekat. Sepertinya ia masih tidak tahu di mana letak hatinya bersemayam saat ini. Saat ego diri masih tinggi, mulutnya terasa begitu kaku untuk menyampaikan perasaannya.
"Aliya kamu sudah selesai."
"Anda tunggu sebentar di sini, sepertinya itu Noah."
Alvino tidak sempat mengatakan apapun karena Aliya langsung keluar dari toilet. Ia benar-benar tidak menyangka jika Noah akan menyusul sampai ke kamar Vina.
"Hey kau sudah selesai," ucap Noah saat ia masuk kedalam kamar dan mendapati Aliya baru saja keluar dari toilet.
"Oh i-iya, aku sudah selesai. Apa acara sudah di mulai?" Aliya nampak begitu gugup hingga tak henti-hentinya melirik kearah toilet.
"Hm, acara sebentar lagi di mulai. Vina meminta ku untuk memanggil mu."
__ADS_1
"Kalau begitu ayo kita turun." Aliya hendak melangkah keluar dari kamar itu namun tiba-tiba Noah menghalangi langkahnya. "Kenapa lagi, katanya acara mau di mulai, ayo kita turun."
"Aku ingin bicara sebentar dengan mu. Saat di kantor kita tidak punya banyak waktu untuk bersama seperti saat di kampus. Kamu juga belum pernah memberitahu ku di mana kamu tinggal, jadi aku merasa tidak leluasa bicara dengan mu."
"Hey, kau bicara apa sih, kalau tidak urgent kita bicarakan besok saja, ayo." Aliya kembali hendak melangkah namun lagi-lagi Noah menarik lengannya hingga ia kembali berbalik melihat Noah.
"Aku merasa kehilangan kamu beberapa waktu belakangan ini. Kita yang biasa melewati hari bersama, sekarang jarang bersama karena kamu yang selalu sibuk, baik di kantor maupun mengajar les. Sekarang aku sadar aku tidak bisa seperti ini, aku mau mengungkapkan semuanya kepada kamu. Sebenarnya selama ini aku mencintaimu Aliya."
Deg.
Aliya menatap sang sahabat dengan perasaan bingung. Begitu ia pasrah dan menerima takdirnya, kenapa Noah baru mengatakan hal yang ia tunggu-tunggu selama ini, namun sayangnya takdir selalu mengatur semua sesuai yang telah di gariskan.
Cinta datang terlambat, mungkin itulah ungkapan yang pas untuk menggambarkan situasi mereka saat ini. Aliya telah terikat dengan orang lain dan tentu saja tidak boleh dan tidak mungkin mempertimbangkan perasaan Noah.
Dari dalam toilet sana Alvino mencengkram erat kedua tangannya. Ia merasa sangat kesal dan marah saat apa yang telah menjadi miliknya ingin di miliki oleh orang lain.
Seolah tidak ingin mengulang rasa sakit yang sama, Alvino merasa kali ini ia harus bicara dengan Noah. Bukan bicara sebagai seorang Kakak kepada Adik, tetapi bicara sebagai dua laki-laki dewasa yang menginginkan satu wanita yang sama.
Bersambung 💖
Jangan lupa kembang kopinya readers 😘🥰
__ADS_1