Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.21


__ADS_3

"Tapi kau malah secara terang-terangan membawa dia kehadapan semua teman-teman mu, di mana rasa empati mu, hah! Apa kau pikir Naya akan baik-baik saja jika ia tahu wanita yang paling dia sayangi mencintai pria lain! Kamu sudah menghancurkan ku, hingga aku menyerah berjuang untuk hubungan kita, tapi tidak bisakah kau menunggu sebentar lagi, setelah operasi Naya selesai, kamu boleh pergi, silahkan."


Rapuh...


Rapuh...


Alvino yang dulu selalu bersikap tegas di hadapan Shela, hari ini menunjukkan sisi rapuhnya. Air matanya tak henti mengalir karena rasa kecewa yang sudah keluar batas.


Hatinya sudah seolah telah karam, karena sebuah penghianatan yang ia balas dengan pengkhianatan juga, ternyata tidak juga berhasil membuatnya baik-baik saja.


Alvino merasa, saat ia mencoba membalas dengan satu pukulan, sang istri seolah terus memberikan pukulan demi pukulan telak hingga ia tidak bisa lagi menopang segalanya.


"Mas, tidak akan ada yang tau. Di pesta itu semua hanyalah teman-teman ku, mereka tidak akan menyebarkan," Shela masih saja berusaha untuk membela dirinya.


"Apa kamu bilang, tidak akan ketahuan? Lalu bagaimana bisa fotomu dengan si brengsek itu ada di sebuah berita online! Kau tau apa dampaknya yang akan akan kau timbulkan jika semua terbongkar? Perusahaan keluarga mu akan aku hancurkan!"


"Mas, hentikan! Kau pikir aku tidak tersiksa hah, aku sangat tersiksa terus bersama mu, kau pria tidak berperasaan, dan aku menyesal karena sudah menikah dengan mu dan melahirkan Naya!"

__ADS_1


Paaakk!


Satu tamparan mendarat tepat di wajah Shela. "Kau boleh mengatai aku seperti apapun yang kamu mau, tapi tidak dengan Naya. Dia adalah putri ku, separuh napas ku. Berani-beraninya kau bilang menyesal telah melahirkan dia, Ibu macam apa kau hah. Setidaknya jika kamu gagal menjadi seorang istri yang baik, kamu harus tetap menjadi Ibu yang baik untuk Naya!"


Shela tidak bisa berkata-kata. Ia terlalu emosional hingga tanpa sadar mengucapkan kata-kata itu. Karena tak ingin terus berdebat dengan Alvino, ia memilih untuk membantu pria selingkuhannya yang tersungkur di lantai, bangkit.


Tanpa memperdulikan Alvino, Shela memapah pria selingkuhannya masuk kedalam salah satu unit apartemen.


"Aaakkk!" Alvino menghantam tembok dengan kepalan tangannya beberapa kali, karena semua perasaan kecewa kini seolah menghujaninya. Tangannya nampak mengeluarkan darah karena terus memukul tembok


Tubuh yang lelah itu jatuh terduduk bersandar di tembok koridor. Ia tertunduk karena air matanya yang tak juga berhenti mengalir.


Aliya merasa iba saat melihat Alvino sedang dalam keadaan begitu hancur, perlahan ia mundur dan berbalik hendak pergi dari tempat itu.


Tetapi lagi-lagi hati dan logikanya tak sejalan. Ia kembali berbalik dan melangkah cepat menghampiri Alvino. Sesampainya di hadapan Alvino, ia segera bersimpuh agar bisa melihat wajah Alvino dengan lebih jelas.


"Tuan, Anda baik-baik saja?" tanya Aliya lirih.

__ADS_1


Kepala yang tadinya tertunduk, kini perlahan terangkat dan melihat siapa yang sedang berada di hadapannya. "Kau ...."


"Apa anda baik-baik saja?" Aliya kembali mengulang pertanyaannya, saat melihat wajah tampan itu di basahi air mata.


"Aliya, apakah pernah merasa sehancur ini. Aku sudah lelah berjuang untuk hati yang memperjuangkan orang lain, tapi saat aku berusaha membalasnya, kenapa dia masih saja menghancurkan perasaan ku. Apa kau tau, dia ... dia bilang menyesal menikah dengan ku dan melahirkan Naya." Dengan tatapan datar, air mata Alvino kembali berjatuhan.


Entah kenapa Aliya tidak bisa menahan air matanya, ia ikut meneteskan air mata karena merasa iba dengan situasi yang di hadapi Alvino. Akhirnya ia tahu kenapa selama ini Alvino memilih untuk mencari pelampiasan di bandingkan setia dengan pasangan.


Aliya meraih tangan Alvino yang begitu banyak mengeluarkan darah lalu ia balut dengan cardigan yang ia pakai. "Anda akan baik-baik saja, hari ini anda hancur. Tapi besok anda akan kembali menjadi Alvino yang kuat. Tidak apa-apa jika seluruh dunia menghianati Anda, karena saya akan terus berdiri di belakang Anda, untuk membantu Anda menopang segalanya. Keluarkan semua rasa sakit itu hingga tidak lagi tersisa."


Aliya yang sudah selesai mengikat luka di tangan Alvino langsung memeluk pria itu dan menngusap punggungnya perlahan.


Di pelukan Aliya, Alvino kembali menumpahkan rasa sakitnya, ia kembali menangis tanpa suara. Ia ingin mebuang semua perasaan hancur yang ia pendam selama ini, dan berharap esok hari ia bisa kembali bangkit menjadi sosok dirinya yang sebenarnya.


Bersambung.


Jangan lupa berikan dukungan untuk Author ya...

__ADS_1


Author mau merekomendasikan novel lagi nih.



__ADS_2