
"Siapa yang kamu maksud?", tanya Alvaro kepada menantunya yang masih tertunduk lemas.
"Saya tidak tahu siapa wanita itu. Yang jelas, anak yang Papa anggap begitu sempurna nyatanya juga bisa berselingkuh saat masih resmi menikah dengan saya. Jangan menghakimi saya begitu saja, karena Papa tahu dengan jelas jika sejak awal pernikahan ini hanyalah sebuah bisnis antar keluarga. Sekarang saya sudah lelah dan ingin bercerai! Tapi demi Naya, saya harus bertahan dengan semua hinaan ini, apa saya salah jika mengikuti kata hati saya, saya berhak atas kebahagiaan saya sendiri."
"Cukup!" Tangan Alvaro bergetar karena menahan diri agar tidak kembali menampar Shela. Hari ini ia seperti kembali ke satu moment di mana mantan istrinya mengatakan hal yang sama seperti yang Shela katakan.
"Jika kamu merasa berhak atas hidup mu sendiri, maka Alvino juga begitu. Apapun yang Alvino putuskan dalam hidupnya, dia tetap lah putra kebanggaan Alvaro Wilson! Setelah Naya selesai operasi, kamu dan keluarga mu akan tamat."
Alvaro melangkah pergi dari ruangan itu lalu menutup pintu dengan keras. Sementara Shela masih berada di sana, ia terduduk lemas di lantai restoran, ia kembali merasa hancur demi sebuah hal yang ia anggap sebagai sebuah kebahagiaan, namun nyatanya keegoisannya itu malah membawanya ke dalam masalah besar.
"Aaaaakkkk!!!!" teriakan Shela menggema ke sekeliling ruangan itu. Ia merasa serba salah, setiap langkah yang ia ambil hanya membuat dirinya mengalami kesialan.
~
Pukul sembilan malam, Alvino bergegas keluar dari rumah setelah memastikan Naya tertidur. Ia tersenyum sumringah saat melihat Abian sedang menunggunya di halaman rumah.
"Wah barangnya ada ya, thanks Bian. kamu memang bisa di andalkan," ucap Alvino seraya mengambil sebuah paper bag dari tangan Abian.
"Kamu mau ke apartemen sekarang?" tanya Abian.
"Tentu saja. Oh iya, aku sudah mengikuti saran mu dan Viona tapi sepertinya dia tidak mau, sekarang aku jadi malu sendiri di tolak seperti itu," ujar Alvino seraya menghela napas pelan.
"Ck, memangnya kamu tau cara menyatakan perasaan cinta yang benar itu seperti apa? Membayangkannya saja aku sudah merinding, pasti cara mu tidak tepat. Eh tapi tenang saja ... aku dan Viona tadi menemui Aliya dan kamu tahu, saudara kembar mu itu berhasil membuat Aliya setuju,", tutur Abian dengan ragu-ragu, ia takut Alvino malah marah kepadanya.
Ya, tentu saja Alvino nampak terkejut. "Apa! Wah Yona benar-benar sudah gila, ikut campur sampai ke akar-akarnya. Untuk apa juga dia meminta seperti itu kepada Aliya, aku kan jadi ...." Alvino tiba-tiba merasa panik sendiri. "Ah entahlah aku pergi dulu."
"Bujuk dia dengan kata-kata romantis, jangan seperti orang memerintah!" seru Abian kepada Alvino yang sudah melangkah menuju garasi mobil. Namun Alvino tidak menanggapi dan hanya terus melangkah pergi.
__ADS_1
~
Setelah mandi dan berpakaian santai, sekarang Aliya sedang berada di dapur untuk memasak makan malam. Karena tidak masih bad mood ia memutuskan untuk menggoreng ayam saja.
Di depan penggorengan ia kembali termenung. Ia merenungi semua yang ia rasa tidak mungkin. Andai bisa ia ingin memutar waktu di mana ia tidak pernah di tuntut untuk membuat keputusan untuk hidupnya sendiri. Hidup tanpa beban, rasanya sudah terlalu lama ia tidak merasakan hal seperti itu.
Lama ia tenggelam dalam pikirannya sendiri, hingga indra penciumannya mengendus bau yang begitu menyengat. "Yah gosong." Aliya segera mematikan kompor saat melihat ayam yang ada di penggorengan sudah berwarna hitam pekat.
"Hey, kau mau membakar diri atau apa, awas." Alvino segera menarik tangan Aliya saat melihat kepulan asap dari penggorengan. Ia menutup penggorengan itu dengan tutup panci yang ada di wastafel dapur.
"Tuan," lirih Aliya. Ia terlihat kaget dan bingung karena Alvino tiba-tiba saja datang.
