
Setelah selesai makan malam Aliya, Alvino dan Arumi keluar dari restoran tersebut. Supir Arumi terlihat sudah standby di parkiran restoran tersebut.
Sebelum masuk kedalam mobil Arumi kembali berbalik melihat sang putra dan Aliya. "Kalau begitu, Mama pulang dulu ya Al besok kamu datang lah ke rumah sebelum berangkat ke Melbourne, Papa menunggu kamu."
"Iya Ma, aku memang berencana untuk menemui Papa," ujar Alvino.
Arumi beralih melihat kearah Aliya yang juga masih berada di sana. "Aliya, kamu juga kapan-kapan main dong ke rumah, temanin Vina. Dia kalau sendiri suka gabut deh."
"Iya Tante, kalau saya libur magang saya pasti akan datang," ucap Aliya dengan sopan.
"Kalau begitu Tante pulang dulu." Arumi beranjak masuk kedalam mobil. Meninggalkan putranya yang berdalih masih ada urusan di sekitar sana.
Setelah mobil yang membawa sang Mama semakin menjauh pergi. Alvino menoleh menatap Aliya sambil berpangku tangan. "Kamu benar-benar tidak bisa menurut dengan ku ya, kenapa kamu pergi belanja sendiri. Bagaimana jika kamu pusing atau pingsan."
__ADS_1
Aliya sudah menebak ia akan di semprot oleh sang suami. Ia menoleh dan menatap sang suami yang sedang menunggu jawaban darinya. "I'm so fine, Mas berlebihan. Huh kenapa aku bisa bertemu dengan Tante Arumi tadi. Hampir saja."
"Kamu kenapa takut sekali dengan Mama? Kamu tahu jika ada wanita yang paling baik di dunia ini, maka Mama ku lah orangnya. Aku tidak memberitahu Mama tentang hubungan kita karena aku tidak mau dia khawatir, untuk sementara waktu cukup Papa."
Aliya membenarkan ucapan Alvino, ia bisa merasakan jika Arumi adalah sosok wanita yang begitu baik dan keibuan. Namun keraguan masih menyelimuti hati Aliya, apakah ia bisa di terima dengan baik di keluarga itu.
"Kenapa harus terburu-buru. Mas bisa saja bilang menyukai ku hari ini tapi besok Mas bisa saja perasaan itu semakin memudar. Aku tidak pernah berharap untuk di akui oleh banyak orang, hidup tenang tanpa gangguan saja sudah lebih dari cukup.
Mendengar ucapan Aliya. Alvino bisa melihat dengan jelas, keraguan dan ketakutan istrinya itu. "Kamu tidak boleh meremehkan perasaan seseorang. Mungkin saat ini kamu masih takut untuk menyadarkan segala harapan mu pada ku, tapi suatu saat kamu akan mengerti hanya aku tempat mu untuk pulang. Aku tidak akan memaksa kamu membalas perasaan ku, karena aku percaya waktu akan memperjelas semuanya, cukup lihat dan jalani."
Logikanya kembali mengingatkan, berhati-hatilah untuk memutuskan sesuatu. Kadang saat hati telah tertaut, semesta tiba-tiba saja memberikan kenyataan yang berbeda.
Entahlah, Aliya seolah trauma dengan laki-laki. Bukan karena ia pernah menjalani hubungan cinta sebelumnya. Tetapi ia pernah melihat langsung bagaimana cinta membutakan segalanya.
__ADS_1
Ya, sang Ibu yang terlalu mencintai sang ayah tiri, pada akhirnya mati konyol karena cinta yang membodohi hati dan logika. Bukan tidak percaya, tetapi berhati-hati memilih hati adalah jalan yang di pilih Aliya untuk menemukan kebahagiaan yang tidak ada masa kadaluarsanya.
"Hey, kenapa kau menatap ku seperti itu," ucap Alvino seraya melambaikan tangannya di hadapan wajah Aliya.
Sontak lamunan Aliya langsung buyar seketika. "Oh tidak apa-apa ... kalau begitu kita pulang sekarang." Aliya hendak menyebrang jalan namun tangannya langsung di genggam Alvino, ia pun kembali menoleh menatap Alvino yang sedang tersenyum kepadanya.
"Aku akan menuntun mu untuk menyebrangi keraguan itu. Dan di akhir perjalanan kamu akan melihat semua kebahagiaan yang aku siapkan untuk mu, teruslah bergenggaman tangan seperti ini hanya dengan ku."
Alvino menoleh kanan kiri. Setelah di rasa jalanan sepi ia pun melangkah sambil mengandeng Aliya menyebrangi jalan raya tersebut, karena memang apartemen mereka ada di sebrang.
Aliya tidak henti-hentinya melihat tangannya yang di genggam erat oleh Alvino, ia bahkan tidak lagi fokus melihat jalan raya, karena ia merasa meski ia tidak melihat sudah ada seorang yang menuntunnya untuk sampai ke sebrang dengan selamat.
Pria ini, bahkan lebih sempurna dari seorang raja. Namun hatinya pernah terluka hingga luka itu lah yang mempertemukan kami, jika aku punya satu kesempatan untuk pergi darinya, dan kembali ke hidup ku yang dulu, aku tidak akan pernah melepaskan genggaman tangannya karena aku sudah paham kehadiran ku amat berarti untuknya, batin Aliya.
__ADS_1
Bersambung 💖