
Sesampainya di depan halaman rumah sakit, Noah yang sejak tadi diam membalikkan tubuhnya menatap Alvino dengan serius. entah mengapa sekarang jika Alvino ingin bicara kepadanya ia merasa hal yang ingin dibicarakan itu adalah hal yang begitu penting.
"Kita sudah sampai di depan rumah sakit, sekarang coba Kakak katakan kepadaku apa yang ingin Kakak bicarakan?"
mendengar pertanyaan Wah Alvino malah nampak ragu. iya beberapa kali menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ehm aku ... aku hanya ingin tau hal apa saja yang di sukai Aliya. Misalnya makanan yang dia suka atau mungkin dia suka menonton acara televisi apa."
"Pfftt, hahaha." Noah tidak bisa menahan tawanya ketika mendengar pertanyaan Alvino. Ia sudah berpikir terlalu jauh bahwa mungkin Alvino akan membicarakan sesuatu yang penting kepadanya.
Alvino nampak malu saat Noah tertawa karena mendengar pertanyaannya. "Hey kenapa kau malah tertawa? Aku bertanya serius."
"Maaf kak, aku hanya tidak menyangka Kakak menanyakan hal seperti ini kepada ku."
"Kamu dan dia sudah bersahabat sejak lama, dibandingkan dengan aku, kamu pasti jauh lebih mengenal dirinya. Sebenarnya aku malu menanyakan hal ini kepadamu tetapi aku ingin mengetahui apa yang dia suka dan apa yang dia benci, aku ingin tahu segalanya tentangnya."
__ADS_1
Sekilas Noah nampak tersenyum ketika melihat perhatian Alvino yang begitu besar kepada Aliya. Pada awalnya ia mengkhawatirkan sahabatnya memilih jalan yang salah tetapi sekarang perlahan ia mulai mengerti kenapa Aliya sampai ingin membuka hati kepada seorang Alvino Wilson.
"Sepertinya kita butuh banyak waktu untuk membahas segala tentang dirinya. mungkin aku hanya akan memberitahu sedikit untuk permulaan, selanjutnya kita bisa membahas ini saat jam istirahat di kantor atau mungkin bertemu secara pribadi di luar."
Alvino menganggukkan kepalanya perlahan tanda mengerti dengan ucapan Noah. "Baiklah aku setuju saja."
Meski hatinya belum benar-benar pulih tetapi Noah berusaha untuk bertindak layaknya seorang sahabat yang sesungguhnya untuk Aliya. Ia menghembuskan nafasnya perlahan lalu mulai memikirkan hal apa saja yang akan ia beri tahu kepada Alvino.
"A-apa makan dengan mengunakan jari-jari seperti ini." Alvino mengangkat tangannya ke hadapan Noah. Alvino masih bisa mentoleri soal coklat karena memang itu adalah hal yang lumrah jika wanita menyukai coklat tetapi makan dengan jari? Oh now, seorang pewaris perusahaan besar bahkan suapi saat kecil, ia tidak pernah menggunakan tangan kosong untuk makan.
"Haha, iya. Aku dan dia sering makan satu piring berdua Dan kami menggunakan tangan karena dia sangat menyukai hal itu. dan jika dia tidak pernah melakukan hal itu di depan Kak Vino mungkin dia masih segan."
Alvino menurunkan tangannya dengan kepala tertunduk. Sekarang Ia baru sadar bahwa meski hubungan mereka sudah semakin baik tetapi ia masih belum tahu banyak hal tentang Aliya, termasuk hal remeh seperti ini.
__ADS_1
"Jangankan makan satu piring berdua menggunakan tangan. Sekarang saja dia masih bicara formal kepadaku, memanggilku pun masih menggunakan kata tuan."
"Jangan harap dia akan berubah seperti yang anda inginkan tanpa Kakak minta. karena dia adalah wanita yang tidak bisa membaca pikiran Kakak. Jangan gengsi dan sampaikan ke dia apa yang Kakak inginkan. Kalau begitu aku pulang dulu."
Noah kembali berbalik lalu melangkah menjauh dari Alvino yang masih nampak tenggelam dalam pikirannya sendiri. Alvino baru mengetahui dua hal tentang Aliya dan ia sudah merasa harus belajar menyesuaikan diri karena memang dia dan Aliya sudah bagaikan langit dan bumi.
Alvino kembali memandangi jari-jarinya. "Bagaimana seseorang bisa makan menggunakan tangan."
Bersambung 💖
Author mau merekomendasikan novel keren lagi nih.
__ADS_1