Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.139


__ADS_3

"Huaaa!!!!" Viona berteriak Ken saat melihat jam di dinding kamar sudah tunjukkan pukul delapan pagi sementara pesawat mereka akan terbang pukul setengah sembilan pagi ini. "Bi, ayo bangun." tepukan tangan Viona begitu keras menerpa punggung Abian.


Malam tadi mereka melalui malam panas bersama, mereka tak terbangun meskipun sudah memasang jam alarm sebagai pengingat. Perlahan Abian mengerjakan matanya seraya meregangkan tubuh yang terasa begitu pegal. "Ya kenapa?"


"Kenapa kamu bilang, kita harus ke airport sekarang! Ayo bangun dan bersiap-siap," ucap Viona lalu segera bangkit dari posisi berbaringnya dan melangkah menuju kamar mandi tanpa menunggu Abian.


Abian masih terduduk di atas ranjang seraya berusaha mengumpulkan seluruh energinya. iya memijat-mijat tekuk lehernya begitu pegal belum lagi kedua betis dan juga tangannya yang terasa keram. "Ah malam tadi aku terlalu banyak olahraga."


Ketika hendak turun dari atas ranjang tiba-tiba ponselnya yang ada di atas meja lampu tidur bergetar tanda pesan masuk. Ia nampak tersenyum ketika melihat nama yang tertera di layar ponselnya. "Vino, dia sudah sampai sejak tadi subuh ternyata."


"Bian! Cepat mandi, aku sudah selesai." Viona keluar dari kamar mandi masih lengkap dengan pakaian yang ia pakai tadi hanya saja rambutnya sedikit basah.


"Kamu sudah mandi? Kok cepat sekali, bandara dekat kok, jangan buru-buru," ujar Abyan seraya turun dari atas ranjang.


"Aku tidak semangat lagi mandi, ini semua gara-gara kamu. Malam tadi kamu pakai gaya, nungging, cicak-cicak di dinding, sama dogi-dogian, aku kan jadi lelah. Ayo cepat mandi kenapa malah memandangi aku seperti itu."


"Iya-iya, bawel. Oh iya jangan lupa telepon Mama dan Papa mertua kalau kita akan berangkat."


"Sudah kemarin sore, mereka tidak bisa mengantar kita karena Naya pulang, padahal rencananya pagi ini aku mau bertemu Naya sebentar tapi gagal gara-gara kesiangan, ini gara-gara kamu."


"Aku lagi, memang dasarnya kamu kebo kalau tidur," ucap Abian lalu segera berlari menuju kamar mandi sebelum terkena lemparan atau pukulan dari sang istri.


"Bian!!!"


~


Sementara itu Aliya yang baru saja sampai subuh tadi di Mansion keluarga Wilson, berjalan jalan pelan menuju kamar mandi karena tidak ingin membangunkan suaminya dan juga Naya yang masih tertidur lelap.


Tadinya mereka ingin pulang ke rumah tetapi Naya merindukan kakek dan neneknya, jadi Alvino memutuskan untuk menginap semalam di kediaman kedua orang tuanya sebelum esok hari kembali ke rumah.


Sesampainya di dalam kamar mandi Alia memuntahkan semua isi perutnya. karena terlalu lama di pesawat malam tadi perutnya benar-benar tidak enak dan merasa masuk angin.

__ADS_1


Setelah selesai ia menyandarkan tubuhnya sebentar untuk mencari tenaga sebelum kembali berbaring di atas ranjang bersama suami dan anaknya. "Perutku benar-benar tidak nyaman."


Klek.


Pintu kamar mandi kembali terbuka Alvino masuk dengan raut wajah yang nampak sangat khawatir. "Kamu muntah lagi?"


"Iya Mas, sepertinya masuk angin. Aku mau turun ke bawah mencari minuman hangat kamu tunggu saja di kamar sampai Naya bangun."


"Aku akan mengantar kamu turun ke bawah setelah itu aku kembali ke kamar, ayo." Ia memapah Aliya keluar dari kamar mandi.


Alvino tidak mungkin membiarkan istrinya turun ke bawah sendiri karena tangga di rumah tersebut begitu tinggi dan cukup curam. Sementara ia tahu Aliya paling tidak bisa naik lift di rumah tersebut apalagi ketika sedang tidak enak badan.


