
Perlahan Aliya mengerjapkan matanya, matanya memicing saat melihat lampu yang menyala di langit-langit ruangan.
"Sayang, kamu sudah bangun. Apa kamu merasa pusing, atau ada yang sakit?"
Dengan wajah yang begitu pucat Aliya tersenyum seraya menatap sang suami. "Kamu kenapa panik sekali sih Mas. Aku baik-baik saja, hanya sedikit pusing saja. Apa kita di rumah sakit?"
Alvino menganggukkan kepalanya lalu kembali tersenyum, ia tidak sabar untuk memberitahu tentang kehamilan Aliya. "Sayang, terimakasih ya."
Tentu saja Aliya mengharapkan keningnya karena tiba-tiba saja Alvino berterima kasih kepadanya. "Untuk apa, Mas? seharusnya aku yang berterima kasih andai tadi kamu tidak datang untuk menolongku mungkin aku akan dibawa oleh ayah tiriku ke tempat yang jauh dari kota."
Alvino mengelus baju kepala Aliya ketika melihat istrinya itu kembali memasang wajah sendu. Ia tahu Aliya pasti sangat sok karena tiba-tiba saja mengalami hal yang di luar dugaannya.
"Sudah ya kamu jangan takut ataupun khawatir lagi aku sudah membereskan semuanya dan sekarang kamu hanya perlu memikirkan kesehatan kamu jangan banyak stress dan makanlah yang bergizi."
Alvino menggerakkan tangannya mengelus lembut perut Aliya yang masih nampak rata. "Sekarang di dalam sini buah cinta kita sedang tumbuh dan berkembang. Di balik semua musibah ini Aku tidak menyangka tuhan memberikan kita anugerah terindah."
Tiba-tiba mata Arya nampak berkaca-kaca karena mulai mengerti apa maksud dari ucapan sang suami. "Maksud Mas aku ... aku hamil?"
Alvino kembali menganggukan kepalanya lalu mencium pucuk kepala Aliya. "Mulai sekarang aku akan bekerja lebih giat lagi dan aku akan berusaha untuk meluangkan waktu untuk kamu.
Aliya masih nampak tak percaya tetapi di sisi lain Ia juga bahagia. Jika dulu ia sangat menghindari hal itu tetapi setelah resmi menjadi istri Alvino Wilson ia tidak menutup diri untuk segera memiliki anak.
Sebagai seorang istri Aliya merasa begitu senang saat melihat ekspresi sang suami yang nampak begitu bahagia. Selama ini Alvino sudah berusaha keras untuk menjadi suami yang terbaik.
Hingga pada suatu waktu Aliya merasa belum bisa memberikan kebahagiaan kepada Alvino tetapi hari ini ia bisa melihat kebahagiaan itu terpancar langsung dari wajah sang suami.
"Aku sangat senang karena melihat Mas tersenyum bahagia seperti ini. Sepertinya kita juga harus memberitahu Naya."
__ADS_1
"Oh iya, aku sampai lupa." Alvino mengambil pasalnya dari status celana untuk melakukan panggilan video call dengan gadis kecil yang sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri.
Meski jarak memisahkan mereka tetapi Alvino selalu berusaha untuk memberikan perhatian dan juga hadiah-hadiah kecil yang ia kirimkan kepada Naya.
Gadis kecil itu masih terlalu polos untuk merasakan betapa pedihnya hidup tanpa seorang ayah. Saat tanggung jawab ayah tidak lagi dibebankan kepada Alvino tetapi ia merasa bahwa walau bagaimanapun ia dan Naya sudah terikat sejak lama dan tidak ada yang bisa mengubah hal itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat yang berbeda setelah pulang dari rumah sakit Abian dan Viona memutuskan untuk mampir ke sebuah restoran dengan konsep outdoor agar mereka bisa menikmati pemandangan kota saat malam hari.
"Kenapa tidak makan, malah liatin aku terus. Kamu tidak akan kenyang hanya dengan menatap ku seperti itu," ujar Viona dengan mulut penuh makanan.
