
Aliya melangkah cepat menyusuri koridor rumah sakit. Setelah mendapatkan kabar dari sang suami bahwa Shela jatuh dan di rawat ke rumah sakit ia pun langsung pergi.
Nomor demi nomor ruangan rumah sakit terus Aliya perhatikan sampai akhirnya ia menemukan kamar yang ia cari. Tanpa menunda waktu ia langsung masuk kedalam.
"Mas, bagaimana keadaan Nona Shela?"
"Gegar otak ringan, Dokter bilang kondisinya baik-baik saja, tadi aku sempat kaget ketika kepalanya mengeluarkan darah tapi ternyata itu hanya luka biasa. Apa Naya sudah sampai ke Mansion?"
"Iya sudah, tadi dia langsung memeluk ku sambil menangis."
"Naya pasti trauma karena perlakuan Mommynya, aku benar-benar tidak tau lagi harus melakukan apa kepada Shela yang keras kepala dan egois ini."
Aliya menghela napas lega ketika mendengar pernyataan Alvino. Perlahan ia mendekati Shela yang saat ini belum sadarkan diri. "Nona Shela pasti punya alasan kenapa dia ingin membawa Naya, Mas."
Alvino pun ikut mendekat dan langsung merangkul Aliya. "Kamu masih saja memperdulikannya setelah apa yang dia lakukan kepada mu? Aku sudah menelepon keluarganya, setelah mereka datang kita bisa pergi."
Aliya menoleh menatap sang suami dengan wajah cemberutnya. "Kamu jangan berkata seperti itu, Mas. Mau bagaimanapun, kamu masih suaminya."
"Memang masih, tapi sebentar lagi dia bukan lagi tanggung jawab ku, karena secara agama aku telah memutuskan ikatan itu."
Aliya tidak bisa lagi berkata-kata ketika mendengar ucapan sang suami. Tadinya Aliya sempat berpikir setelah semua kejadian ini sang suami akan menunda perceraian tersebut tetapi Alvino benar-benar tidak gentar dengan keputusannya.
Di tengah obrolan sepasang suami istri itu tiba-tiba saja perlahan tangan Shela mulai bergerak dan matanya mulai terbuka.
"Ma-mas Nona Shela sudah sadar."
"Aku akan memanggil dokter, kamu temani dia disini." Alvino segera melangkah pergi meninggalkan ruangan itu, sementara di sana masih ada Aliya yang nampak kebingungan karena Shela terus menatapnya.
Ya, Aliya masih merasa kurang nyaman setelah pertengkarannya dengan Shela kemarin. "Ehm, Anda baik-baik saja ... apa kepala Nona terasa sakit."
"Ya sedikit," lirih Shela.
Suasana hening sesaat karena Aliya tidak tahu harus bicara apa.
"Aliya," panggil Shela dengan suara yang begitu lirih.
__ADS_1
"Ya Nona, apa Anda butuh sesuatu?"
Tiba-tiba saja mata Shela mulai berkaca-kaca. " Kenapa kamu masih saja perduli dengan ku, setelah apa yang aku lakukan padamu?"
"Itu ... karena saya menghormati Anda. Sejak awal saya bertemu dengan Anda, saya tahu sebenarnya Anda adalah orang yang baik tapi keadaan lah yang membuat Anda seperti ini. Saya minta maaf atas ucapan saya di restoran waktu itu. Ya Anda benar, walau bagaimana pun berhubungan dengan seorang pria yang telah menikah itu tetaplah sebuah kesalahan."
Tangan Shela bergerak perlahan menepuk-nepuk punggung tangan Aliya. " Seharusnya aku yang minta maaf. Kamu tau, setelah terjatuh dari tangga aku bermimpi sangat panjang, aku bertemu Ayah kandung ku. Dan kamu tau aku di marahi olehnya dan dia memintaku untuk melepaskan semua ini, selama ini Ibu ku dan Papa tiri ku memaksa ku untuk menjalani hidup yang tidak aku inginkan, aku tersiksa Aliya, aku juga tidak tahu kenapa aku menjadi seperti ini."
Melihat Shela yang tiba-tiba saja menangis terisak-isak, membuat Aliya kembali panik. Ia menoleh kearah pintu dan dokter belum juga datang. "Nona tenang, jangan menangis. Semua akan baik-baik saja, saya sudah memaafkan Anda Nona."
Klek.
