
Aliya baru saja terbangun dari tidurnya, ketika lagi-lagi perutnya terasa begitu mual. Ia berlari menuju wastafel kamar mandi dan langsung memuntahkan semua isi perutnya.
Setelah selesai ia kembali melangkah lemas menuju tempat tidur, di mana sang suami masih terlelap. Ya, jam masih menunjukkan pukul lima pagi.
"Mas, bangun."
Perlahan Alvino menggeliat lalu menoleh kesamping, di mana istrinya berada. Ia tersenyum dengan mata yang masih belum terbuka sempurna karena pagi ini kembali melihat wajah cantik istrinya. "Kenapa sayang, kamu mau lagi?"
Aliya kembali berbaring dan memeluk suaminya. "Mas, aku lapar. Belikan aku bubur ayam ya, sekarang."
"Hah, sepagi ini? Tapi sayang ...." Alvino segera menghentikan ucapannya, karena ia kembali mengingat pasal pertama dan kedua yang ia buat sendiri saat mengetahui istrinya sedang hamil. "Ya ... ba-baiklah, aku keluar sekarang."
Kecupan singkat mendarat di kening Aliya. Alvino memakai pakaiannya lalu melangkah keluar dari kamar hotel. Sebagai seorang suami siaga, ia harus selalu siap memenuhi semua keinginan sang istri meski kadang ia masih saja merasa kaget.
Sesampainya di lantai bawah, Alvino langsung pergi menuju Buffett restoran, dimana biasanya orang-orang yang menginap di hotel pergi untuk sarapan pagi.
Sesampainya di sana, meja-meja plasmanan masih nampak kosong, belum ada makanan yang tersedia. Hanya ada beberapa pelayan hotel yang sibuk berlalu lalang di hadapannya.
"Apa aku harus mencari di luar ... ah pasti jam segini juga belum ada yang buka." Ia pun tak putus asa, langkahnya berlanjut hingga ke dapur hotel yang tidak jauh dari tempat itu.
"Mr. Alvino," ucap seorang chef restoran yang sudah pasti tahu siapa laki-laki yang baru saja masuk ke dapurnya. Chef itu berkulit putih dengan mata biru menyala, sepertinya keturunan asli Eropa yang di import langsung untuk menjadi chef di hotel tersebut.
"Hey you, what's on the breakfast menu today? (Hey kamu, apa menu sarapan hari ini?)" tanya Alvino yang setelahnya kembali melihat jam di pergelangan tangannya, seolah tidak tenang dan cenderung panik.
"Today, spaghetti carbonara, pasta, and more, (Hari ini, spaghetti carbonara, nasi goreng dan masih banyak lagi.)"
Alvino terlihat kebingungan karena ia yakin, Chef itu akan memasak menu western pagi ini. "Help me, my wife wants to eat chicken porridge. Can you make? (Tolong saya, istri ku ingin makan bubur ayam. Apa kamu bisa membuatnya?)"
__ADS_1
"Oh of course, special for your wife (Tentu saja, spesial untuk istri Anda."
"Oke Thanks."
Akhirnya Alvino bisa bernapas lega karena pagi ini permintaan sang istri bisa ia kabulkan dengan cara yang mudah. Andai ia bukan anak dari pemilik hotel, mungkin ia hanya di usir dari dapur tersebut.
Tangannya meraih handle pintu kamar, saat melangkah masuk kedalam, ia bisa melihat sang istri yang hanya mengenakan ****** ***** dan kemeja kebesaran miliknya sedang berdiri di balkon kamar.
"Kenapa semakin kesini, dia semakin seksi saja," gumam Alvino. Ia melangkah menghampiri sang istri dengan santainya. "Sekarang kamu suka sekali berpenampilan seksi seperti ini, ingin menyiksa ku hem?"
Dari belakang Alvino menyibak rambut sang istri dan langsung mendaratkan satu ciuman di leher jenjang itu. "Aku merasa hasrat ku semakin menggebu karena ke agresifan mu."
Aliya terlihat tertawa kecil, seraya membelai kepala sang suami yang bertumpu di pundaknya. "Sepertinya bayi kita ini, memang calon Albino seperti kamu Mas. Aku juga bingung dengan diri ku sendiri kenapa aku seperti ini. Aku hanya muntah di pagi hari dan setelah itu aku baik-baik saja, aku makan dengan baik dan tidur dengan nyenyak."
