
Kembali tercekik oleh kenyataan. Ia tidak menyangka jika suaminya itu tahu beberapa aset yang berusaha untuk ia sembunyikan. "Mas, kamu ini Mafia atau apa, kenapa kamu mau menarik semua aset ku?"
"Kenapa? Haha. Kau ini lucu sekali, karena semua itu adalah milik ku. Kamu tahu, aku bisa menjerat kamu dengan banyak pasal yang pastinya bukan hanya membuat kamu tidak mendapatkan apapun tapi kamu juga akan membusuk di penjara."
Mata Alvino nampak memerah, ia mencengkram dagu Shela dengan jari-jari tangan kanannya. "Kamu sudah mencoba bermain-main dengan Alvino Wilson dari belakang. Mulai sekarang cobalah hadapi aku dari depan kalau berani. Kita lihat sejauh apa kamu bisa bertahan dengan semua kesombongan mu, wanita menjijikkan."
Shela tidak bisa berkata-kata. Tatapan mata Alvino saat ini bahkan lebih menyeramkan dari pada saat ia berteriak. Sekujur tubuh Shela nampak bergetar hebat. Karena untuk pertama kalinya ia melihat sosok yang berbeda dari diri sang suami.
Alvino menghempaskan tangannya lalu melangkah pergi dari ruangan itu. Selama ini ia begitu percaya bahwa kelak hubungannya dengan Shela pasti bahagia.
Tetapi bukanlah kebahagiaannya yang ia dapatkan, melainkan ia di tipu berkali-kali karena terlalu percaya dengan harapannya sendiri. Ya, terkadang cinta memang membuat seseorang buta dengan kenyataan. Namun sekarang sudah tidak lagi, tidak ada lagi alasan untuk Alvino menahan diri.
Shela terduduk lemas di lantai rumah sakit. Rasa penyesalan atas semua keserakahan akhirnya mulai muncul ke permukaan. Ia terlalu menganggap remeh keadaan hingga tanpa sadar merusak hidupnya yang dulu begitu luar biasa namun kini tiada guna.
~
__ADS_1
Alvino yang baru saja keluar dari gedung rumah sakit duduk di sebuah kursi taman yang ada di halaman rumah sakit mewah tersebut. Pikirannya yang sedang kacau membuat ia ingin menghirup udara segar meski sebentar.
Baru saja ia menyadarkan tubuhnya, ponselnya tiba-tiba saja berdering tanda panggilan masuk. Ia pun mengerutkan keningnya saat melihat nomor yang tertera di layar adalah nomor yang tidak di kenal.
Karena penasaran Alvino memutuskan untuk menerima panggilan telepon itu. "Hallo, siapa ini?"
[Aku datang, Mas. Temui aku di depan sekarang ya.]
Mendengar suara itu sontak Alvino langsung berdiri dari posisinya. "Aliya, ini kamu?"
Alvino segera beranjak pergi, dengan ponsel yang masih menempel di telinga dan mata yang terus mencari keberadaan sang istri. "Kamu benar-benar di Melbourne? Aku sudah di depan rumah sakit. Kamu tidak membohongi aku kan."
"Mas, aku disini."
Alvino langsung berbalik ketika mendengar suara itu terdengar tepat di belakangnya. Ia tidak bisa berkata-kata, namun mata yang semakin memerah dan berkaca-kaca mampu mengungkapkan segalanya. "Aliya."
__ADS_1
Mendengar Alvino menyebut namanya, Aliya kembali tersenyum dengan mata yang juga ikut berkaca-kaca karena akhirnya bisa bertemu sang suami yang sangat ia rindukan. "Mas, aku datang. Apa kamu baik-baik saja."
Tanpa pikir panjang, Alvino melangkah cepat dan langsung memeluk Aliya. "Aku sedang tidak baik-baik saja. Terimakasih karena sudah datang."
Suara isakan tangis Alvino terdengar lirih. Hal itu membuat Aliya tidak bisa membendung air matanya. "Tidak apa-apa, kamu akan baik-baik saja. Ingat, meski seluruh dunia meninggalkan kamu, masih ada aku yang berdiri di belakang mu. Bersandarlah hanya kepada ku, Mas. Kita hadapi semuanya bersama-sama."
Alvino tidak sanggup untuk bicara walau satu kata. Di pelukan Aliya ia menumpahkan segala kepedihannya. Saat ia bisa menutupi semua yang ia rasakan dari semua orang, namun di sisi Aliya ia meluap semua yang ia rasakan. Karena Aliya adalah sandaran terhebatnya.
'Layaknya sebuah gelas yang telah retak, masih saja berusaha untuk di genggam sekuat yang ia bisa. Namun apa yang ia dapatkan, apakah sesuatu itu akan kembali seperti semula? Tentu saja tidak, semakin kuat ia menggenggam, maka gelas itu semakin retak lalu lama kelamaan akan hancur berkeping-keping dan akhirnya melukai tangan yang telah menggenggamnya.'
Bersambung 💖
Jangan lupa berikan dukungan kalian untuk author ya hehehe.
__ADS_1