Saat semua wanita akan menjaga image mereka di hadapan pria ketika sudah makan tetapi bagi Viona, Abian adalah satu-satunya laki-laki yang bisa membuatnya menjadi diri sendiri.
"Itu kalung di leher kamu baru?" tanya Abian selesai menunjuk sebuah kalung mutiara yang sangat cantik terpajang di leher jenjang Viona.
Abian nampak kesal karena ia tahu kalung itu diberikan oleh seorang pria untuk Viona. "Dari Brian ya?"
"Ih kok tau banget kamu?"
"Ya bagaimana aku tidak tahu siang tadi kan aku pergi menemui kamu dan aku melihat dia memberikan sebuah paper bag kecil yang berlambangkan logo salah satu toko perhiasan ternama di pusat kota."
"Oh gitu, gimana cantik tidak?" Fiona terus memamerkan kalium yang melingkar di lehernya kepada Abian.
"Jelek! Lepas, lepas. Nanti leher kamu iritasi."
"Kamu kenapa sih, tidak akan aku lepaskan."
__ADS_1
"Oh gitu jadi kamu lebih milih dia dari pada aku. Oke fine thank you."
Lagi lagi Viona menatap sang sahabat dengan tetapan tak percaya karena sepertinya Abian tidak pernah bersikap sampai ini hanya karena sebuah kalung. "Kamu gila ya, kenapa malah kasih pilihan seperti itu."
Abian yang tadi membuang pandangannya ke sembarang arah kini kembali menatap Viona. "Aku yang gila? Hah, kamu yang gila Yona. Kita ini sudah bersahabat sejak lama tapi kamu selalu saja mengabaikan perasaanku apa kurang jelas kalau aku ini cemburu!"
"A-apa tadi kamu bilang?" Viona kembali memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
"I love you so much, Viona Wilson. Ngerti sekarang?"
Viona berdiri dari posisinya, menatap Abian seraya berkacak pinggang. "Kamu kurang minum atau apa sih. Suka tapi ngomongnya ngegas."
Abian pun ikut berdiri dari tempat duduknya ia tidak peduli saat semua pengunjung melihat ke arah mereka. "Bukan kurang minum tapi kurang kasih sayang dan perhatian, kenapa juga aku malah suka sama perempuan yang tidak peka seperti kamu."
"Salah aku? Ya kali aku harus peka. Di mana-mana laki-laki yang harus peka tahu kalau wanita itu ingin diperlakukan istimewa dan lembut, tidak seperti kamu sekarang."
Abian mencoba untuk mengatur nafas kemudian kembali menatap Viona dengan serius. "Baiklah, kalau begitu apa yang harus aku lakukan untuk lebih dari sekedar sahabat?"
Sebenarnya Viona mulai merasa deg-degan dan juga salah tingkah tapi ya berusaha untuk tetap tenang dan bersikap senormal mungkin. "Kamu punya otak kan? Apa yang kamu punya untuk berpikir. Kita sudah lama bersahabat dan juga banyak menghabiskan waktu bersama dan jika memang kamu ingin lebih dari itu, jangan membuat aku bingung dan buktikan saja sampai hatiku benar-benar luluh. Aku ini wanita biasa yang ingin diperjuangkan. Ngerti sekarang?"
Viona segera melangkah pergi dari tempat itu. Bukan karena marah ataupun kesal tetapi ia sudah tidak bisa mengontrol detak jantungnya yang berpacu begitu cepat saat mendengar pengakuan Abian di hadapan semua orang.
Sementara di sana Abian masih berdiri dengan perasaan bingung yang berkecamuk dalam dirinya. mendengar penuturan Viona ia merasa akhirnya memiliki jalan untuk semakin membuktikan perasaannya tetapi di sisi lain Ia juga merasa bahwa ia begitu pengecut selama ini hingga Viona menganggap perasaannya hanyalah sebuah candaan.
Bersambung 💖
Keep support ya readers. Author lagi ada acara keluarga jadi slow up hari ini. tapi besok insya Allah pasti akan aktif lagi update 2 sampai 3 BAB, see you. 😍🥰
__ADS_1