Tangan Alvino mengelus perut sang istri yang sudah sedikit menonjol meski belum terlihat jelas. "Anak ku tidak akan pernah menyiksa ibunya." Tangan nakal Alvino kembali menelusup masuk ke dalam cela ****** ***** Aliya. "Kau basah sayang, apa kamu mau lagi?"
"Hufft, baiklah. Aku akan menahannya. Aku pikir sebaiknya kita segera pindah ke rumah baru." Alvino berbalik kembali ke kamar di susul oleh Aliya.
"Kenapa kita tidak tinggal di rumah lama kamu saja Mas, sayang kan kosong. Aku suka taman di sana, kolam renangnya juga bagus, boleh?" tanya Aliya yang menghadang langkah sang suami.
Pertanyaan Aliya membuat ekspresi wajah Alvino seketika berubah. "Rumah itu? Penuh kenangan buruk, aku tidak akan pernah membawa kamu ke tempat bekas orang lain. Aliya, kamu boleh menerapkan sikap toleransi dengan masa lalu ku, tapi jangan lupakan dirimu sendiri. Aku benar-benar sudah keluar dari masa lalu ku, dan ingin fokus memulai hidup baru dengan nuansa baru bersama kamu. Mengerti?"
Dengan lemas Aliya menganggukkan kepalanya. "Ya, maaf. Aku hanya memberi saran tapi kamu langsung marah. Bubur ku mana, aku semakin lapar jadinya, haiss."
Menyadari sang istri sedang dalam mode siaga satu, Alvino pun langsung memasang senyum termanisnya. "Ehm, maaf Ayank. Aku tidak bermaksud seperti itu. Sebentar lagi buburnya akan datang. Kamu bisa mandi dulu, apa ingin aku temani?"
"Tidak usah aku bisa sendiri." Aliya melangkah seraya menghentakkan kakinya menuju kamar mandi.
__ADS_1
Alvino menghela napas berat seraya memandangi kepergian sang istri. "Huft, dia masih saja suka membahas Shela dan semua hal yang menyakut masalalu ku, kadang aku ragu apa dia benar-benar sudah mencintai ku. Aliya, kamu terlalu polos dan juga terlalu baik."
~
Setengah jam Aliya berada di kamar mandi. Ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi dengan handuk kimono yang sudah membalut tubuh polosnya.
"Buburnya sudah datang, ayo kita sarapan," ucap Alvino seraya menuntun sang istri duduk di sebuah sofa yang ada di kamar tersebut. "Bubur ayam ini buatan Chef utama di restoran hotel ini. Cobalah."
Aliya tersenyum saat merasakan bau rempah khas bubur ayam mulai terdeteksi oleh Indra penciumannya. Ia menyedok bubur tersebut, meniup-niupnya sebentar dan langsung melahapnya. "Hem enak, gurih dan pas sekali asinnya."
"Benarkah, kalau begitu aku juga mau coba," ucap Alvino lalu meraih mangkuk berisi bubur miliknya. Ia mengaduk bubur itu hingga tercampur rata."
Tiba-tiba senyum Aliya memudar, matanya pun membulat melihat bagaimana cara sang suami makan bubur. "Mas kamu tim bubur yang di aduk?"
Alvino yang sedang fokus dengan makanannya menoleh melihat sang istri. "Bukannya kalau makan bubur memang harus di aduk?"
"ih aku tidak Mas, aku tim bubur yang tidak di aduk. Kamu tidak sehati nih. Mana enak bubur di aduk rata seperti itu."
Alvino terperangah tak percaya mendengar ucapan sang istri. "Kalau tidak di aduk bulan makan bubur namanya, tapi makan nasi Padang. Pokoknya enakkan di aduk, coba deh."
Alvino hendak mengaduk bubur milik Aliya namun langsung di cegah oleh sang pemilik.
"Jangan coba-coba, kalau masih mau aku tegur malam ini," ucap Aliya dengan nada suara penuh ancaman.
Hay readers, kalian tim ya mana nih hehe. Keep support ya readers 😘
Bersambung 💖🥰
__ADS_1