Alvino menghampiri Aliya dan langsung menarik tangan gadis itu duduk di kursi meja makan. "Lain kali kalau lagi masak jangan kebanyakan bengong, bagaimana kalau penggorengan itu meledak dan semua minyak panas itu mengenai wajah cantik mu."
"Hah, cantik? Jadi menurut Anda saya ini cantik." Aliya tersenyum seraya mengedip-ngedipkan matanya. Seolah berusaha untuk menghilangkan semua yang ia sempat pikiran tadi.
"Bu-bukan seperti itu maksudku ... ehm, pokoknya lain kali kamu jangan memasak jika hanya ingin melamun saja." Alvino beranjak duduk di samping Aliya lalu menyodorkan sebuah paper bag ke hadapan Aliya. "Ambil ini, ponsel baru untuk mu."
Alvino memperhatikan wajah Aliya yang begitu lesu. "Hey kau kenapa, lesu karena tidak makan atau sedang banyak pikiran?"
"Dua-duanya. Ini semua karena Anda!" Aliya menatap Alvino dengan tatapan kesal. lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Alvino terlihat kaget karena Aliya tiba-tiba saja berteriak kepadanya. "Aku? Memangnya apa yang aku lakukan sih, jangan suka menyalahkan orang lain dong."
Aliya menjauhkan kedua tangan dari wajahnya lalu kembali menoleh menatap Alvino. "Kenapa Anda mau menikah dengan saya?"
Alvino terdiam sejenak karena ia juga bingung kenapa ia mengikuti saran Viona dan Abian, padahal ia adalah pria yang selalu kekeh pada keputusannya sendiri. "Tidak tau, emangnya kenapa, kamu menolak ku?"
__ADS_1
Aliya menghela napas pelan, ingin rasanya ia menggigit hidung Alvino saking kesalnya. "Saya tidak bisa menolak karena Nona Viona yang meminta."
"Nah bagus itu, sudah jangan di pikirkan lagi. Ayo buka dong ponsel barunya," ucap Alvino seraya mendekatkan paper bag itu kepada Aliya.
"Nanti saja, saya sedang tidak mood," ucap Aliya dengan lemas.
"Sekarang saja, aku mau lihat," ucap Alvino yang begitu kekeh agar Aliya segera menganboxing ponsel baru tersebut.
Karena tidak ingin terus berdebat, Aliya pun menurut. Ia meraih paper bag itu dan langsung mengambil sebuah kotak ponsel dengan merek ternama. "Hm, ini saya udah mau buka nih. Ini ponsel kan untuk saya tapi kenapa Anda yang tidak sabar."
Aliya membuka kotak ponsel yang masih tersegel dengan rapi. Setelah berhasil membuka segel kotak itu, ia pun segera membuka isinya. Seketika matanya membulat ketika melihat isi kotak itu bukan hanya ponsel baru tapi juga sebuah cincin berlian yang sangat indah.
Aliya yang tidak bisa berkata-kata langsung menoleh kearah Alvino. "I-ini apa?"
Alvino tekekeh saat melihat ekspresi wajah Aliya, sedetik kemudian ia kembali menatap Aliya dengan serius. "Aliya, Will You marry me?"
Deg.
Rasanya jantung Aliya akan segera melompat dari rongga dada. Ia tidak bisa berkata-kata lagi, kepalanya mengangguk pelan sebagai tanda jika ia setuju.
Melihat anggukan kepala Aliya, Alvino pun tersenyum dan langsung memasangkan cincin itu ke tangan Aliya. Setelah selesai memasang cincin yang begitu pas di tangan Aliya, ia kembali menatap Aliya.
"Aku tidak tahu secara pasti apakah akan ada batas waktu untuk kamu terus mengenakan cincin ini. Tapi aku minta mulai saat ini temani aku menjalani semuanya, apapun yang terjadi dengan hubungan ini nantinya, biarkanlah menjadi rahasia semesta."
Aliya menundukkan kepalanya, ia terharu saat merasakan lamaran Alvino terdengar begitu tulus. Meski ia tahu semuanya hanyalah kepalsuan yang ia tidak tahu apa dampak yang akan ia dapatkan nantinya.
Sesuatu yang tidak mungkin akan menjadi mungkin saat takdir sudah menggariskan seseorang untuk menjalaninya. Jangan mencoba lari karena itu hanya akan membuat kamu tersesat. Hadapi dan nantikan saja, apa yang menunggu mu di ujung perjalanan.
__ADS_1
Bersambung 💖
jangan lupa berikan dukungan untuk Author, dengan cara memberikan kembang kopi ðŸ¤ðŸ¤£ðŸ¤£i love you readers.💖