Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.66


__ADS_3

Pagi ini Alvino terbangun dan mendapati sang istri sudah rapi dengan jelana jeans dan kemeja putih. Ia pun segera bangkit, seraya mengucek mata ia menghampiri sang istri.


"Hey kamu mau kemana pagi-pagi seperti ini?"


Aliya yang sedang duduk di depan meja riasnya, mendogakkan kepala melihat Alvino. "Ke kampus, aku mau berkonsultasi dengan dosen tentang skripsi ku, mumpung hari ini masih libur magang."


Alvino nampak terkejut saat mendengar ucapan Aliya. "Kok kamu tidak pernah bilang? Hey, kamu mulai menyembunyikan sesuatu dari ku."


Aliya kembali menghembuskan napas panjang, lalu berdiri dari posisinya menatap sang suami dengan serius. "Bukan menyembunyikan, tapi dosennya baru membalas chat ku pagi ini, Mas. Dia hanya punya waktu hari ini jadi aku harus datang ke sana."


"Dosennya laki-laki?"


Astaga ini suami kok sensitif banget sih, batin Aliya.


"Iya, laki-laki. Sangat tampan, lulusan terbaik di Stanford university, mapan dan poin terpenting dia masih single," ucap Aliya yang sepertinya memang sengaja ingin membuat suaminya semakin panas.


Alvino menatap sang istri dengan tak percaya. "Hah, kau benar-benar suka melihat aku menggila. Aku akan menemani kamu ke kampus, kalau perlu aku ikut masuk."


"Mana bisa, lagi pula Mas sudah janji akan menemui Papa pagi ini kan? Aku hanya sebentar kok, tidak akan lama."


"Kalau begitu aku antar kamu, ayo." Alvino menarik tangan Aliya, namun Aliya langsung menarik tangannya kembali.


"Mas kamu mau pergi mengantar ku? Kamu bahkan tidak memakai baju dan hanya memakai celana pendek motif lumba-lumba, kamu sehat?"

__ADS_1


"Kamu yang buat aku gila tau! Ah sudahlah kalau begitu aku mandi sebentar kamu tunggu di sini."


Aliya menggelengkan kepalanya perlahan. "Aku harus pergi sekarang, karena aku berjanji akan bertemu dengan dosen ku jam tujuh pagi. Mas tenang saja, aku tidak menyetir sendiri kok, aku naik taksi."


Aliya mencium tangan sang suami lalu melangkah cepat meninggalkan kamar itu.


Alvino segera menyusul lalu berhenti di ambang pintu kamar. "Aku akan menjemput kamu nanti, jangan coba-coba pulang sendiri!" seru Alvino saat sang istri melangkah menuju pintu keluar. Aliya tidak mengucapkan apapun dan hanya memberikan kode dengan jari, bahwa ia setuju.


~


Pukul delapan pagi, Alvino sudah sampai di kediaman kedua orangtuanya. Saat masuk kedalam, kedua orangtuanya dan kedua adiknya Viona dan Alvina sedang sarapan bersama.


"Kak, ayo sarapan," sahut Alvina kepada saat melihat kedatangan sang Kakak.


Alvaro menoleh kearah sang putra sambil tersenyum miring. "Kamu jangan meremehkan orang tua, nanti kalau kamu sudah tua, kamu juga akan merasakannya."


"Datang-datang langsung ngeledek, kualat baru tau Lo," sahut Viona kepada Alvino yang duduk di sampingnya.


"Idih siapa yang ngeledek, orang cuma nanya, Ma liat Yona deh, sok dewasa sekali dia," ucap Alvino sambil memasang wajah sedih yang di buat-buat.


Seluruh anggota keluarga nampak tertawa. Begitu juga dengan Alvaro, sepertinya ia sudah begitu lama tidak melihat Alvino bergurau seperti ini dan semua itu karena kehadiran Aliya di hidup sang putra.


"Hey kenapa sudah jangan meledek, Alvino kamu mau nasi goreng?" tanya Arumi kepada sang putra.

__ADS_1


"Tidak usah, Ma. Aku sudah sarapan tadi," ucap Alvino lalu meneguk segelas air putih yang ada di hadapannya.


"Kalau kamu sudah selesai, temui Papa di perpustakaan," ucap Alvaro lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan makan tersebut.


"Kak mau ngomongin apa sih? Pasti setiap kesini, Papa mau bicara empat mata sama Kak Vino," ujar Vina yang merasa penasaran.


Alvino menyongkan tubuhnya menatap sang adik yang duduk di hadapannya. "Anak kecil tidak boleh tau." Ia terkekeh sendiri lalu beranjak pergi menyusul sang Papa.


Vina memandangi kepergian sang Kakak dengan tatapan kesal. "Ih ngeselin!"


~


Alvino yang baru saja masuk kedalam perpustakaan, langsung menghampiri sang Papa yang tengah berdiri sambil memandangi foto keluarga yang terpajang di sana.


"Papa selalu saja memandangi foto ini, apa ada masalah lagi?" tanya Alvino saat berdiri di samping Papanya.


"Tidak, Papa hanya merindukan momen di mana semua nampak baik-baik saja. Kamu selalu mengatakan bahwa dirimu bahagia, meski sebenarnya sudah hancur sejak lama."


Alvino ikut memandangi foto keluarga berukuran besar itu. Di dalam foto itu ada kedua orangtuanya, ia bersaudara, Naya dan juga Shela. "Maafkan Aku, Pa. Tapi sebentar lagi aku akan mengakhiri semuanya setelah operasi Naya sukses dan dia kembali sehat."


Alvaro mencengkram erat kedua tangannya. Rasanya ia tidak sanggup untuk menceritakan fakta yang ia ketahui baru-baru ini. Ia tidak siap untuk melihat putranya kembali hancur. "Ya, baiklah. Semoga saja operasinya berjalan lancar. Jaga Naya baik-baik selama berada di sana."


Alvino menoleh sambil tersenyum, ia pun sudah tidak sabar untuk melihat Naya sembuh dan kembali ceria. "Tentu saja, Pa. Aku akan berangkat besok siang."

__ADS_1


Bersambung 💖


__ADS_2