Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.26


__ADS_3

"Jadi sekarang Naya di mana, Bi?" tanya Aliya kepada seorang pelayan yang membuka pintu untuknya. Pelayan itu bercerita bahwa sejak malam kemarin Shela dan Alvino tidak pulang ke rumah, Naya pun menjadi murung.


"Ada di kamar, Nona. Bibi minta tolong bujuk Nona Naya untuk makan, sudah seharian ini dia tidak makan, telepon Nyonya dan Tuan Alvino tidak aktif."


Ya bagaimana mau aktif kalau ponselnya hancur. Huh, kasihan Naya, batin Aliya.


"Kalau begitu saya ke kamar Naya dulu, Bi."


Aliya melangkah menuju sebuah kamar yang ada di lantai satu rumah mewah itu. Saat masuk kedalam, ia bisa melihat Naya sedang tertidur di atas ranjang sambil mendekap sebuah boneka beruang.


Perlahan Aliya melangkah mendekat dan langsung duduk di tepi ranjang. "Naya, Kak Aliya datang. Kita makan malam bersama terus belajar yuk."


Tanpa bicara apapun Naya menutup wajahnya dengan boneka yang ada di pelukannya. Kecewa, seperti itulah gambaran perasaan gadis kecil itu kepada kedua orangtuanya.


Baru mengetahui kedua orangtuanya tidak pulang saja, Naya sudah bersedih. Apalagi jika gadis kecil itu tahu, jika pernikahan kedua orangtuanya di ambang kehancuran. Aliya menghela napas pelan saat mengingat kejadian kemarin.


Tak ingin menyerah begitu saja, Aliya menggerakkan tangannya membelai pucuk kepala Naya. "Naya sedih karena Daddy dan Mommy tidak pulang ya? Kakak yakin, sekarang Mommy dan Daddy sudah dalam perjalanan datang, yuk kita makan malam dulu nanti kalau Naya sakit Mommy dan Daddy sedih loh."


Perlahan Naya menunjukkan wajahnya, ia bangkit dan langsung duduk di dekat Aliya. "Kata siapa Mommy sama Daddy sedih? Mereka tidak perduli sama Naya, tidak sayang Naya!"


"Sayang, jangan bicara seperti itu dong. Mommy dan Daddy sangat menyayangi Naya, mereka tidak pulang karena sedang bekerja demi masa depan Naya. Sayang, dengar Kakak ya, tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya, hanya saja mereka tidak bisa berada di sisi Naya setiap saat. Sebagai anak pintar, Naya harus mendoakan Mommy dan Daddy agar selalu di berikan kesehatan dan perlindungan saat sedang jauh dari Naya."

__ADS_1


Mata gadis kecil itu nampak berkaca-kaca. Saat mendengarkan ucapan Aliya yang membuatnya lebih tenang. "Kak Aliya, kata Mommy Naya ini sakit, apa itu artinya Naya tidak akan hidup lama?"


Aliya tidak bisa menahan kesedihannya saat gadis kecil itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca sambil mengucapkan hal yang begitu tabu untuk di ucapkan oleh seorang anak berusia lima tahun.


Hembusan napas Aliya terdengar bergetar, ia tetap berusaha untuk terlihat kuat di hadapan gadis kecil itu. "Jangan berkata seperti itu sayang. Kamu tahu dalam hidup ini kita tidak boleh berputus asa. Mulai sekarang Naya harus bersemangat membangun mimpi, Kak Aliya akan membantu Naya."


"Kak Aliya janji, akan selalu ada untuk Naya?"


"Yes, I promise." Aliya merentangkan kedua tangannya. "Sini peluk dulu, biar lebih tenang."


Tanpa ragu Naya langsung memeluk Aliya. Gadis kecil itu akhirnya bisa kembali tersenyum. "Terima kasih, Kak Aliya."


"Kenapa Aliya bisa dengan cepat membuat Naya tenang, sementara Shela seolah tak perduli dengan anaknya sendiri," gumam Alvino.


"Daddy!" Naya yang baru saja keluar kamar bersama Aliya, tersenyum senang ketika melihat sang Daddy sudah pulang.


Alvino segera bangkit dari posisinya dan membawa sang putri kedalam gendongannya. "Maaf karena Daddy baru pulang ya, Daddy bekerja sampai ketiduran jadi tidak bisa pulang, Mommy juga sepertinya masih tidur di kantornya."


"Tadinya Naya kesal, untung ada Kak Aliya."


Alvino mengalihkan pandangannya kepada Aliya yang masih berdiri di ambang pintu kamar Naya. Tatapan Alvino nampak begitu teduh saat melihat wanita yang bukan hanya berhasil menenangkannya tetapi juga putrinya.

__ADS_1


~


Pukul sepuluh malam, Aliya bisa bernapas lega ketika melihat Naya sudah tertidur lelap setelah makan dan belajar bersamanya. Ia meletakkan buku dongeng di atas meja lampu tidur lalu beranjak turun dari ranjang.


Saat akan melangkah keluar, Alvino tiba-tiba datang. Sontak Aliya langsung menghentikan langkahnya. "Saya pamit pulang dulu, Naya sudah tidur. Karena besok hari Minggu, saya berjanji kepada Naya untuk mengajaknya berjalan-jalan, apa boleh?"


Alvino menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kepada Aliya. "Boleh saja, tapi dia suka tempat yang tenang dan tidak berisik. Kamu boleh mengajaknya ke taman kota."


"Oh begitu, baiklah. Kalau begitu saya pulang dulu."


Saat akan melangkah keluar, Alvino menahan tangan Aliya. "Apa kamu akan bersikap seformal ini saat kita tidak berada di apartemen?"


Aliya melepaskan lengannya dari genggaman tangan Alvino. "Di sini saya adalah guru les Naya. Saya tahu bagaimana saya harus bersikap sesuai pada tempatnya. Hari ini saya melihat bagaimana rasa kecewa Naya kepada kedua orangtuanya, jika Anda mempertahankan pernikahan Anda demi Naya, tolong jangan buat dia kecewa. Dia kesepian, tidak punya teman, kalau bukan Anda dan Nona Shela siapa lagi yang bisa dia andalkan. Permisi."


Bersambung 💖


Jangan lupa berikan dukungan ya readers 😘.


Author mau merekomendasikan novel keren lagi nih.


__ADS_1


__ADS_2