Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.71


__ADS_3

"How is my child doing? (Bagaimana kondisi anak saya?)" tanya Alvino saat menghampirinya seorang dokter yang keluar dari ruangan operasi.


"Naya's condition is very good and the operation went very smoothly. Soon Naya will be transferred to the treatment room and will wake up in twenty-four hours (Kondisi Naya sangat baik dan operasi berjalan dengan lancar. Sebentar lagi Naya akan di pindahkan ke ruang perawatan dan akan sadar dalam waktu dua puluh empat jam ke depan."


Mendengar penjelasan sang dokter beban yang sejak tadi berada di kepala Alvino kini terhempas sudah. Begitu juga dengan Shela yang nampak bersyukur karena semua berjalan dengan lancar.


~


Pukul sepuluh malam waktu Melbourne Australia Naya sudah di pindahkan ke ruangan perawatan. Meski operasi berjalan dengan lancar, bocah kecil itu kini belum sadarkan diri.


Masih begitu banyak selang dan juga alat medis lainnya yang memenuhi sekujur tubuh Naya. Alvino menggenggam tangan Naya dengan mata berkaca-kaca. "Cepat sadar, sayang. Daddy ada di sini untuk kamu."


Saat Alvino dengan setia duduk di samping Naya. Shela malah membaringkan tubuhnya di sofa seraya memejamkan mata. Ia merasa begitu lega karena operasi ini berjalan dengan lancar tanpa ada drama kekurangan darah.


Shela merasa sudah menang atas semua yang ia khawatirkan selama ini. Sesuai rencana setelah ini ia akan meminta cerai dan mendapatkan harta gono-gini lalu menikah dengan kekasihnya.


Namun sepertinya semua yang ada di benak Shela itu hanya akan menjadi mimpi yang semu dalam beberapa jam dari sekarang.


~


Di sebuah ruangan di Mansion keluarga Wilson. Alvaro berdiri di depan jendelanya dengan ponsel yang menempel di telinga.


"Bagaimana, apa operasi Naya berjalan dengan lancar?"


[Iya, Tuan. Saat ini Nona Naya sudah di pindahkan ke ruangan perawatan, lalu apa yang harus saya lakukan sekarang, Tuan?]


"Lakukan seperti rencana kita sebelumnya. Minta dokter Alves untuk memberikan hasil tes DNA itu kepada Alvino. Aku rasa sudah saatnya dia mengetahui semuanya, karena sekarang operasi Naya sudah berjalan dengan sukses."


[Baik, Tuan. Akan saya kabarkan perkembangan selanjutnya.]


Alvaro mematikan panggilan telepon itu. Ia menatap nanar keluar jendela. Entah perasaan apa yang ia rasakan saat ini, meski bukan ia yang mengalami tapi rasa sakit itu seolah ikut membelenggunya.

__ADS_1


Berat memang, tapi bagi Alvaro lebih baik sang putra tahu dari orang lain dari pada ia yang mengatakannya sendiri. Ia tidak sanggup jika harus melihat sang putra kembali hancur untuk kesekian kali di depan matanya.


~


Pagi ini Alvino terbangun dalam kondisi duduk di samping Naya. Genggaman tangannya tidak pernah lepas sejak malam tadi. Ia melihat sang putri yang masih saja belum sadar pagi ini.


"Mas, aku mau turun untuk mencari sarapan. Kamu mau sesuatu?" Shela menghampiri Alvino seraya memasang jaketnya.


"Tidak ada, pergilah," ucap Alvino tanpa menoleh kearah Shela.


Shela pun tidak mau ambil pusing. Ia berjalan dengan riang gembira keluar dari ruangan tersebut. Bertepatan dengan itu juga, seorang perawat masuk untuk memeriksa kondisi Naya.


"Excuse me sir. I want to check on Naya's condition (Permisi Tuan, saya mau memeriksa kondisi Naya)" ucap perawat itu kepada Alvino.


Alvino pun langsung menyingkir dari tempat duduknya dan membiarkan perawat itu memeriksa kondisi Naya. Saat tengah memeriksa kondisi Naya, perawat itu kembali berbalik melihat Alvino. "The doctor calls you to meet in the room now, he says he has something to say. (Dokter memanggil Anda keruangan. Katanya ada yang ingin di sampaikan)"


"Oh okey." Alvino pun melangkah dengan cepat keluar dari ruangan itu karena dia tahu pasti ia di panggil untuk membicarakan kondisi Naya.


