Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.42


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Aliya dan Alvino bergegas untuk kembali ke kota karena harus langsung ke perusahaan. Saat mobil melewati pintu tol, Aliya menoleh kebelakang, karena liburannya terasa begitu singkat.


"Kenapa, mau balik lagi?" tanya Aliya tiba-tiba.


Aliya menggelengkan kepalanya cepat lalu kembali ke posisi duduknya semula. "Tidak, saya hanya mau melihat pintu gerbang tol itu saja, sangat bagus."


"Pfft hahaha, kalau mau berbohong seharusnya kamu harus lebih cerdas lagi." Suara tawa Alvino terdengar begitu renyah hingga membuat Aliya memasang wajah cemberutnya.


"Jadi Anda mau bilang, saya ini bodoh?"


Alvino menghentikan gelak tawanya lalu menoleh melihat Aliya. Perlahan tangannya bergerak, mengusap lembut pucuk kepala istrinya itu. "Kamu tenang saja, kapan-kapan kita akan kembali ke tempat itu lagi. Jadi bersikap baiklah kepada suami mu."


Wajah Aliya kembali bersemu merah saat Alvino menyentuh pucuk kepalanya. Rasa nyaman dan di lindungi, hal itu lah yang di rasakan Aliya saat ini.


~


lamanya perjalanan tidak terasa bagi keduanya karena saat di mobil mereka mengobrol kan beberapa hal baik itu tentang pekerjaan dan kehidupan pribadi.


Seolah tidak ada beban di antara mereka Alvino menanyakan hal-hal pribadi yang ingin Ia ketahui dari Aliya dan semakin banyak Aliya bercerita Alvino semakin kagum karena ternyata wanita yang ia pilih tidaklah salah.

__ADS_1


Ya, Alvino kagum karena ternyata Aliya adalah sosok yang mandiri sejak kecil, meski tidak mempunyai kedua orang tua. Belum lagi perilaku Ayah tirinya yang semena-mena dan terakhir kali ayah tiri Aliya menjual dan menjadikanya seorang wanita malam.


Saat mobil Alvino hampir sampai di perusahaannya. Aliya langsung meminta Alvino menepikan mobil di sebuah halte bus yang tidak jauh dari sana. "Tuan saya turun di halte itu, tolong menepi."


Alvino menepikan mobilnya saat sampai di depan halte yang nampak sepi itu. meski sebenarnya ia tidak mempermasalahkan jika Arya ingin ikut sampai ke perusahaan tetapi ia tahu istri keduanya itu sangatlah menjaga privasi dirinya.


"Kamu benar ingin turun di sini? Gedung WB grup masih lima puluh puluh meteran dari sini, sebaiknya kamu turun di basement kantor saja tidak akan ada yang melihat kenapa kamu separno ini sih."


"Lebih baik saya jalan kaki dari pada ikut Anda masuk ke wilayah perusahaan. Kalau pagi-pagi seperti ini pasti banyak karyawan di basement. tenang saja saya sudah biasa jalan kaki kok. Saya turun dulu terimakasih untuk kemarin."


Ketika Aliya hendak turun dari mobil Alvino menahan lengan Aliya dan membuat gadis itu kembali menatap ke arahnya. "Malam ini kamu mengajar Naya atau tidak?"


"Oh tidak Tuan saya akan kembali mengajar les Naya besok malam." Aliya hendak melanjutkan langkahnya turun dari mobil tetapi Alvino lagi-lagi menahan ia untuk kembali duduk.


Aliya nampak tertunduk ketika mendengar ucapan Alvino. Bagaimana bisa ia mengenakan cincin pernikahannya saat berada di kantor apa yang akan ia katakan kepada semua orang saat melihat cincin itu.


Berkilah dan kembali berbohong hanya akan merugikan dirinya sendiri jadi dia merasa lebih baik dia tidak memakai cincin itu. Aliyah menarik tangannya dari genggaman Alvino. "Apa masih harus menjawab, saat Anda tahu status saya seperti apa?"


"Oh jadi karena itu, padahal aku tidak berniat untuk membuka cincin ku." Alvino memperlihatkan cincin yang terpasang di jari manisnya kepada Aliya.

__ADS_1


Alia membulatkan matanya karena ia mengira cincin yang dipakai oleh Alvino adalah cincin pernikahannya dan Shela. "Hah, jadi yang Anda pakaia itu pasangan cincin saya? Saya pikir itu adalah cincin pernikahan Anda dan Nona Shela."


"Ck, Aku sudah lama membuang cincin itu. saat itu aku sedang hancur hancurnya dan merasa tidak perlu lagi memakai cincin pernikahan yang sudah tidak bisa dipertahankan. aku tidak peduli kamu mau memakai cincinmu atau tidak yang jelas aku akan memakai cincinku tanpa melepaskannya."


Aliya menghela nafas pelan karena ia tahu jika Alvino sudah memutuskan sesuatu percuma saja dirinya meminta agar Alvino melepaskan cincin itu. "Huft baiklah terserah Anda. Saya mau turun dulu."


Aliya menoleh ke depan belakang untuk melihat situasi. Ketika jalanan nampak lengang Ia pun segera turun dan duduk di halte bus itu. Alvino pun tidak punya pilihan lain ia segera melajukan mobilnya pergi dari tempat tersebut.


~


Saat Alvino memasuki ruang kerjanya, terlihat Abian sedang tidur di sofa yang ada di ruangan itu. malam tadi Abian dan beberapa tim lainnya lembur semalaman karena Alvino mengambil cuti liburan.


"Woy bangun, dah siang ini." Alvino mengguncang tubuh Abian hingga sahabatnya itu akhirnya mulai membuka mata meskipun wajahnya begitu nampak masih mengantuk.


"Hoaaamm, kamu sudah datang. Ini jam berapa?" tanya Abian seraya bangkit dari posisi berbaringnya ia memijat tekuknya yang terasa begitu pegal karena semalaman ia mengerjakan apa yang seharusnya Alvino kerjakan.


"Sudah jam setengah sembilan, pulang dan mandilah. Dasar tukang tidur."


Abian mendogakkan kepalanya melihat Alvino yang sedang berdiri di hadapannya. "Hey kau pikir aku seperti ini karena siapa? Kau enak-enakan iya-iya sama istri baru mu dan aku menderita di sini."

__ADS_1


"Pameran seniman bulyan di gedung kesenian jam tujuh malam, Viona akan datang ke sana dengan teman-temannya dan aku rasa akan banyak teman pria juga, jika kamu ingin menyusulnya aku akan memesankan tiket untukmu."


sontak Abian langsung berdiri dari duduknya. tubuh yang tadinya begitu lemah tiba-tiba menjadi bersemangat. "Benarkah? kalau begitu aku akan pergi ke sana terima kasih atas infonya calon kakak iparku. Kau memang yang terbaik."


__ADS_2