"Aliya kamu kenapa?" tanya Arumi yang baru saja pulang dari jalan pagi bersama dengan Vina.


"Masuk angin Ma," sahut Alvino.


"Ma buatin Aliya teh jahe, dia pasti kelelahan di pesawat," sambung Vina.


"Oh iya, ayo Aliya ikut Mama ke dapur." Arumi beralih menatap Sang putra. "Vin, Naya mana?"


"Aku juga naik dulu ya," ucap Vina lalu melangkah naik keatas mengikuti sang Kakak.


Arumi menggandeng tangan Aliya agar mengikuti langkahnya pergi ke dapur belakang. sampainya di dapur Arumi membuka kulkas untuk mengambil sebuah ramuan jahe khusus yang ia beli di toko herbal langganannya.


"Kamu harus coba ini." tangan-tangan lembutnya mulai meracik teh jahe herbal khusus untuk sang menantu.


"Wah wanginya saja sudah membuat kepala ringan Ma," ucap Aliya sambil mengendus bau ketika Arumi menuang air panas ke cangkir teh.


Setelah selesai Arumi menyadarkan teh herbal itu di atas meja kitchen set. "Minumlah selagi hangat."


"Baik, Ma. Oh iya Kak Shela menitipkan salam dan permintaan maaf kepada Mama dan Papa. Sekarang Kak Shela sudah berubah, dia juga sudah menemukan tambatan hatinya disana."

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu. Mama menyesalkan perjodohan yang papa rencanakan untuk Alvino dulu hingga menyakiti diri mereka satu sama lain. Sekarang Papa merasa sangat bersalah tetapi juga merasakan karena Alvino mempunyai kamu di sisinya. Aliya, melihat kamu sekarang seperti melihat diri Mama yang dulu."


Mendengar ucapan terakhir sang Mama mertua, Aliya meletakkan cangkir tehnya dan menatap wajah semur tua dengan begitu serius. "papa dan Mas Alvino juga pernah mengatakan hal yang sama dan sekarang aku benar-benar penasaran Bagaimana kisah cinta Mama dan Papa di masa lalu."


"Kamu mau dengar cerita Mama?"


Aliya menganggukkan kepalanya dengan cepat.


Arumi menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. iya pun mulai bercerita tentang bagaimana pertemuannya dengan seorang Alvaro Wilson, tentang bagaimana ia diselamatkan dan dinikahi secara diam-diam hingga akhirnya saling jatuh cinta di tengah restu yang tak berpihak.


Begitu banyak kisah yang bersejarah untuk kisah Selir Hati Mr.billionaire. Kisah yang seolah bereinkarnasi dalam kehidupan Putra mereka Alvino Wilson.


...----------------...


"Welcome to Japan!"


"Apasih jangan norak, tahun lalu kan kita kesini bersama Vino dan para staf kantor," ujar Abian saat turun dari pesawat bersama sang istri.


"Idih sekarang sedang winter, lagi pula dulu kita kesini untuk bekerja bukan bulan madu," sahut Viona kesal.


"Ck, hahaha. Kok bisa aku menikah dan kembali ke tempat ini bersama orang yang itu-itu lagi," ledek Abian.


"Heh, kamu menyesal menikah dengan ku, hah?"


"Bukan seperti itu, aku hanya tidak menyangka doa ku tahun lalu terkabulkan. Saat aku, kamu dan Alvino datang kemari, aku meminta di langit musim semi di mana semua daun pohon sakura berjatuhan, agar kelak saat aku kembali aku datang bersama dengan kamu dengan status yang berbeda."


Wajah Viona mendadak bersemu merah. "Kamu sangat mencintai ku?"


"Hem, aku mencintai kamu, sangat mencintai kamu, Yona."


"Aku juga, Bi. I love you to."

__ADS_1


Mereka saling menatap dalam diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing dan membiarkan salju berjatuhan menimpa tubuh mereka. Rasa dingin dari suhu di bawah 12 derajat Celcius tidak mereka hiraukan karena kehangatan cinta yang lebih pekat dari dinginnya udara Jepang di musim salju.


Bersambung 💖🥰


__ADS_2