Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.38


__ADS_3

Alvaro berdiri dari posisi duduknya, ketika melihat seorang wanita yang begitu cantik bergandengan tangan dengan Alvino. Seolah kembali ke masalalu, ia seolah melihat sosok istrinya Arumi pada diri Aliya.


Langkah Alvino dan Aliya berhenti di hadapan Alvaro.


"Aliya, apa kamu setuju dan siap untuk menikah dengan Alvino?" Pertanyaan itu terlontar dari mulut Alvaro, karena ia tidak ingin gadis itu terpaksa.


Dengan seluruh keberanian, Aliya menegapkan kepalanya menatap mata Alvaro. "Saya siap, Tuan."


"Bagus, jangan terlalu tegang. Semua akan berjalan dengan lancar." Alvaro menepuk pundak Aliya seraya tersenyum dengan tulus.


Aliya terpana ketika melihat senyum Alvaro yang di tunjukkan kepadanya. Ternyata Tuan Alvaro baik sekali, bahkan dia mengizinkan anaknya untuk menikahi aku yang hina ini. Dia juga tidak bertanya tentang asal usul ku, dan bagaimana keluarga ku, ternyata apa yang tertulis di buku biografinya itu semua benar, batin Aliya.


"Hey kenapa kamu bengong," tegur Alvino.


"Oh saya ... tidak apa-apa," jawab Aliya yang tiba-tiba saja menjadi sangat gugup.


"Kalian duduklah," ucap Alvaro kepada keduanya.


Dengan di saksikan oleh Alvaro, Abian dan Viona. Alvino menjabat tangan sang penghulu untuk kedua kalinya, namun kali ini ia merasakan hal yang berbeda. Hatinya merasa lebih lapang dan tidak ada beban seperti saat ia menikah dengan Shela.

__ADS_1


Saya terima nikahnya Aliya Hermawan binti Hermawan dengan mas kawin tersebut tunai.


Dengan satu tarikan napas, Alvino akhirnya resmi mempersunting Aliya. Suara sah terdengar dari mulut Alvaro dan yang lainnya.


Jangan tanya bagaimana ekspresi wajah Aliya saat ini. Ia tertunduk karena tidak bisa menahan perasaan yang begitu campur aduk. Ia tidak tahu harus bahagia atau sedih karena dua hal tersebut sama-sama mendominasi pikiran dan hatinya saat ini.


~


Pukul sembilan malam, Abian dan Viona sudah pulang terlebih dahulu sementara Alvaro masih ingin membicarakan beberapa hal dengan menantunya, Aliya.


"Saya datang, Tuan." Aliya menghentikan langkahnya di ambang pintu ruangan khusus seperti perpustakaan kecil yang ada di Villa tersebut.


Alvaro menutup buku di tangannya, lalu menoleh kearah pintu. "Kemari dan duduklah. Kita bicara sebentar sebelum Papa pulang."


Alvaro benar-benar seperti melihat sosok Arumi dalam diri Aliya. Ia masih ingat puluhan tahun silam saat ia menikahi Arumi secara sirih, Arumi juga memberikan ekspresi seperti Aliya saat ini.


"Apa kamu takut kepada Papa?"


Aliya menegapkan kepalanya yang sejak tadi tertunduk. "Bu-bukan seperti itu, Tu-tuan. Saya hanya sangat menghormati Anda ... saat awal semester saya kuliah saya membaca salah satu buku biografi tentang Anda, saya sangat kagum kepada Anda."

__ADS_1


"Hahaha, benarkah? Wah saya beruntung sekali mendapatkan penggemar seperti kamu. Tapi apa bisa mulai sekarang kamu jangan memanggil saya Tuan, panggil saya Papa."


"Hah, mana bisa seperti itu, Tuan. Mu-mungkin Anda belum tahu banyak tentang hubungan saya dan Tuan Alvino, tapi saya hanyalah wanita biasa yang di selamatkan oleh tuan Alvino dari rentenir. Di-disini saya bukan siapa-siapa."


Aliya nampak begitu gugup karena baginya ia hanyalah wanita hina yang tidak pantas memanggil Alvaro dengan sebutan Papa, meskipun sekarang ia berstatus sebagai istri Alvino.


"Hemm... sepertinya kamu yang belum mengerti. Apapun yang terjadi antara kamu dan Alvino beberapa waktu yang lalu, itu tidak akan mempengaruhi pandangan Papa kepada kamu. Bagi Papa kamu adalah menantu keluarga Wilson, mungkin bagi kamu semua mustahil tetapi Papa sudah pernah membuktikan kekuatan dari cinta yang datang setelah pernikahan."


Aliya kembali menatap Alvaro dengan tatapan tak percaya, iya tidak mengetahui jika dibalik sikap tegas dan dingin seorang Alvaro Wilson terdapat sikap yang begitu bijaksana dan tidak mendiskriminasi.


"Apa saya pantas mendapatkan gelar sebagai menantu Anda?" Pertanyaan itu tiba-tiba saja keluar dari mulut Aliya, karena untuk memantaskan diri ia merasa tidak punya cukup kepercayaan diri.


"Kamu pantas, sangat pantas. Papa bisa melihat jika kamu adalah wanita yang baik. Dan Papa hanya minta satu hal kepada kamu, meskipun pernikahan ini hanya atas dasar saling membutuhkan, jangan tutup hati kamu untuk Alvino, belajarlah mencintai dia dan terimalah dia sebagai suamimu."


"Baik, Pa."


Alvaro tersenyum ketika mendengar ucapan tersebut keluar dari mulut Aliya. "Kamu harus sabar menghadapinya karena memang kadang dia terlalu egois dan juga posesif, meskipun begitu dia adalah pria yang baik dan bertanggung jawab. Asalkan kamu setia dan melakukan tugasmu sebagai seorang istri dia akan berlutut di bawah kakimu seolah kamu seorang ratu, kau tau buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya, haha."


Aliya akhirnya bisa tersenyum saat mendengar ucapan Alvaro. "Saya berjanji akan melakukan tugas saya sebagai seorang istri dengan baik, bagaimanapun akhirnya nanti saya sudah siap."

__ADS_1


Bersambung 💖


Jangan lupa dukungan untuk Author dengan cara berikan kembang kopi dan juga vote ya readers 😘


__ADS_2