Pintu ruangan itu terbuka, akhirnya Alvino kembali bersama seorang dokter dan juga perawat. Aliya pun segera mundur agar dokter dan perawat itu lebih leluasa untuk memeriksa kondisi Shela.
"Kenapa dia menangis?" tanya Alvino.
"Katanya Nona bertemu dengan ayahnya dalam mimpi. Kasian sekali Mas, aku tidak tega," jawab Aliya dengan mata berkaca-kaca.
Alvino pun segera merangkul sang istri untuk menenangkannya. "Kamu tenang saja, dia akan baik-baik saja."
Setelah pemeriksaan selesai, Dokter dan perawat itu melangkah pergi meninggalkan ruangan. Alvino yang terus menggandeng tangan Aliya melangkah menghampiri Shela.
"Kamu tidak usah banyak pikiran, fokus ke pemulihan kondisi mu saja."
Tatapan mata Shela terlihat begitu sendu, saat melihat tangan Alvino terus menggenggam tangan Aliya dengan erat. Penyesalan itu sudah tiada guna, karena apa yang ia paksakan hanya membuat petaka untuk dirinya sendiri.
"Kalian benar-benar saling mencintai?" tanya Shela tiba-tiba.
Alvino melirik Aliya yang saat ini hanya bisa tertunduk di sampingnya. "Maafkan aku Shela, tapi aku benar-benar mencintainya dan aku harus melepaskan kamu."
Perlahan Shela memejamkan matanya seiring air mata yang mulai membasahi sudut mata. Setelah beberapa saat ia kembali membuka mata lalu memandangi Alvino dan Aliya secara bergantian. "Aku sudah ikhlas, Mas. Ceraikan aku agar kita sama-sama lepas dari beban yang membelenggu kita selama ini."
Deg.
Sontak Aliya langsung menegapkan kepalanya, menatap Shela dengan tatapan tak percaya. "No-nona, Anda ...."
__ADS_1
"Tidak apa-apa Aliya, sudah cukup selama ini aku memaksakan diri hanya demi harta dan tahta. Kamu benar, kamar ku di penuhi dengan barang-barang mewah tapi aku tidak pernah bahagia dengan semuanya, aku hanya serakah."
Klek.
Pintu ruangan kembali terbuka, seorang wanita paruh baya yang nampak begitu berkelas masuk dan melangkah cepat menghampiri Shela.
"Mama," ucap Shela.
Wanita paruh baya itu langsung mengangkat tangannya tinggi ke udara dan--
Paakkk!
Satu tamparan mendarat tepat di wajah Alvino. "Dasar kamu laki-laki kurang ajar. Tidak cukup dengan menarik semua saham perusahaan keluarga mu, kamu juga mencelakai Shela dan membawa wanita murahan ini kesini!"
Ya, wanita paruh baya itu adalah Mama Shela.
"Anda salah paham Nyonya, Mas Alvino tidak salah apa-apa," sahut Aliya yang nampak begitu kaget.
"Diam kau ja*Lang! Aku tidak bicara dengan mu," sungut Mama Shela.
"Ma cukup!" sahut Shela sekuat tenaga.
"Shela, kamu sudah gila membiarkan semua ini? Kamu tidak boleh di tindas seperti ini Nak!"
"Aku sudah menyerah Ma, apa bisa sedikit saja Mama mengerti perasaan ku, mengerti apa yang aku Inginkan. Aku tahu selama ini Mama melahirkan dan membesarkan ku bukan karena Mama menyayangi ku tapi karena aku ini aset untuk Mama! Aku hanya alat agar Perusahaan terus berjaya, tapi sekarang sudah cukup Ma, cukup! Aku ingin melepaskan semuanya sekarang."
Wanita paruh baya itu nampak terdiam karena untuk pertama kalinya ia melihat sang putri menangis tersedu-sedu.
"Aliya ayo kita keluar," ucap Alvino lalu menarik tangan Aliya agar melangkah mengikutinya.
Bagi Alvino sekarang urusannya dengan keluarga itu sudah selesai. Bairkan Shela menyelesaikan semua masalah yang ia tahan selama ini.
Bersambung 💖
Lanjut siang ya bestie, malam tadi udah pada tegang ya 🤠Author Alya Aziz tidak akan membuat suatu konflik yang tidak mempunyai jalan keluar ya... terimakasih atas dukungannya 💖
__ADS_1