
...Aku tidak mengerti definisi mencintai yang sebenarnya, tetapi yang aku pahami saat mengenal mu adalah 'Mencintai berarti mengenali diri sendiri dari diri orang lain'....
...Meski kamu bukan wanita pertama tetapi yakinlah kepada ku, kau bukan pelarian dan juga bukan rumah persinggahan, kamu adalah segala ku mulai detik ini....
...~Alvino Wilson~...
...----------------...
Matahari mulai meninggi, namun sepasang pengantin baru masih terlelap dengan pulasnya, seolah baru saja melalui malam pertama mereka, meski kenyataannya mereka sudah bertaut berkali-kali hingga meyakinkan diri untuk terikat lebih erat lagi.
Mata Aliya mengerjap perlahan ketika mendengar suara dering ponsel yang begitu nyaring di indra pendengarannya. "Hoaamm, siapa yang menelepon pagi-pagi seperti ini." Ia bangkit dari posisi berbaringnya lalu duduk di tepi ranjang.
Tangannya bergerak cepat meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja lampu tidur. Tiba-tiba saja mulutnya terperangah ketika melihat Shela lah yang meminta video call kepadanya.
"Astaga, bagaimana ini." Melihat tubuhnya yang masih polos, ia segera bangkit dan memunguti pakainya yang berserakan di lantai. "Aku harus cepat memakai pakaian ku."
Setelah selesai memakai pakaiannya, ia pun segera mengangkat panggilan video call itu di balkon kamar agar tidak terlihat jelas detail ruangan Villa.
[Hy Aliya, maaf mengganggu. Noah bilang kamu izin karena pulang kampung ya?]
"Haha, be-betul sekali Nona. Saya ada sedikit urusan di sini."
[Owh begitu, Ini Naya ngotot sekali ingin video call sama kamu. Dia rindu katanya.]
__ADS_1
"Hy Naya, Kak Aliya pergi sebentar ya. Besok Kakak pulang kok."
[Kak Aliya jahat deh, pergi tidak pamit dulu. Padahal Naya sudah menyiapkan makan malam yang enak sama Bibi, eh Kakak tidak datang.]
"Hehe, Maaf Naya. Lusa Kakak akan datang, kamu sudah harus hapal rumus yang Kakak ajarkan ya."
[Siap Kak.]
"Aliya Kamu dimana!" Saat tengah melakukan panggilan video call tiba-tiba terdengar suara seruan dari dalam kamar suara itu pun didengar oleh Naya dan juga Sheila.
[Aliya itu suara siapa, kok tidak asing ya?]
Deg.
Aliya mematikan panggilan telepon itu dan langsung terduduk lemas di lantai balkon. Ia tidak menyangka ternyata serumit ini saat menjalani hubungan rahasia dengan seorang pria beristri.
"Aliya, kamu kok duduk di situ?', Alvino melangkah dan langsung membantu Aliya berdiri. "Wajahmu pucat sekali, kenapa?"
"Tadi saya melakukan panggilan telepon panggilan video call dengan Nona Shela dan Naya. Saya panik karena saat bangun belum memakai pakaian apapun, belum lagi tadi Anda berteriak dan di dengar oleh mereka. Tiba-tiba saya merasa menjadi seorang wanita yang sangat jahat sekali."
Aliya melangkah dengan lemas masuk kedalam kamar. Ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Alvino yang merasa khawatir pun menyusul dan langsung duduk di tepi ranjang. "Apa kamu menyesal menikah dengan ku?"
Aliya langsung menoleh kearah sang suami ketika pertanyaan itu tiba-tiba terlontar. "Apa saya berhak untuk menyesal? Saya hanyalah sebuah persinggahan dan saat memutuskan untuk masuk kedalam hidup Anda, saya sudah siap untuk segala kemungkinan termaksud hal seperti ini, tapi ... ternyata tidak semudah yang saya bayangkan."
__ADS_1
Alvino meraih tangan Aliya dan di genggamannya dengan erat. "Siapa bilang kamu persinggahan? Setelah aku mengucapkan janji suci malam tadi, bagi ku kamu bukan hanya sekedar rumah singgah yang suatu saat nanti mungkin akan aku tinggalkan, tetapi bagiku sekarang kamu adalah tempat ternyaman yang pernah aku temukan, jadi bertahanlah di sisiku."
Wajah Aliya mendadak memerah saat mendengar ucapan Alvino yang terdengar begitu tulus. "Ma-maksudnya Anda mencintai saya?"
"Hem ... mungkin. Apakah kamu berharap aku bisa mencintai mu?"
"Haha, mana mungkin saya berharap seperti itu.", Aliya segera membuang muka ke sembarang arah agar Alvino tidak melihat ekspresi wajahnya.
Melihat Aliya yang begitu salah tingkah, Alvino membungkukkan badannya lalu mencium kening wanita yang sekarang sudah resmi menjadi istrinya. "Morning kiss." Ia kembali melanjutkan dengan kecupan singkat di pipi dan bibir. "Sekarang bangkit lah suami mu ini lapar, apa kamu bisa memasak sarapan pagi ini sayang?"
"A-apa sih kenapa memanggil seperti itu, ehm bagaimana saya bisa berdiri kalau Anda masih berada di hadapan wajah saya."
"Oh iya ya." Alvino segera beranjak dari tempat duduknya dan melangkah menuju lemari pakaian.
Aliya pun juga ikut bangkit dan melangkah menghampiri Alvino. "Anda mau sarapan apa?"
"Apa saja, semua masakan kamu aku suka." Alvino langsung membuka handuknya begitu saja lalu di lemparkan kepada Aliya.
"Kyaaaaa!!" Aliya segera menutup wajah saat secara nyata ia melihat tubuh polos Alvino sedang berdiri di hadapannya.
***
To be continued...
__ADS_1
Jangan lupa berikan dukungan untuk Author ya reader 🥰💖