Alvino melangkah masuk keruangan Dokter Alves dan langsung duduk di hadapannya. "What would the Doctor want to talk to me about? (Apa yang ingin Dokter bicarakan dengan saya?)"


Dokter itu menghembuskan napas panjang kemudian menyodorkan sebuah amplop besar kepada Alvino. "Mr Alvaro Wilson, asked me to match your DNA with Naya. But the result is quite surprising to me (Tuan Alvaro Wilson meminta saya untuk mencocokkan DNA Anda dengan Naya. Tapi hasilnya benar-benar membuat saya terkejut."


Alvino nampak mulai bingung dengan ucapan dokter tersebut. "What exactly are you talking about? (Sebenarnya apa yang Anda bicarakan?)"


Alvino meraih amplop itu dan langsung mengeluarkan secarik kertas di dalamnya. Ia nampak begitu serius membaca hasil tes DNA yang di berikan oleh dokter itu.


Hingga sedetik kemudian wajahnya mulai nampak pucat. Seolah tidak bisa menerima semua data yang ia ketahui saat ini. "This is crazy, this must not be true! (Ini gila, ini pasti tidak benar!)"


"We don't force you to believe but this is a fact that we have obtained. Naya is not your biological daughter (Kami tidak memaksa Anda untuk percaya tapi inilah fakta yang kami dapatkan. Naya, bukan anak kandung Anda.)


Sekujur tubuh Alvino bergetar hebat. Ia meremukkan kertas itu di genggaman tangannya lalu beranjak pergi dari ruangan dokter tersebut.

__ADS_1


Jika saat mengetahui Shela mengkhianati Pernikahan mereka, Alvino masih bisa bertahan dengan segala perasaan hancur yang mendominasi hati.


Maka kali ini ia benar-benar hancur saat satu-satunya harapan yang ia punya ternyata bukanlah darah dagingnya.


Alvino keluar dari rumah sakit tersebut. Langkahnya terhenti ketika dari kejauhan ia melihat Shela sedang berjalan dengan kedua tangan memegang makanan dan minuman.


Kamu benar-benar menipu ku sejauh ini. Apa tidak cukup semua pukulan yang telah kamu berikan padaku beberapa waktu lalu, kenapa Naya juga harus menjadi bagian dari kebohongan mu, batin Alvino.


"Mas, kok kamu keluar sih. Naya siapa yang nungguin?" tanya Shela saat menghentikan langkahnya tepat di hadapan Alvino.


Alvino yang tadi tenggelam dalam lamunannya sendiri kini beralih menatap Shela dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "A-apa benar ... Naya bukan putri kandung ku?"


Deg.


Kaki Shela seolah tak bisa lagi menopang tubuhnya. Ia menjatuhkan kopi dan makanan yang ia beli hingga berceceran di tanah. "Apa yang kamu katakan sih, Mas."


"Jawab aku!!" seruan Alvino menggema hingga membuat orang-orang yang berlalu lalang melihat kearahnya.


Shela menelan salivanya dengan sekuat tenaga. Ia menyerah, karena tidak lagi punya alasan untuk mengelak semua kenyataan itu. "Iya, Naya memang bukan putri kandung kamu."


Seperti ada ribuan anak panah yang menghantam hati Alvino di waktu yang bersamaan. Ia bahkan tidak bisa lagi memaki dan berteriak kepada Shela.


Kenyataan ini benar-benar mematikan harapan yang sudah Alvino bangun setelah fakta pengkhianatan. Kepalanya tertunduk, perlahan ia berbalik, melangkah dengan gontai menjauh dari Shela.


Melihat Alvino pergi begitu saja, Shela pun melangkah dengan cepat, meraih tangan sang suami, hingga Alvino kembali berbalik melihatnya. "Mas, aku bisa menjelaskan semuanya. Aku tidak sengaja dan saat itu aku benar-benar khilaf hingga aku sadar jika aku hamil. Aku ingin menjelaskan padamu sejak lama tapi kamu terlihat begitu senang ketika mengetahui aku hamil, jadi aku memutuskan untuk merahasiakan semuanya."


Alvino menarik tangannya dari genggaman tangan Shela. Di tatapnya sang istri dengan seluruh rasa kecewa yang memenuhi hati dan pikirannya. "Aku tidak mau mendengar apapun lagi dari mu. Sekarang kamu bisa pulang. Kamu tau kan kantor pengadilan di mana? Akhiri semuanya aku lelah."


Bersambung 💖🥰


Jangan lupa berikan dukungan untuk author.... okey gaesss.

__ADS_1


__ADS_2